Jakarta, Humas UNJ – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di tingkat internasional. Tim mahasiswa Program Studi Kimia FMIPA UNJ yang tergabung dalam “Tim Salmonella” berhasil meraih Platinum Award kategori Environmental Science serta Gold Medal pada ajang International Invention and Innovation Competition (I3C) and Innovation World Cup (IWC) 2026 melalui inovasi Indogen Pro Foodborne Pathogen Detection Kit, sebuah perangkat deteksi cepat bakteri patogen penyebab penyakit bawaan pangan.
Ajang International Invention and Innovation Competition (I3C) dan Innovation World Cup (IWC) 2026 mendapat antusiasme yang luar biasa dari para inovator muda dunia. Tahun ini, kompetisi diikuti oleh 211 tim yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan institusi dari sejumlah negara. Dengan masing-masing tim terdiri atas enam anggota, total peserta yang terlibat mencapai sekitar 1.266 orang. Kompetisi internasional tersebut diselenggarakan pada 6 Juni 2026 di Aula Latief Hendraningrat, Kampus A UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Dalam ajang tersebut, Tim Salmonella berhasil menarik perhatian dewan juri berkat inovasi yang menawarkan solusi praktis dan cepat untuk mendeteksi kontaminasi bakteri pada makanan.
Tim ini terdiri atas Shelva Dheavanny, Ikhsandy Alfindo, Hasna Miladi Nabiyya, Patricia Nauly Putri Manurung, Azzahra Cahya Maulida, dan Melinda Pryanti Simamora. Mereka mengembangkan kit deteksi berbasis teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) yang mampu mengidentifikasi keberadaan bakteri patogen dalam sampel makanan hanya dalam waktu dua hingga tiga jam. Kemampuan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan metode kultur konvensional yang umumnya memerlukan waktu hingga 24 jam.
Menurut Ikhsandy Alfindo, kit yang dikembangkan timnya terdiri atas seperangkat reagen khusus yang berfungsi mengekstraksi dan memperbanyak DNA bakteri dari sampel makanan. Melalui pendekatan berbasis analisis DNA, pengguna tidak hanya dapat mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi bakteri, tetapi juga mengidentifikasi jenis bakteri secara spesifik dan mengukur tingkat kontaminasinya.
“Keunggulan utama kit kami adalah kecepatan, sensitivitas, dan spesifisitasnya. Dalam waktu dua hingga tiga jam, pengguna sudah dapat mengetahui apakah makanan mengandung bakteri patogen dan jenis bakterinya secara tepat,” jelas Ikhsandy.

Saat ini, Indogen Pro Foodborne Pathogen Detection Kit telah mampu mendeteksi hingga 17 jenis bakteri patogen penyebab keracunan pangan. Sebanyak 13 kit telah siap digunakan, sementara empat kit lainnya masih dalam tahap pengembangan untuk memperluas cakupan deteksi.
Shelva Dheavanny menjelaskan bahwa inovasi tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung sistem keamanan pangan nasional. Dengan kemampuan deteksi yang cepat, makanan dapat diuji sebelum didistribusikan atau dikonsumsi sehingga risiko kejadian keracunan pangan dapat ditekan secara signifikan.
“Teknologi ini memungkinkan deteksi dini sebelum makanan sampai ke konsumen. Selain itu, kit ini juga dapat digunakan untuk membantu investigasi ketika terjadi kasus keracunan pangan,” ungkapnya.
Keandalan produk ini telah dibuktikan melalui berbagai uji laboratorium dan uji lapangan. Tim peneliti berhasil mendeteksi sejumlah bakteri berbahaya seperti Salmonella typhi, Escherichia coli, Shigella flexneri, dan Vibrio parahaemolyticus dari berbagai sampel makanan. Hasil tersebut menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi dalam mengidentifikasi kontaminasi bakteri patogen.
Lebih jauh, inovasi ini juga telah dimanfaatkan oleh institusi strategis nasional, termasuk Pusat Laboratorium Forensik Polri dan Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri dalam investigasi kasus keracunan pangan pada tahun 2025. Produk tersebut juga telah melalui proses validasi dan memperoleh pengakuan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Pada kompetisi I3C dan IWC 2026, Tim Salmonella mempresentasikan inovasi mereka melalui sistem pameran dan wawancara langsung dengan dewan juri dari Indonesia dan Malaysia. Selain menampilkan produk dan perangkat laboratorium, tim juga memamerkan berbagai publikasi ilmiah, sertifikat penelitian, serta hasil pengembangan teknologi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Nama “Tim Salmonella” sendiri diambil dari bakteri pertama yang menjadi fokus penelitian mereka. Tim ini merupakan bagian dari kelompok riset unggulan di lingkungan UNJ yang telah aktif mengembangkan inovasi bioteknologi sejak awal tahun 2000-an. Berbagai hasil riset yang dihasilkan telah melahirkan paten, publikasi ilmiah bereputasi, serta hak kekayaan intelektual yang memperkuat kontribusi UNJ dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui pencapaian ini, Tim Salmonella berharap inovasi yang mereka kembangkan dapat menjadi solusi deteksi dini untuk mencegah keracunan pangan, memperkuat kemandirian teknologi nasional, serta menunjukkan bahwa inovasi karya anak bangsa mampu bersaing dan memberikan manfaat nyata di tingkat global.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan keamanan pangan Indonesia sekaligus memperkuat daya saing riset nasional di tingkat internasional,” tutup tim peneliti.