Marista Christina Shally Kabelen: Menyulam Filsafat dan Sosiologi di Era Ilmu Sosial Transdisipliner

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Perkuat Kolaborasi Global dengan Filipina…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ – Di tengah era ilmu sosial yang semakin terbuka terhadap pendekatan multidisiplin, interdisiplin, bahkan transdisiplin, hadir sosok Marista Christina Shally Kabelen sebagai cerminan nyata dari pertemuan kreatif antarilmu pengetahuan. Ia adalah dosen Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), yang memiliki latar belakang akademik dalam bidang Filsafat, namun menunjukkan kedalaman keilmuan dalam Sosiologi. Shally, demikian ia akrab disapa, menapaki jalan akademik yang tidak lazim, namun justru memperkaya kontribusinya dalam dunia ilmu sosial.

Shally menyelesaikan pendidikan sarjana di Ilmu Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan magisternya di Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Di dua rumah intelektual (UGM-UI) ini, ia membangun fondasi berpikirnya secara logis, sistematis, dan selalu mempertanyakan asumsi dasar. Namun yang menarik adalah bagaimana ia melanjutkan jalan akademiknya dengan memilih untuk mengajar dan berkarya di bidang Sosiologi. Bukan sekadar menyeberang ke disiplin baru, Shally justru membuktikan bahwa filsafat dan sosiologi dapat bersinergi untuk membaca dan menafsirkan realitas sosial secara lebih mendalam.

Salah satu karyanya yang menjadi bahan ajar dalam ruang perkuliahan adalah buku “Teori Sosiologi Kontemporer”, sebuah karya yang memotret perkembangan mutakhir pemikiran sosiologis dengan sentuhan reflektif yang khas. Buku ini bukan hanya menyajikan teori-teori seperti Foucault, Bourdieu, Baudrillard, Gilles Deleuze & Félix Guattari, Judith Butler, Gayatri Spivak, hingga Christine Delphy secara deskriptif, tetapi mengajak pembaca untuk merenungkan ulang posisi manusia dalam struktur sosial yang terus berubah. Dalam bukunya yang lain, “Sosiologi Agama: Modernitas Agama”, Shally mengeksplorasi bagaimana agama bertransformasi dalam dunia modern, dengan pendekatan kritis yang melampaui dikotomi sakral dan profan.

Kemampuan Shally menyusun karya-karya sosiologis tersebut menjadi bukti nyata bahwa penguasaan filsafat tidak membatasi cakrawala intelektual seseorang. Sebaliknya, latar belakang filsafat memberinya landasan epistemologis yang kuat untuk mengembangkan analisis sosiologis yang reflektif, tajam, dan kontekstual. Ia menyajikan sosiologi tidak sebagai kumpulan teori beku, melainkan sebagai medan kontemplasi yang hidup, dinamis, dan senantiasa terbuka pada pertanyaan-pertanyaan mendasar.

Dalam konteks dunia akademik masa kini, sosok seperti Shally menjadi penting karena menggambarkan bagaimana ilmu sosial berkembang ke arah yang semakin inklusif terhadap pendekatan lintas disiplin. Era keilmuan saat ini tidak lagi dapat mengandalkan spesialisasi yang sempit. Sebaliknya, kompleksitas persoalan sosial menuntut kehadiran perspektif yang holistik. Di sinilah pentingnya memahami perbedaan pendekatan multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin dalam ilmu sosial.

Pendekatan multidisiplin melibatkan berbagai disiplin ilmu yang bekerja pada masalah yang sama namun tetap menjaga metodologinya masing-masing. Dalam hal ini, filsuf, sosiolog, dan ekonom bisa saja meneliti isu kemiskinan dari sudut pandang masing-masing, tetapi tidak saling mengintervensi wilayah keilmuannya. Shally melewati batas ini.

Lalu, pendekatan interdisiplin mulai mempertemukan dan menyilangkan analisis antarilmu. Misalnya, ketika filsafat moral digunakan dalam analisis kebijakan publik, atau ketika teori-teori sosial digunakan untuk merekonstruksi pemikiran etis tentang keadilan. Dalam karya-karyanya, Shally menghadirkan bentuk interdisiplin ini dengan sangat elegan.

Namun yang paling mencolok dari perjalanan intelektual Shally adalah keberaniannya melampaui batas-batas itu, memasuki wilayah transdisiplin keilmuan. Sebuah pendekatan yang mencoba menyusun kerangka kerja baru yang lebih holistik dan integratif. Dalam ranah ini, tidak ada lagi sekat keras antara filsafat dan sosiologi. Yang ada adalah upaya menyatukan keduanya demi memahami kompleksitas manusia dan masyarakat. Shally menapaki jalur ini dengan menjadikan filsafat sebagai etos berpikir, dan sosiologi sebagai medan praksis.

Dalam kesehariannya sebagai pengajar, Shally dikenal tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pemantik pemikiran. Ia mendorong mahasiswa untuk berani berpikir kritis, mempertanyakan kembali apa yang dianggap “biasa”, dan menggali lapisan terdalam dari realitas sosial. Kelas-kelas yang ia ampu tidak jarang berubah menjadi forum diskusi yang memadukan bacaan klasik dan isu kontemporer. Ia mengajak mahasiswanya membaca Durkheim dan Marx, sambil menganalisis fenomena kekerasan simbolik di media sosial atau ritual keagamaan dalam masyarakat urban.

Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa menganggap Shally sebagai inspirasi intelektual. “Bu Shally itu mengajarkan kami untuk berpikir. Bukan hanya tentang teori, tapi tentang kehidupan,” ujar salah seorang mahasiswanya. Pendekatan transdisipliner yang ia bawa mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar alat memahami, tetapi juga merasakan dan mengubah dunia.

Selain mengajar dan menulis buku, Shally juga aktif membimbing mahasiswa dalam penelitian-penelitian yang bersinggungan dengan isu HAM, agama, komunikasi, dan marginalisasi sosial. Ia sering menjadi pembicara dalam forum-forum akademik dan diskusi ilmiah, di mana pemikirannya yang lintas batas selalu memberi perspektif baru.

Di tengah derasnya arus spesialisasi, Shally tampil sebagai pengingat bahwa keberanian untuk berpikir lintas disiplin adalah kunci untuk menjawab tantangan zaman. Ia membuktikan bahwa latar belakang filsafat bukanlah penghalang untuk berkarya dalam ranah sosiologi, dan sebaliknya, menjadi modal berharga untuk merumuskan pendekatan transdisipliner yang kreatif dan reflektif.

Dengan semangat keterbukaan, pemikiran kritis, dan ketekunan intelektualnya, Marista Christina Shally Kabelen menjadi salah satu contoh dosen muda yang melakukan transformasi ilmu sosial di FISH UNJ. Ia menjadi salah satu dosen yang menjembatani bahwa pengetahuan sejati tak mengenal batas-batas disiplin, karena sejatinya, ilmu adalah upaya manusia untuk memahami hidup dalam segala kerumitannya.