
Jakarta, Humas UNJ – Pagi itu, Selasa, 21 April 2026, suasana di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tampak lebih sibuk dari biasanya. Ribuan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer–Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) Tahun 2026 datang di UNJ, membawa harapan untuk menapaki gerbang pendidikan tinggi. Namun di balik hiruk-pikuk itu, ada narasi lain yang mengemuka, yakni tentang bagaimana kampus tidak hanya menjadi ruang seleksi akademik, tetapi juga arena pembelajaran nilai keberlanjutan.
Pelaksanaan UTBK-SNBT di UNJ berlangsung pada 21 hingga 30 April 2026, dengan dua sesi setiap hari, serta tambahan satu hari pada 2 Mei 2026. Skala kegiatan yang besar ini menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam pengelolaan lingkungan kampus. Volume sampah yang meningkat selama kegiatan menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan.
Pada hari pertama pelaksanaan, kehadiran Prof. Brian Yuliarto selaku Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), bersama Prof. Eduart Wolok selaku Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB, serta Prof. Tjitjik Srie Tjahjandarie selaku Anggota Tim Penanggung Jawab SNPMB tidak hanya bertujuan memastikan kelancaran teknis ujian. Lebih dari itu, kunjungan tersebut membawa pesan penting mengenai transformasi kampus menuju praktik berkelanjutan.

Pesan tersebut muncul dari momen yang sederhana namun bermakna. Di sela peninjauan, Prof. Brian menyempatkan diri mengunjungi kantin kampus. Sambil menikmati semangkuk mie rebus bersama pimpinan UNJ, ia mengamati langsung kondisi pengelolaan sampah di sekitar area tersebut. Dari pengamatan itulah, muncul penegasan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu pelengkap, melainkan harus menjadi prioritas utama.
“Zero waste bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi budaya yang hidup di kampus,” tegasnya. Ia mendorong agar implementasi sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste di UNJ dapat dipercepat, dengan target paling lambat 1 Mei 2026 sudah berjalan secara optimal.
Bagi Prof. Komarudin selaku Rektor UNJ, arahan tersebut sejalan dengan langkah yang tengah dibangun. Ia menjelaskan bahwa UNJ telah mulai mengembangkan berbagai inisiatif, seperti sistem pemilahan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga penguatan peran sivitas akademika dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, pelaksanaan UTBK-SNBT justru menjadi momentum strategis untuk menguji kesiapan sistem tersebut dalam kondisi nyata. “Kami tidak hanya fokus pada kelancaran ujian, tetapi juga menjadikan momen ini sebagai bagian dari transformasi menuju kampus berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Ari Saptono selaku Wakil Rektor UNJ Bidang Keuangan dan Sumber Daya menekankan bahwa keberhasilan zero waste tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh konsistensi implementasi. Pihaknya tengah mengoptimalkan dukungan sumber daya, mulai dari pengadaan yang ramah lingkungan hingga penyediaan infrastruktur pengelolaan sampah yang lebih sistematis.
Ia juga menyoroti pentingnya perubahan budaya di lingkungan kampus. “Zero waste adalah tentang kebiasaan. Tanpa kesadaran kolektif, kebijakan tidak akan berjalan efektif. Karena itu, kami mendorong partisipasi aktif seluruh warga kampus,” jelasnya.
Di tengah dinamika UTBK yang berlangsung intens, UNJ memperlihatkan bahwa kampus dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menjadi laboratorium sosial, tempat nilai-nilai keberlanjutan diuji dan dipraktikkan secara langsung.
Momentum ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas akademik, tetapi juga oleh kemampuan institusi dalam merespons tantangan global, termasuk krisis lingkungan. Melalui langkah menuju zero waste, UNJ menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi yang mereka huni.