Jakarta, Humas UNJ — Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan kegiatan pelatihan teknik shibori (ikat celup) dengan pewarna alami bagi perempuan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kayu Mas, Jakarta Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Pelatihan ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009. Undang-undang tersebut menekankan pentingnya peningkatan akses terhadap informasi dan sumber ekonomi melalui usaha mikro keluarga. Berdasarkan hal tersebut, Prodi Pendidikan Seni Rupa UNJ mendedikasikan keilmuannya untuk memberdayakan perempuan melalui pelatihan keterampilan berbasis seni.
Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap selama delapan bulan, dimulai dari pengambilan data kebutuhan masyarakat, analisis, pelaksanaan pelatihan, hingga pelaporan. Pelatihan inti berlangsung pada 12–13 Juni 2025, melibatkan 10 peserta dari warga sekitar dan kelompok PKK setempat.
Kegiatan penelitian ini diketuai oleh Rahmawati, sementara pelatihan shibori dipimpin oleh Cecilia Tridjata. Menurut Cecilia, perempuan memiliki peran fundamental dalam ekonomi keluarga.
“Perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi penggerak ekonomi yang multidimensi. Di tingkat mikro, mereka berperan sebagai manajer keuangan dan pengambil keputusan konsumsi. Pelatihan shibori ini diharapkan menjadi stimulus untuk memulai usaha mikro dan informal, sehingga perempuan dapat menjadi tulang punggung ekonomi riil dari akar rumput,” ujar Cecilia.
Rahmawati menambahkan bahwa partisipasi perempuan dalam pelatihan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis.

“Aktivitas kreatif seperti shibori dapat meningkatkan self-esteem dan self-love. Hal ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Cipta Kerja dan Konvensi CEDAW yang menjamin hak perempuan untuk maju dalam bidang ekonomi dan sosial. Efek positif ini bahkan berdampak pada seluruh anggota keluarga,” jelasnya.
Dalam pelatihan, peserta diajak mempraktikkan pembuatan pewarna alami dari bahan lokal seperti kayu tingi dan indigofera, serta mempelajari teknik dasar shibori seperti ikat, lipat, dan celup. Kegiatan ini dipandu oleh Fariz Al Hazmi, narasumber dari Museum Tekstil Jakarta.
Fariz menekankan pentingnya penggunaan pewarna alami dalam konteks ekologi dan kesehatan keluarga.
“Berbeda dengan pewarna sintetis, pewarna alami dari daun indigo, kulit manggis, kunyit, atau kayu tingi lebih aman bagi anak-anak dan lingkungan. Proses pewarnaan ini juga mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan seperti kerja sama dan penghargaan terhadap proses,” ujarnya.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa UNJ sebagai pendamping, yang membantu peserta memahami tahapan mulai dari pembuatan larutan pewarna hingga proses fiksasi warna pada kain.
Setelah dua hari pelatihan, peserta berhasil menghasilkan karya berupa kaos dan selendang bermotif shibori. Salah satu peserta, Siti (38), mengaku terkejut dengan hasil karyanya.
“Awalnya ragu, ternyata caranya mudah dan hasilnya bagus. Saya ingin terus mengembangkan ini untuk dijual,” ungkapnya.
Ketua RPTRA Kayu Mas menyambut positif inisiatif ini dan berharap ada kelanjutan berupa pendampingan pemasaran. Tim UNJ pun berencana mengadakan pelatihan lanjutan serta membuka jejaring dengan pelaku usaha kreatif untuk mendukung keberlanjutan program.