Merancang, Aksi, Berdoa, dan Konsisten: Strategi “PAPC” Nur Hamidah dalam Meraih Predikat Wisudawan Terbaik FBS UNJ

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

FEB UNJ Jajaki Peluang Kerja Sama Internasional dalam Pertemuan Strategis dengan Kedutaan Prancis

FBS UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Cetak Lulusan Adaptif dan Kompetitif

Jakarta, Humas UNJ – “Kalau tidak cantik, terpenting saya punya otak yang cerdas.” Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, melainkan prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Nur Hamidah, lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Prinsip tersebut pula yang mengantarkannya meraih gelar wisudawan terbaik FBS UNJ dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93 pada Wisuda Gelombang Kedua di Sesi Ketiga, pada 30 Oktober 2025.

Sejak kecil, Hamidah kerap dibandingkan secara fisik dengan orang lain. Alih-alih terpuruk, ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai pemicu semangat untuk berprestasi.

“Kalau saya tidak bisa memenuhi standar kecantikan yang dibuat masyarakat, maka saya akan menjadi perempuan cerdas,” ujarnya tegas.

Motivasi itu semakin kuat ketika ia mengetahui kisah ibunya yang dahulu tidak diizinkan kuliah karena dianggap bahwa perempuan tidak perlu bersekolah tinggi.

“Dari situ saya berjanji untuk mendobrak pandangan itu. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa berprestasi dan menjadi sosok yang berpengaruh,” tutur Hamidah.

Perjalanan akademiknya dimulai dari latar belakang jurusan MIPA di SMA. Ketika memilih Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, banyak pihak sempat meragukan pilihannya.

“Saya dianggap tidak cocok, bahkan ada yang menyayangkan keputusan saya. Tapi saya tahu apa yang saya mau, sayalah nahkoda hidup saya,” katanya.

Selama kuliah, Hamidah menunjukkan dedikasi tinggi terhadap studi dan aktivitas akademik. Ia aktif menulis puisi dan cerpen, mengikuti berbagai lomba sastra, serta terlibat dalam penulisan buku antologi.

“Saya selalu percaya bahwa belajar bahasa dan sastra bukan sekadar mempelajari kata, tetapi memahami manusia dan kehidupan,” ungkapnya.

Dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry (ADI) Berbantuan Media Trello terhadap Keterampilan Menulis Teks Argumentasi Siswa Kelas XI SMK Negeri 5 Jakarta,” Hamidah membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, bahkan di jurusan teknik.

“Guru di sekolah itu sempat bilang, siswa jurusan teknik sulit menulis. Tapi setelah metode ADI dan Trello diterapkan, hasil posttest meningkat signifikan. Saya ingin menunjukkan bahwa setiap siswa punya potensi jika diberi ruang dan pendekatan yang tepat,” jelasnya.

Hamidah juga membagikan prinsip kesuksesannya yang ia sebut “PAPC”: Planning, Action, Praying, dan Consistency.

“Sejak semester satu saya sudah punya target menjadi wisudawan terbaik. Saya buat perencanaan, beraksi, berdoa, dan berusaha konsisten,” katanya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Hamidah ingin mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki kecerdasan unik yang perlu dihargai.

“Tidak semua anak pandai berhitung, tapi mungkin mereka luar biasa dalam menulis, menari, atau berbicara. Tugas guru adalah membantu mereka menemukan kecerdasannya, bukan membandingkan,” ujarnya.

Menutup kisahnya, Hamidah menggambarkan pengalamannya selama kuliah di UNJ sebagai proses pendewasaan diri.

“Di UNJ, saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, beradaptasi, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa,” tutupnya.