Jakarta, Humas UNJ — Kebahagiaan terpancar dari wajah Joko Setijo Adi (56) saat menghadiri prosesi wisuda putra sulungnya, Akbar Maulana, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (27/10/2025). Bagi Joko, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi merupakan kebanggaan luar biasa, meski harus melalui berbagai keterbatasan.
Dalam acara wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 gelombang kedua sesi pertama yang digelar di Gedung Olahraga UNJ, Joko tampak sederhana. Ia masih menggunakan telepon genggam jenis Nokia lama. “Tidak masalah saya masih pakai HP ini, yang penting anak saya bisa kuliah,” ujarnya.
Joko datang bersama istri dan dua adik Akbar, salah satunya penyandang tuna grahita. Meski menghadapi tantangan dalam keluarga, Joko tetap antusias menyambut momen bahagia tersebut.
Akbar merupakan lulusan Program Studi Bahasa Jerman, Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Keluarga Joko tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Sehari-hari, Joko bekerja sebagai tenaga buruh pengecatan kendaraan di sebuah bengkel mobil. Penghasilannya tidak tetap, namun tekadnya untuk menyekolahkan anak tak pernah surut.
“Namanya orang tua, maunya anak jangan seperti bapaknya. Kalau bisa lebih baik,” tuturnya dengan mata berbinar.
Perjuangan Joko tidak mudah. Ia mengaku pernah menggadaikan sepeda motor demi membayar biaya kuliah semester pertama. “Waktu itu bayaran Rp7 juta per semester. Uangnya tidak ada, akhirnya motor saya gadai Rp3,5 juta buat bantu bayar,” kenangnya.
Tak hanya itu, Joko juga mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT dan RW, serta meminta restu pemilik kontrakan untuk mendapatkan keringanan biaya kuliah. Usahanya membuahkan hasil. Pada semester ketiga, Noval menerima bantuan pendidikan melalui program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
“Alhamdulillah, sejak semester tiga biaya kuliah ditanggung KJMU. Saya tinggal bantu ongkos dan uang jajannya saja,” katanya dengan lega.
Meski hidup sederhana di rumah kontrakan, semangat Joko terhadap pendidikan anaknya tidak pernah padam. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib. “Yang penting orang tua dukung. Anak saya memang dari dulu suka bahasa Jerman. Saya biarkan dia pilih sesuai minatnya,” ujarnya.
Kini, perjuangan itu membuahkan hasil. Noval berhasil menyelesaikan studi dan resmi menyandang gelar sarjana. Di balik toga dan senyum bangga sang wisudawan, terdapat sosok ayah sederhana yang rela berkorban demi masa depan anaknya. Kisah Joko menjadi bukti bahwa cinta dan kerja keras orang tua adalah fondasi keberhasilan sejati.
Joko juga berpesan kepada para orang tua agar tidak ragu menyekolahkan anak setinggi-tingginya. “Kuncinya yakin. Kalau kita yakin, insyaallah jalan pasti ada,” pungkasnya.