Jakarta, Humas UNJ – Muhammad Rayhan Murtadha, sosok mahasiswa berprestasi yang bukan hanya mencetak prestasi akademik dan inovasi luar biasa, tetapi juga menyentuh hati banyak orang lewat pesan pesan kebaikan yang dibawakannya. Mahasiswa program studi Psikologi ini resmi menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi Utama Sarjana UNJ tahun 2025, sekaligus membuktikan bahwa intelektualitas dan empati bisa berjalan seiring.
Rayhan telah mencatatkan sederet capaian yang luar biasa, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2024, ia menyapu penghargaan dalam berbagai konferensi, mulai dari meraih Silver Medal dalam International Virtual Competition of Creative and Innovative Idea di Malaysia, Best Poster di Science and Mathematics International Conference (SMIC), hingga menjadi Best Presenter & Best Performance di CASTLE International Conference. Tahun sebelumnya, Rayhan bahkan memborong dua Gold Medal di ajang ASEAN Innovative Science and Entrepreneur Fair dan World Invention Competition and Exhibition di Malaysia.
Tak kalah mencengangkan, prestasinya di dalam negeri juga menunjukkan konsistensi dan ketekunan. Ia menjadi Juara Umum 3 Lomba Esai Tingkat Nasional 5 tahun 2025, dengan total tiga medali dari bidang pendidikan, pangan, hingga sosial ekonomi dan hukum. Ia juga menjadi peraih Medali Emas dalam Lomba Inovasi Digital Mahasiswa Puspresnas 2024, serta mencatat prestasi lainnya dalam debat, lomba karya tulis, dan berbagai kompetisi inovatif lintas bidang di berbagai universitas ternama di Indonesia.
Pada tahun 2025, ia juga menerima International Recognition Award dari Carrida Foundation Prancis, sebuah bentuk pengakuan atas kontribusi dan dampaknya di level global tepatnya dalam fokus Kesehatan mental remaja di era digital. Di luar dunia akademik, Rayhan mulai merintis jalan sebagai seorang content creator motivasi dan kesehatan mental. Lewat media sosial, ia rutin membagikan konten yang membahas pentingnya menjaga kesehatan mental, menghadapi tekanan hidup sebagai mahasiswa, dan tetap punya harapan meski dalam keadaan sulit, serta menghadapi tekanan luar biasa dari media sosial yang semakin marak.
Ia percaya bahwa di balik kesibukan lomba dan penelitian, manusia tetap butuh ruang untuk memahami diri sendiri, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.