Jakarta, Humas UNJ — Di balik kemegahan dan kebahagiaan prosesi wisuda Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester genap tahun akademik 2024/2025, gelombang pertama yang berlangsung dari 6-9 Oktober 2025 di Gedung Olahraga UNJ, terdapat sentuhan emosional yang dihadirkan oleh Batavia Chamber Orchestra (BCO). Kelompok musik ini sukses menyulap suasana Gedung Olahraga UNJ menjadi momen penuh haru dan cinta melalui lantunan musik orkestra yang dipimpin oleh R.M. Aditya Andriyanto, selaku Dosen Prodi Pendidikan Musik FBS UNJ yang akrab disapa Mas Adit.
Dalam prosesi tersebut, Mas Adit tampil layaknya pesulap dengan tongkat konduktor di tangan, memandu alunan musik yang menyentuh hati para hadirin. Setiap gerakan tangannya seolah menghipnotis, membuat para pendengar larut dalam emosi hingga meneteskan air mata.
“Musik adalah cara lain untuk menyampaikan perasaan. Melalui melodi, kami ingin menyampaikan rasa syukur, cinta, dan kebanggaan kepada para wisudawan dan orang tua mereka,” ujar Mas Adit.

BCO membawakan sejumlah lagu prosesi seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Syukur, Mars UNJ, dan Nyiur Hijau. Selain itu, terdapat pula sekitar 15 lagu hiburan yang dipersiapkan dan dipilih berdasarkan popularitas dan nuansa emosionalnya.
“Untuk lagu hiburan, kami menyesuaikan suasana dan durasi jeda acara. Jika jedanya pendek, kami pilih lagu ringan. Namun jika lebih panjang, kami bawakan lagu yang lebih dalam,” jelas Mas Adit kepada tim Humas UNJ.
Beberapa lagu viral yang dibawakan antara lain Terbuang Dalam Waktu (Barsuara), Selalu Ada Di Nadimu (O.S.T Jumbo) dan Tabola-Bale (Silet Open Up), yang dipilih karena tengah populer dan memiliki nuansa emosional kuat. Namun, momen paling berkesan bagi tim BCO adalah saat lagu persembahan khusus untuk orang tua dimainkan.
“Awalnya kami membawakan Terbuang Dalam Waktu sebagai lagu persembahan. Namun setelah evaluasi hari pertama, kami menggantinya dengan Cinta untuk Mama dan Yang Terbaik Bagimu agar lebih menyentuh,” ungkapnya.

Perubahan lagu tersebut terbukti efektif membawa suasana. Suasana aula seketika berubah menjadi penuh haru. Para wisudawan dan orang tua larut dalam tangis bahagia, merasakan pesan cinta dan terima kasih yang disampaikan melalui melodi.
Zalfa, salah satu wisudawati, mengaku sangat tersentuh oleh lagu Cinta untuk Mama dan Yang Terbaik. “Aku menangis bukan hanya karena lagunya sedih, tapi karena aku sadar bahwa pencapaian ini bukan semata hasil usahaku sendiri. Aku tidak akan sampai di titik ini tanpa orang tuaku,” ujarnya dengan suara lembut.
Baginya, lagu tersebut menjadi pengingat akan besarnya peran dan pengorbanan orang tua dalam perjalanan pendidikannya. “Rasanya campur aduk, antara bangga, haru, dan sedikit menyesal. Aku merasa seharusnya bisa berbuat lebih banyak agar mereka punya lebih banyak alasan untuk bangga di hari wisudaku,” tambahnya.

Zalfa juga memuji pemilihan lagu oleh tim BCO UNJ. “Sudah sangat tepat! Lagu-lagu yang dibawakan benar-benar menyentuh, membawa suasana wisuda jadi lebih bermakna,” katanya. Jika diberi kesempatan memilih lagu, ia ingin mendengar Long Live dari Taylor Swift, artis favoritnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Ibu Ulfa, orang tua salah satu wisudawan. Ia mengaku tak kuasa menahan air mata saat mendengar lagu tentang ayah dan ibu yang dibawakan dengan penuh penghayatan.
“Dalam momen kelulusan anak saya, lagu ini sungguh membuat haru. Kami jadi mengingat dan menyadari betapa cepatnya anak kami tumbuh dewasa,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia melanjutkan, rasa syukur menjadi emosi paling kuat saat itu. “Kami bersyukur karena masih diberikan umur panjang untuk mengantarkan anak kami hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Lagu itu seolah menggambarkan seluruh perjalanan kami jatuh bangun, pengorbanan dari berbagai aspek semua terasa terbayar saat melihat anak kami di wisuda.”

Ketika ditanya lagu yang paling ingin didengarnya di momen seperti ini, Ibu Ulfa menjawab lembut, “Surga di Telapak Kaki Ibu karya Dhea Ananda. Lagu itu mengingatkan kami betapa besarnya kasih seorang ibu dan betapa berharganya momen menyaksikan anak tumbuh dan berhasil.”
Keberhasilan menghadirkan suasana emosional ini tak lepas dari kualitas tim BCO yang sudah berpengalaman, didukung musisi berkualitas serta dukungan para penyanyi profesional seperti Dedes dan Angga. “Penyanyi kami luar biasa. Mereka sudah sering menjuarai kompetisi vokal dan menjadi session singer di berbagai acara,” kata Mas Adit dengan bangga.
Persiapan tim BCO pun dilakukan secara intensif. Dalam waktu seminggu sebelum wisuda, mereka berlatih partitur setiap hari. Lagu-lagu baru juga dikerjakan bersamaan dengan iringan musik tari dan aransemen orkestra.
“Latihan terakhir kami dilakukan pada hari Jumat sebelum wisuda. Meski waktunya singkat, tim bekerja total dan luar biasa. Semua ingin memberikan yang terbaik untuk UNJ,” tuturnya.

Di tangan Mas Adit dan tim BCO UNJ, musik bukan sekadar pengiring acara. Ia menjadi bahasa emosi yang menghubungkan rasa bangga, syukur, dan cinta antara mahasiswa, orang tua dan seluruh hadirin.