Jakarta, Humas UNJ – Dari luar, Kejuaraan Tenis Profesor Nasional 2025 yang digelar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 19–22 Juni tampak sebagai festival olahraga yang elegan. Pertandingan-pertandingan yang bergulir mulus, tawa yang merekah di sela-sela rehat, serta silaturahmi yang mengalir hangat antarprofesor dari berbagai penjuru negeri, mewarnai kejuaraan tenis ini. Namun, di balik arena yang tertata rapi dan atmosfer yang bersahabat itu, berdiri sosok-sosok yang tak muncul di podium kemenangan, mereka adalah para panitia yang menjadi penjaga arena, pengatur ritme, dan suksesnya kejuaraan para cendekia ini.

Panitia bukan sekadar pelaksana teknis. Mereka adalah arsitek dari harmoni yang tidak kasat mata. Dari beberapa pekan sebelum acara, mereka telah bergerak, menyusun jadwal pertandingan dengan presisi, berkoordinasi dengan tamu-tamu kehormatan, merancang alur registrasi, dan mengantisipasi segala kemungkinan. Setiap meja registrasi, setiap nomor undian, setiap mikrofon yang menyala tepat waktu, semua adalah hasil kerja cepat namun cermat.
Mereka tak tidur nyenyak ketika hujan mengancam jadwal hari kedua. Mereka tak bisa santai saat listrik tiba-tiba padam beberapa menit menjelang pertandingan semifinal. Mereka menutup rasa lelah dengan senyum, menutupi kepanikan dengan ketegasan, dan menyisipkan keramahan di setiap kekhawatiran. Tidak ada ruang untuk kesalahan, karena mereka tahu bahwa bukan hanya pertandingan yang mereka kelola, tetapi juga kehormatan lembaga UNJ yang menjadi tuan rumah pada tahun ini dan rasa kepercayaan dari 107 profesor yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan Asosiasi Tenis Profesor Indonesia (ATPI).
Dalam bayang-bayang para juara, panitia adalah tiang-tiang penopang. Ketika pasangan ganda putra dari UNY, dan ketika pasangan ganda campuran dari UNJ dan UNDIKSHA mengangkat piala sebagai Juara Pertama, ketika sorakan kemenangan membahana di Lapangan Tenis Bea Cukai, panitia memilih untuk bersembunyi di balik layar, memastikan air minum tersedia, jadwal tetap berjalan, dan dokumentasi tetap tertangkap dalam bingkai terbaik.
Lebih dari itu, mereka menyatukan ritme, tidak hanya dari sivitas Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) tetapi berbagai fakultas, jenjang gelar, bahkan generasi. Profesor, dosen muda, mahasiswa, hingga tenaga kependidikan bahu-membahu tanpa pamrih. Tidak ada pangkat dalam kerja panitia, yang ada hanyalah semangat kolektif untuk memberi yang terbaik bagi institusi UNJ dan para profesor.
Ketika Rektor menutup kejuaraan dengan penuh kebanggaan, dan para tamu mengucap terima kasih atas penyelenggaraan yang berkelas, seharusnya ada satu tepuk tangan terakhir yang bukan untuk para pemenang, tapi untuk para panitia. Sebab merekalah alasan mengapa semuanya bisa berlangsung dengan elegan, tertib, dan meninggalkan kenangan.
Mereka adalah penata panggung, pengatur nafas, dan pencerita tanpa nama. Mereka tak menuntut sorotan, sebab cahaya itu telah cukup mereka rasakan dari keberhasilan bersama. Dan dari balik layar Kejuaraan Tenis Profesor Nasional 2025, mereka membuktikan bahwa kesuksesan sejati lahir dari kerja yang tulus, namun tak akan pernah dilupakan.