Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inklusif melalui pelaksanaan seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) Mandiri Jalur Disabilitas Tahun 2025. Seleksi ini berlangsung pada Kamis, 10 Juli 2025, dengan jumlah peserta yang meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Wakil Rektor UNJ Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar, mengungkapkan bahwa tahun ini terdapat 125 peserta dari jalur disabilitas, meningkat dari 58 peserta pada tahun 2024.
“Artinya, animo peserta disabilitas terhadap UNJ semakin besar,” ujar Prof. Ifan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap aksesibilitas, UNJ menyediakan fasilitas dan sistem pendampingan yang ramah disabilitas. Dalam proses seleksi, peserta dengan hambatan seperti tunanetra, ADHD, dan autisme didampingi oleh pendamping pribadi di ruang ujian. Setiap ruang juga dilengkapi dengan Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk mendukung peserta dengan hambatan pendengaran.

Pendampingan berlanjut hingga tahap wawancara. Setiap meja wawancara didampingi oleh satu hingga dua Relawan Disabilitas (Redis) UNJ, yang merupakan mahasiswa dari berbagai program studi dan telah mendapatkan pelatihan khusus.
Koordinator Redis, Dipo Ditiro, yang juga merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus (PKh), menjelaskan bahwa Redis mendampingi peserta sejak kedatangan di kampus hingga kembali ke orang tua setelah seleksi.
“Pembekalan kami di Redis dilakukan secara serius. Sejak tahap rekrutmen, calon relawan diwajibkan memiliki dasar bahasa isyarat. Setelah lolos, mereka mengikuti pelatihan intensif tentang ragam disabilitas, komunikasi inklusif, hingga pelatihan lanjutan bahasa isyarat,” jelas Dipo.
Redis melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi sesuai kebutuhan peserta. Misalnya, peserta yang mengalami kesulitan dalam soal Bahasa Inggris akan didampingi oleh relawan dari Program Studi Bahasa Inggris.

“Ini bentuk penyesuaian agar bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran,” tambah Prof. Ifan.
UNJ tetap memberlakukan standar soal ujian yang setara dengan jalur reguler, tanpa pengurangan tingkat kesulitan. Namun, kampus memberikan alokasi kuota khusus bagi peserta disabilitas sebagai bentuk keadilan dalam akses pendidikan.
Setelah ujian tulis pada pagi hari, peserta melanjutkan ke tahap wawancara pada siang harinya. Proses ini bertujuan untuk menilai kecocokan antara minat, potensi, dan pilihan program studi, serta memastikan bahwa program studi yang dipilih mendukung pengembangan diri peserta.
“Kami tidak ingin peserta merasa kesulitan karena memilih program studi yang kurang sesuai. Misalnya, bagi tunanetra yang ingin masuk ke program studi berbasis visual seperti Seni Rupa, tentu perlu pertimbangan lebih lanjut. Proses wawancara ini penting untuk melindungi dan memberdayakan mereka,” ujar Prof. Ifan.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Prof. Ifan turut hadir langsung dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) di lokasi ujian untuk memastikan seluruh pelaksanaan berjalan sesuai dengan standar inklusivitas yang telah ditetapkan.
Dengan meningkatnya jumlah peserta disabilitas, serta dukungan fasilitas dan relawan yang memadai, UNJ terus memperkuat posisinya sebagai kampus yang ramah disabilitas, menjunjung tinggi kesetaraan, dan membuka akses pendidikan tinggi yang adil dan bermartabat bagi semua.