Peni Pinandhita Raih IPK 3,96 dan Jadi Wisudawati Terbaik FISH UNJ di Wisuda 2025

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

FEB UNJ Jajaki Peluang Kerja Sama Internasional dalam Pertemuan Strategis dengan Kedutaan Prancis

FBS UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Cetak Lulusan Adaptif dan Kompetitif

Jakarta, Humas UNJ — Prosesi Wisuda Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 gelombang pertama di sesi ketiga yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) UNJ pada Rabu, 8 Oktober 2025, melahirkan banyak lulusan berprestasi. Salah satunya adalah Peni Pinandhita, mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH).

Peni dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Penghargaan tersebut diumumkan langsung oleh Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya. Bersama dua lulusan terbaik lainnya, Peni menerima piagam penghargaan di atas panggung.

“Tidak menyangka, tapi ini doa orang tua yang jadi nyata,” ungkap Peni dengan haru.

Ia mengaku terkejut saat mengetahui dirinya terpilih sebagai lulusan terbaik. Menurutnya, banyak mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum yang juga memiliki prestasi luar biasa.

“Rasanya enggak nyangka banget, teman-teman di FIS tuh keren-keren semua. Tapi ini jadi pengingat buat saya tentang pesan orang tua dari awal kuliah: ‘Nanti kamu bakal dipanggil ya namanya di atas panggung,’” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Peni, kuliah bukan sekadar mengejar nilai, tetapi juga menjelajahi makna. Ia mengenang berbagai fase penting selama masa studi, terutama dalam hal berkarya dan meraih prestasi.

Melalui berbagai program pengabdian masyarakat, Peni telah menjelajahi berbagai daerah seperti Lombok, Pulau Bintan, Raja Ampat, hingga Maluku. Ia juga pernah mengajar di Sekolah Indonesia-Filipina dalam Program Keterampilan Mengajar (PKM).

“Pengabdian masyarakat bikin saya sadar, pendidikan itu bukan tentang saya, tapi tentang orang-orang yang kita sentuh lewat ilmu,” katanya.

Tak hanya aktif dalam pengabdian, Peni juga produktif di bidang akademik. Dalam dua tahun terakhir, ia telah menulis dan menerbitkan sembilan artikel jurnal yang terindeks nasional maupun internasional. Ia juga beberapa kali mewakili kampus dalam lomba debat dan pidato.

“Sebenarnya saya cuma coba-coba. Tapi dari situ akhirnya tahu, oh ini ya passion saya. Walaupun sering juga gagal, termasuk gagal dapat beasiswa sampai lima kali,” ungkapnya.

Meski penuh prestasi, Peni mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah bukanlah soal akademik, melainkan melawan rasa nyaman yang membuat stagnan.

“Kadang tanpa sadar kita terlena di zona nyaman. Tiba-tiba sudah mau lulus, tapi merasa belum punya apa-apa. Itu yang saya coba lawan sejak awal,” katanya.

Setelah kelulusan, Peni bertekad untuk terus mengabdi di dunia pendidikan. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan paling konkret untuk membawa perubahan.

“Di mana pun saya ditempatkan, saya ingin tetap jadi bagian dari perubahan,” tuturnya.

Peni juga menyimpan mimpi besar untuk menjadi sosok yang berdampak luas di bidang pendidikan.

“Saya ingin jadi orang yang teringat bukan karena pintar, tapi karena bisa menginspirasi dan membantu orang lain tumbuh,” tutupnya.

Kisah Peni Pinandhita menjadi bukti bahwa prestasi bukan hanya soal IPK tinggi, tetapi juga tentang keberanian untuk gagal, ketekunan dalam mencari arah, dan keikhlasan untuk berbagi.