Jakarta, Humas UNJ – Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta (FIKK UNJ) menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademik strategis pada 15–17 April 2026 di Hotel Naraya UNJ. Kegiatan ini mengusung tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Sinergi Kebijakan Sport Science untuk Meningkatkan Prestasi Olahraga,”.
Rangkaian acara memadukan Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Asosiasi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Indonesia (APKOI) serta perwakilan dari 25 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi forum penting untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pemangku kepentingan olahraga nasional.
Salah satu agenda utama dalam pembukaan kegiatan adalah peluncuran Program Studi Magister (S2) Kepelatihan Olahraga FIKK UNJ yang diresmikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar. Kehadiran program studi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kepelatihan tingkat lanjut yang berbasis riset dan teknologi olahraga (sport science).

Prof. Ifan menyampaikan pentingnya pendekatan holistik dalam sport science. Ia mencontohkan konsep Blue Zones, yaitu wilayah dengan tingkat harapan hidup tinggi seperti Okinawa dan Sardinia, yang ditopang oleh pola hidup sehat, aktivitas fisik, keseimbangan mental dan sosial, serta moderasi.
Lebih lanjut, Prof. Ifan menekankan pentingnya penerapan konsep pentahelix dalam pengembangan olahraga, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, media, dan komunitas. Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan program studi kepelatihan harus sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang kini berorientasi pada Kampus Berdampak.
Dalam sambutannya, Prof. Nofi Marlina Siregar selaku Dekan FIKK, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat riset yang harus bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi dengan Kemenpora, KONI, dan berbagai pihak lainnya menjadi kunci agar kebijakan sport science dapat diimplementasikan secara optimal. Melalui forum ini, kita juga menyelaraskan kurikulum agar lulusan kepelatihan memiliki standar kompetensi yang seragam dan mampu menjawab tantangan prestasi nasional,” ujarnya.
Ketua APKOI Pusat, Suratmin, pada kesempatan ini menekankan pentingnya penyelarasan kurikulum kepelatihan, termasuk pengembangan kurikulum spesifik untuk setiap cabang olahraga. Ia juga menyoroti perlunya kolaborasi antara akademisi dan induk organisasi cabang olahraga, salah satunya melalui pelibatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam perumusan kurikulum.
Selain itu, ia memberikan motivasi kepada mahasiswa sebagai calon pelatih masa depan untuk terus meningkatkan kompetensi, sekaligus mengapresiasi semangat kebersamaan para delegasi dari berbagai daerah dalam memajukan pendidikan kepelatihan olahraga di Indonesia.

Seminar nasional menghadirkan tiga narasumber yang membahas strategi peningkatan prestasi olahraga dari berbagai perspektif. Usman Al Mustofa, Plt. Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, memaparkan implementasi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), dukungan beasiswa student-athlete melalui LPDP, serta penguatan infrastruktur akademi olahraga.
Sementara itu, Prof. Hidayat, Ketua KONI DKI Jakarta, menekankan pentingnya pembinaan prestasi di tingkat daerah sebagai fondasi pencapaian nasional. Ia menyoroti perlunya sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan daerah agar pembinaan atlet berjalan terarah dan berkelanjutan.
Adapun Prof. Johansyah Lubis, pakar keolahragaan UNJ, mengulas peran sport science dalam meningkatkan performa atlet. Ia menegaskan bahwa hasil riset di bidang biomekanika, fisiologi, dan psikologi olahraga harus menjadi dasar dalam proses kepelatihan modern.

Sebagai penguatan aspek akademik, kegiatan ini juga menghadirkan sesi paralel Temu Ilmiah Keolahragaan. Dalam sesi ini, Bambang Kridasuwarso memaparkan kajian tentang identifikasi bakat olahraga melalui pendekatan fisiologi dan biomekanika. Ia menjelaskan bahwa pemetaan potensi atlet sejak dini berbasis data ilmiah menjadi kunci dalam menghasilkan atlet berprestasi.
Selain itu, Prof. Agus Rusdiana, Staf Ahli Manajemen Talenta Keolahragaan Pelajar FPOK UPI, menyampaikan materi mengenai manajemen talenta keolahragaan pelajar. Ia menekankan pentingnya sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk mendukung pengembangan atlet usia dini hingga mencapai prestasi puncak.
Melalui kegiatan ini, FIKK UNJ menegaskan komitmennya sebagai pusat unggulan ilmu keolahragaan yang mampu mengintegrasikan kebijakan pemerintah dengan pendekatan ilmiah guna mendorong peningkatan prestasi olahraga Indonesia di tingkat global.