Jakarta, Humas UNJ – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia, Pusat Layanan Psikologi dan Bimbingan Konseling (PLPBK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Jejak Pulih” pada Kamis, 10 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental.
Rangkaian acara dimulai dengan skrining kesehatan mental di Lobi Gedung Dewi Sartika, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kegiatan dilanjutkan dengan berbagai aktivitas menyenangkan bertema kesehatan mental di Plaza UNJ, seperti permainan edukatif, mewarnai, dan menulis pesan di pohon harapan.
Mengusung tema “Berbagi Cerita, Melangkah Bahagia Bersama”, PLPBK UNJ mengajak mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental serta saling mendukung satu sama lain.

Dalam kegiatan ini, PLPBK menggandeng Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan (Yankesren) dari Kementerian Kesehatan. Ahmad Farikhi, perwakilan Kemenkes, menjelaskan bahwa pihaknya memfasilitasi skrining manajemen stres menggunakan alat Heart Rate Variability (HRV), yaitu teknologi pendeteksi stres berbasis detak jantung yang dapat memberikan hasil dalam waktu satu menit.
“Peserta cukup meletakkan jari di sensor alat, lalu sistem akan membaca tingkat stres dan daya tahan tubuh. Hasilnya bisa langsung dikonsultasikan dengan psikolog dari Dinas Kesehatan yang hadir di lokasi,” ujar Ahmad.
Jika hasil skrining menunjukkan kondisi yang perlu ditindaklanjuti, peserta akan mendapatkan surat rujukan dari Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau rumah sakit yang memiliki layanan psikologi.

Kepala PLPBK UNJ, Iriani Indri Hapsari, menyampaikan bahwa “Jejak Pulih” merupakan inisiatif dari komunitas Sahabat Sebaya, yaitu kelompok mahasiswa relawan yang menjadi pendamping dan duta kesehatan mental di lingkungan kampus.
“Kami ingin menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi mahasiswa, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Jika mental sehat, maka kita akan lebih bahagia, produktif, dan semangat,” ungkap Iriani.
PLPBK UNJ menyediakan layanan konseling gratis bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Layanan ini bersifat preventif dan terbuka bagi siapa saja yang merasa tidak baik-baik saja, bukan hanya bagi mereka yang mengalami gangguan psikologis berat.
Setiap tahunnya, PLPBK melayani hingga 700 konseli dari kalangan sivitas akademika. Menurut Iriani, meningkatnya jumlah pengguna layanan menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan mental semakin membaik.
“Dulu banyak yang memilih diam, sekarang mahasiswa sudah berani bercerita. Itu kemajuan besar karena penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” tambahnya.

Iriani juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk tidak ragu mencari pertolongan saat menghadapi masalah, serta menumbuhkan empati dan dukungan sosial.
“Kita perlu menghapus stigma terhadap orang yang sedang berjuang dengan masalah mental. Kadang hal yang tampak sepele bagi kita bisa sangat berat bagi orang lain,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa laki-laki pun perlu diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan. “Menangis atau bercerita bukanlah kelemahan, justru itu bentuk kekuatan,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Sabrina, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), mengaku antusias mengikuti skrining kesehatan mental. “Hasilnya membantu saya memahami kondisi diri sendiri dan cara mengelola stres. Kegiatannya juga seru karena ada permainan dan lomba yang temanya positif,” katanya.

Anggi dan Nata, mahasiswa Prodi Ilmu Hukum FISH, juga mengapresiasi kegiatan ini. “Seru banget, rasanya harus ada tiap minggu! Bisa jadi ruang healing di tengah padatnya jadwal,” ujar Anggi.
Sementara itu, Yanuar, Ahmad, dan Vino dari prodi yang sama menyatakan bahwa kegiatan ini memberi wawasan baru tentang dunia psikologi dan pentingnya saling mendukung di lingkungan kampus.
Kegiatan “Jejak Pulih” ditutup dengan berbagai aktivitas kreatif seperti monopoli psikologi, meronce manik-manik, dan menulis pesan di pohon harapan. Semua kegiatan ini menjadi sarana ekspresi dan relaksasi, sekaligus memperkuat pesan bahwa menjaga kesehatan mental dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan inklusif.
Dengan slogan #BerbagiCeritaMelangkahBahagiaBersama, PLPBK UNJ terus berkomitmen menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika untuk tumbuh, pulih, dan saling menguatkan.