Jakarta, Humas UNJ — Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ) bekerja sama dengan Program Studi Arsitektur Gwangju University, Korea Selatan, meluncurkan ruang seni dan ruang publik berbasis desain lingkungan aman bertajuk “Galur Ceria”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Gwangju Culture ODA ODASIS Project 2025 Jakarta yang mengusung konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED).
Peresmian ruang publik ini dilaksanakan pada 7 Agustus 2025 di Jalan Rawa Tengah, Kelurahan Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat. Acara dibuka secara resmi oleh Muhammad Reza, Asisten Kesejahteraan Rakyat Kota Administrasi Jakarta Pusat, mewakili Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin.
Koordinator ODASIS UNJ, Jeong Ok Jeon, menyampaikan bahwa proyek serupa sebelumnya telah dilaksanakan di Kota Gwangju, Korea Selatan. Tahun ini, Jakarta menjadi lokasi kolaborasi lintas budaya tersebut. “Setiap tahun, proyek ini memberikan transformasi nyata, tidak hanya pada ruang yang dibangun, tetapi juga pada seluruh aktor yang terlibat. Mahasiswa belajar tentang seni, desain, kerja sama lintas budaya, komunikasi, dan empati sosial,” ujarnya.

Sejak April 2025, tim gabungan mahasiswa UNJ dan Gwangju University telah merancang dan merealisasikan ruang publik ini dengan bimbingan arsitek Korea, Jung Jaehak. Prosesnya dimulai dari survei lokasi, diskusi dengan warga, lokakarya bersama, hingga pembuatan mural dan instalasi seni. Ruang “Galur Ceria” kini dilengkapi dengan ring basket, bangunan bambu untuk berkumpul, serta perpustakaan anak.
“Mahasiswa kami menunjukkan kreativitas, komitmen, dan kerja sama tim yang luar biasa. Ini adalah pengalaman belajar yang melampaui ruang kelas,” tambah Jeong. Ia juga menyampaikan bahwa hasil proyek ini akan dipresentasikan dalam konferensi internasional ODASIS di Gwangju, Korea Selatan, pada Oktober 2025 bersama delegasi dari Mongolia, Thailand, dan Uzbekistan.
Jeong Eui Rim, Direktur ODASIS, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pameran karya, melainkan representasi kekuatan budaya dan solidaritas antarmanusia. “Galur Ceria adalah eksperimen berharga yang menggabungkan seni dan komunitas untuk menjawab isu-isu perkotaan melalui pendekatan CPTED,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman muda UNJ dan peserta proyek. “Transformasi ruang di Galur adalah bukti bahwa budaya dan seni dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Intervensi budaya ini menjadi katalis perubahan citra kota,” ujarnya. Ia berharap proyek ini dapat direplikasi di kota lain dan menjadi simbol pertukaran budaya antara Jakarta dan Gwangju.
Muhammad Reza, mewakili Wali Kota Jakarta Pusat, menyampaikan bahwa ODASIS Project 2025 merupakan bentuk diplomasi budaya yang mempertemukan seniman, mahasiswa arsitektur, dan komunitas lokal untuk menciptakan ruang interaksi yang aman dan harmonis. “Proyek ini mencerminkan pemikiran visioner bahwa tata ruang yang baik dapat meningkatkan rasa aman dan mendorong keterlibatan sosial,” katanya.
Ia berharap “Galur Ceria” menjadi inspirasi bagi kawasan lain di Jakarta Pusat dan menjadi model pengembangan ruang publik berbasis partisipasi.

Direktur Korean Cultural Center Indonesia (KCCI), Kim Yong Woon, juga menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, nilai-nilai dalam proyek ODASIS menunjukkan kekuatan budaya dan seni dalam membangun rasa kemanusiaan. “Semoga Galur Ceria menjadi simbol abadi persahabatan dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan,” ujarnya.
Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Yasep Setiakarnawijaya, menyebut “Galur Ceria” sebagai simbol transformasi sosial melalui kolaborasi lintas budaya. “Seni dan desain bukan hanya soal estetika, tetapi juga keberpihakan kepada masyarakat,” katanya. Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam proyek ini merupakan bagian dari pendidikan karakter yang dijunjung tinggi di UNJ.
Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan agar semangat ODASIS menyebar ke seluruh Asia dan ruang “Galur Ceria” dapat terus dijaga serta menjadi inspirasi bagi pengembangan ruang publik lainnya.

