Jakarta, 15 September 2025 — Program Studi Pendidikan Masyarakat, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (Prodi Penmas FIP UNJ), sukses menyelenggarakan Seminar Nasional (Semnas) dan Temu Kolegial Pendidikan Nonformal/Pendidikan Masyarakat (PNFI/Penmas) 2025. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan mitra strategis dari berbagai wilayah Indonesia dalam rangka memperkuat arah pembangunan pendidikan nasional.
Pada kesempatan ini, Rektor UNJ, Prof. Komarudin dalam sambutannya menegaskan bahwa revitalisasi PNFI merupakan kunci menuju Indonesia Emas 2045.
“PNFI bukanlah pelengkap semata, melainkan pilar yang mampu menjangkau kelompok rentan, mengisi celah layanan pendidikan formal, dan membangun ekosistem pembelajaran sepanjang hayat,” ujarnya.
Seminar ini dihadiri oleh perwakilan dari 13 perguruan tinggi, antara lain Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Semarang, Universitas Bengkulu, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Selain itu, turut hadir mitra strategis seperti ASTINA, Ditjen Pemasyarakatan, PKBM Faradika, PT Accessindo, SDM Kita, dan Kantor Wilayah HAM DKI Jakarta.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Gunarti Dwi Lestari menyampaikan bahwa PNFI merupakan fondasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
“PNFI bukan sekadar jalur alternatif, melainkan fondasi strategis untuk membangun sumber daya manusia yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing di tengah perubahan global,” tuturnya.
Senada dengan itu, Direktur PNPI Kemendikbudristek RI, Baharudin, menekankan pentingnya dukungan terhadap pendidikan nonformal melalui regulasi, pendanaan, dan digitalisasi.
“Pendidikan nonformal perlu didorong dan didukung agar benar-benar menjadi pilar pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,” katanya.
Ia juga memaparkan data terkini mengenai lembaga pendidikan nonformal yang tercatat di Dapodik hingga 15 Juli 2025, yaitu sebanyak 11.159 lembaga dengan 1.770.608 peserta didik yang tersebar dalam tiga jenjang: Paket A, Paket B, dan Paket C.

Dari perspektif internasional, aktivis pemberdayaan komunitas asal Afrika Selatan, Jean B. Bilala, turut memberikan pandangan mengenai pentingnya kesetaraan dalam pendidikan.
“Kesetaraan bukan berarti semua orang mendapat hal yang sama, tetapi memastikan setiap orang memiliki dukungan yang tepat untuk mencapai tujuan bersama,” ungkapnya.
Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain:
- Perlunya regulasi turunan dari Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025;
- Revitalisasi kelembagaan PNFI;
- Transformasi digital; dan
- Integrasi dengan pendidikan vokasi dan pembangunan lintas sektor.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas, PNFI diyakini mampu menjadi garda depan pendidikan inklusif yang memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045.