Prof. Khaled El-Anany Beri Kuliah Umum di UNJ Mengenai Peran UNESCO dan Peradaban Mesir Kuno dalam Mewujudkan Perdamaian

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Kisah Rovan dan Rohmat, Dua Mahasiswa…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mifdatul Azahra, Atlet Renang Berprestasi yang Raih Predikat Wisudawan Terbaik FIKK UNJ

Buktikan Diri sebagai Kampus Berdampak, UNJ Tuai Pujian dan Undangan Kolaborasi dari Berbagai Pihak

Wujudkan Visi Kampus Berdampak, UNJ Gelar FGD Diseminasi Pengabdian Masyarakat Program EQUITY LPDP

9 Duta Besar Hadiri Pertemuan Francophonie 2026, UNJ Fokus Perkuat Kerja Sama Internasional

Pemeringkatan Internasional UNJ Terus Melesat, Kini Masuk Peringkat 801+ versi THE Asia University Ranking

Jakarta, Humas UNJ – Prof. Khaled El-Anany, kandidat Direktur Jenderal UNESCO 2025-2029, memberikan kuliah umum kepada mahasiswa dan dosen di Aula Bung Hatta, Kampus UNJ, Rawamangun, pada 7 Mei 2025. Kuliah umum tersebut bertema “UNESCO in Ancient Egypt.”

Menurut Andy Hadiyanto selaku Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, kuliah umum ini merupakan salah satu bentuk kampanye yang dilakukan Prof. Khaled sebagai calon Direktur Jenderal UNESCO. “Prof. Khaled telah melakukan kampanye ke 50 negara untuk mengkampanyekan UNESCO dan merupakan seorang Arab-Mesir yang mencalonkan diri sebagai Direktur Jenderal UNESCO,” katanya.

Andy menambahkan bahwa kehadiran Prof. Khaled melalui kuliah umum ini adalah bagian dari upaya mengenali berbagai ragam kebudayaan dalam rangka mempromosikan perdamaian di masa depan.

Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Khaled berpandangan bahwa topik sejarah Mesir kuno bukan sekadar kisah sejarah, melainkan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang dan bagaimana peradaban terbangun melalui kisah manusia di Mesir masa lampau. “Sebuah peradaban yang sangat luar biasa, yang menciptakan sains selama ratusan tahun lalu,” katanya.

Dengan latar belakang keilmuannya sebagai egyptologist, Prof. Khaled telah mengungkapkan banyak rahasia dan penemuan fakta sejarah dari lebih dari 5.000 tahun lalu. Menurutnya, organisasi seperti UNESCO merupakan wadah penting yang didirikan pada tahun 1945 dan bergerak di bidang pendidikan, sains, kebudayaan, serta menjalankan misi perdamaian. “Perdamaian adalah tujuan utama dan mandatnya adalah untuk membangun perdamaian dan menyatukan masyarakat melalui pendidikan, sains, budaya, komunikasi, dan informasi,” katanya.

Prof. Khaled juga mengapresiasi peran Indonesia yang telah menjadi bagian dari UNESCO sejak tahun 1950 dan menjadi negara yang sangat penting bagi UNESCO. “Ketika UNESCO didirikan pada tahun 1945, memiliki satu tujuan, yaitu membangkitkan keinginan masyarakat, kebebasan, serta mengakhiri perang dunia. Jadi, kebebasan adalah alasan utama dalam ketetapan UNESCO,” katanya.

Menurutnya, UNESCO berperan strategis dalam banyak hal dan segala bidang kehidupan yang berkaitan dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kebebasan serta menggalang solidaritas global.