Sisca Amelia, Wisudawati Terbaik S2 Pendidikan Dasar FIP UNJ: Mundur Selangkah untuk Melompat Lebih Tinggi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Perkuat Kolaborasi Global dengan Filipina…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ — Menjadi lulusan program fast track bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, Sisca Amelia, lulusan Program Magister Pendidikan Dasar (Fast Track) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ) angkatan 2024, berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi dapat mengantarkannya menjadi salah satu wisudawati terbaik pada Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 Gelombang Kedua di Sesi Kedua pada 28 Oktober 2025, dengan raihan IPK 3,89.

Kecintaan Sisca terhadap dunia pendidikan tumbuh sejak ia menempuh studi di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP UNJ. Baginya, pendidikan bukan sekadar ilmu untuk mengajar, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan cara pandang terhadap kehidupan.

“Ilmu pendidikan bukan hanya untuk siswa, tetapi juga berguna bagi diri sendiri dalam memahami karakter anak, membangun hubungan positif, dan menumbuhkan nilai-nilai kehidupan,” ungkap Sisca.

Keputusan Sisca untuk melanjutkan studi melalui jalur fast track berawal dari cita-citanya menjadi dosen. Setelah sempat mengambil gap year selama satu tahun pasca-SMA, ia merasa lebih menghargai waktu dan ingin menebusnya melalui percepatan akademik.

“Saat semester tujuh ada pengumuman program fast track, saya merasa itu adalah rezeki. Saya bisa lanjut ke jenjang magister lebih cepat dan mempersiapkan diri untuk karier sebagai dosen,” tuturnya.

Didukung penuh oleh keluarga, terutama sang ibu yang menjadi motivator utama, Sisca menjalani program fast track dengan jadwal yang padat. Ia tetap aktif berorganisasi sambil menyelesaikan praktik mengajar dan penelitian. Strategi utamanya adalah disiplin dan konsistensi.

“Saya membuat daftar tugas harian yang sangat rinci, bahkan sampai pembagian jam. Semua dijalani dengan tanggung jawab agar tidak burnout,” jelasnya.

Perjalanan akademik Sisca tidak lepas dari tantangan. Ritme belajar yang cepat, tugas akhir sarjana yang bersamaan dengan perkuliahan magister, serta tekanan akademik menjadi ujian tersendiri. Namun, ia memilih untuk menikmati setiap prosesnya.

“Saya bukan tipe yang selalu rapi atau tidak pernah kewalahan. Tapi saya berusaha menikmati setiap fase dari rasa lelah, kebingungan, hingga kebahagiaan. Itu yang membuat saya bisa sampai di titik ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam tesisnya, Sisca mengangkat tema interaksi sosial antar teman sebaya dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan siswa (student well-being) di sekolah dasar. Ia menekankan bahwa kesejahteraan siswa tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang positif.

“Student well-being tumbuh dari relasi sosial yang sehat. Ketika anak merasa diterima dan didukung, mereka menjadi lebih percaya diri dan bahagia dalam belajar,” jelasnya.

Sisca juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan teman-teman yang telah mendukungnya selama studi. Ia menyebut Prof. Otib sebagai dosen pembimbing akademik yang pertama kali merekomendasikannya mengikuti jalur fast track, serta Bu Nina dan Bu Evita yang membimbing proses tesisnya dengan penuh perhatian.

“Saya bersyukur dikelilingi oleh lingkungan yang positif dan suportif. Dosen-dosen di UNJ bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing kehidupan,” katanya.

Bagi Sisca, jalur fast track bukan sekadar percepatan akademik, melainkan proses pendewasaan. Ia belajar berpikir kritis, beradaptasi, dan membangun ketahanan diri.

“Fast track ini melatih resiliensi. Saya belajar untuk terus berjalan walau situasi tidak selalu ideal. Bertahan dan tumbuh dalam kondisi itu justru menjadi pengalaman paling berharga,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan studi magister, Sisca berencana untuk mengajar sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Ia ingin menerapkan ilmunya langsung di lapangan sambil terus meneliti topik pendidikan dasar dan perkembangan anak.

Menutup wawancara, Sisca menyampaikan pesan kepada mahasiswa UNJ yang tertarik menempuh jalur fast track: “Pastikan tahu alasan dan tujuan mengikuti fast track, karena perjalanannya tidak mudah. Tapi kalau sudah yakin, jalani dengan konsisten dan nikmati prosesnya. Fast track bukan cuma soal percepatan, tapi juga soal tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan seimbang.”

Baginya, UNJ bukan sekadar kampus, melainkan rumah tempat ia bertumbuh.

“Kalau satu kata untuk menggambarkan pengalaman saya di UNJ, itu ‘berproses’. Karena di sinilah saya belajar tentang perjuangan, kedewasaan, dan arti menikmati perjalanan,” pungkas Sisca.