SPs UNJ Integrasikan Nilai Bela Negara dalam PPG untuk Bentuk Karakter Guru Profesional dan Nasionalis

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Resmi Buka Kejuaraan Tenis Profesor…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Bahas Domino dari Permainan Tradisional ke Olahraga Prestasi, Dekan FIKK UNJ Jadi Narasumber FGD PB PORDI

Rektor UNJ Apresiasi Juara Liga IKU dan Tegaskan Komitmen Kinerja Berdampak pada Penutupan Raker 2026

Rektor UNJ Tegaskan Kinerja Sistemik dan Sistematis untuk Wujudkan IKU Berdampak

Wujudkan Kampus Berintegritas, Kantor RB ZI UNJ Kawal 9 Unit Kerja Raih Predikat WBK

Gandeng Kedubes Prancis dan LPDP, UNJ Gelar Sosialisasi Beasiswa Studi ke Eropa

Jakarta, Humas UNJ – Sekretaris Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Suyono, menegaskan bahwa kegiatan bela negara bukan sekadar agenda rutin atau seremonial, melainkan bagian integral dari pembentukan karakter calon guru sebagai pendidik bangsa. Hal ini diungkapkan Prof. Suyono saat memberikan laporan sebagai pembina upacara pembukaan kegiatan Bela Negara di Sport Complex, Kampus B UNJ pada 13 Februari 2026 bagi peserta Pendidikan Profesi Guru Sekolah Pascasarjana (PPG SPs) UNJ.

Dalam laporannya, Prof. Suyono menyampaikan bahwa guru memiliki peran strategis tidak sekedar melaksanakan tugas mengajar di kelas.

“Guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, guru adalah penjaga nilai, penguat identitas kebangsaan, dan agen transformasi sosial,” ungkapnya.

Menurutnya, calon guru profesional harus memiliki kompetensi yang tidak hanya mencakup aspek akademik, tetapi juga integritas kebangsaan, kedisiplinan, kepemimpinan, serta ketangguhan moral dan mental.

Menurutnya berbagai rangkaian kegiatan seperti Peraturan Baris-Berbaris, wawasan kebangsaan, hingga api unggun dan perenungan malam memiliki makna pembinaan karakter dan refleksi mendalam.

Prof. Suyono menambahkan, di era disrupsi dengan perubahan sosial yang cepat dan perkembangan teknologi yang semakin kompleks, guru harus menjadi jangkar nilai.

“Guru dituntut mampu menanamkan nasionalisme, inklusivitas, semangat persatuan, serta daya juang kepada peserta didik,” katanya.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan kegiatan bela negara yang dinilai berhasil menyinergikan aspek akademik dan pembinaan karakter sebagai investasi strategis bagi peningkatan kualitas pendidikan.

“UNJ memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk melahirkan guru-guru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki semangat bela negara yang kuat,” tutupnya.

Sementara itu, Prof. Dedi Purwana selalu Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ menyampaikan bahwa aktivitas bela negara merupakan bagian penting dalam pembelajaran bagi peserta PPG SPs UNJ.

Dirinya berharap meskipun pelatihan ini dilaksanakan dalam waktu singkat, para peserta dapat memahami bahwa menjadi guru profesional tidak hanya menguasai empat kompetensi utama yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan personal tetapi juga memiliki sikap serta kemampuan bela negara sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam konteks PPG, Prof. Dedi menekankan bahwa proses rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun PPPK saat ini telah mengalami pembaruan dengan mengedepankan prinsip NKRI. Para guru diharapkan siap ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Prof. Dedi menilai, persoalan utama pendidikan di Indonesia bukan semata kekurangan guru, melainkan ketidakmerataan distribusi.

“Oleh karena itu, semangat bela negara menjadi penting untuk menumbuhkan komitmen pengabdian di mana pun ditempatkan,” ungkapnya.

Prof. Dedi juga berpesan agar peserta mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan menjaga kesehatan selama menjalani program PPG. “Selamat mengikuti pelatihan bela negara,” pungkasnya.

Kegiatan bela negara ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman sesaat bagi mahasiswa PPG Tahun 2026, tetapi juga menjadi titik awal penguatan komitmen pengabdian mereka sebagai calon pendidik bangsa. Melalui pembinaan karakter, kedisiplinan, serta internalisasi nilai-nilai kebangsaan, para peserta diharapkan mampu menjadi guru profesional yang adaptif di era disrupsi, sekaligus tetap teguh menjaga nilai persatuan, integritas, dan semangat bela negara di mana pun mereka mengabdi demi kemajuan pendidikan Indonesia.