Tak Menyerah Meski Raga Melemah, Kisah Perjuangan Bandiono Raih Gelar Doktor Manajemen Pendidikan UNJ di Usia 74 Tahun

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

FEB UNJ Jajaki Peluang Kerja Sama Internasional dalam Pertemuan Strategis dengan Kedutaan Prancis

FBS UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Cetak Lulusan Adaptif dan Kompetitif

Jakarta, Humas UNJ — Tidak ada yang pernah benar-benar siap melepas seseorang yang dicintai, terutama ketika mimpi besar yang diperjuangkannya tinggal selangkah lagi untuk diwujudkan. Hari itu, Selasa, 28 Oktober 2025, Gedung Olahraga Universitas Negeri Jakarta (GOR UNJ) menjadi saksi bisu sebuah kisah tentang cinta, keteguhan, dan pengabdian seorang ayah kepada ilmu. Prosesi Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 Gelombang Kedua di Sesi Kedua berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan, namun di tengah gegap gempita toga dan tepuk tangan, ada satu kursi yang menyimpan cerita paling menyentuh hari itu.

Di kursi itu, seorang putri bernama Imaniar Bandiono duduk diam dengan tangan merangkul erat sebuah bingkai foto besar. Tatapannya lurus ke depan, namun hatinya sepenuhnya tertuju pada wajah yang tersenyum dalam foto itu. Bingkai foto yang memajang wajah ayahnya, Almarhum  (Alm) Bandiono. Andai waktu memberi kesempatan sedikit lebih lama, ayahnya akan duduk di sana mengenakan toga dan menyematkan gelar doktor yang telah ia perjuangkan selama beberapa tahun lamanya. Namun takdir berkata lain. Sang ayah telah dipanggil pulang hanya empat hari sebelum ia berdiri di panggung kehormatan itu. Ia pergi pada Jumat, 24 Oktober 2025, dalam usia 74 tahun, pada saat mimpi tertingginya hanya tinggal satu langkah lagi.

Di antara ratusan wisudawan yang melangkah dengan bangga menuju masa depan masing-masing, Imaniar melangkah membawa masa lalu yang masih hangat dan perjuangan ayahnya yang belum sempat selesai ia rayakan bersama. Di panggung itu, bukan hanya air mata yang mengalir, namun juga rasa bangga yang sulit ditampung dalam dada. Ia maju bukan sebagai penerima gelar baru, tetapi sebagai pewaris kehormatan seorang pejuang ilmu yang hidupnya dihabiskan untuk menyalakan cahaya pengetahuan.

Perjalanan Bandiono meraih gelar doktor bukanlah kisah yang lewat begitu saja. Ia adalah kisah yang mengalir dari lembaran usia yang tidak lagi muda, dari tubuh yang mulai melemah, dari hati yang terus memelihara harapan setiap kali cobaan datang menghampiri. Ia tidak menapaki anak tangga akademik dengan mudah. Sebaliknya, ia melewati jalan yang penuh duri dan turunan curam. Ketika semangat para mahasiswa seusianya kadang harus disiram dengan motivasi, semangat Bandiono justru membakar inspirasi bagi mereka yang lebih muda darinya.

Sebagai mahasiswa Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Program Studi Manajemen Pendidikan UNJ, yang dahulu bernaung di Sekolah Pascasarjana dan kini berada di Fakultas Ilmu Pendidikan, Bandiono memulai perjalanannya bertahun-tahun lalu. Ia tak hanya membawa ke kampus tekad untuk menyelesaikan studi lanjutan, tetapi juga pengalaman panjang dalam dunia pendidikan yang sudah ia tekuni puluhan tahun. Namun pengalaman itu tidak serta-merta mempermudahnya. Tantangan akademik, teknis, dan fisik datang silih berganti.

Pernah di suatu waktu, seluruh data penelitiannya hilang seiring dengan raibnya laptop yang selama ini menjadi nyawa dari disertasinya. Perasaan hancur dan kehilangan yang begitu dalam sempat menyelimuti dirinya. Ia menatap layar kosong berkali-kali, seperti mencari keajaiban agar file itu kembali. Tetapi hidup tak pernah sesederhana itu. Ia harus memulai ulang dari awal. Dan ia melakukannya. Tidak dengan keluhan, tapi dengan tekad yang mungkin hanya dimiliki oleh mereka yang menyadari bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Tantangan kesehatan juga kerap menguji kesabaran dan kekuatannya. Tubuhnya tidak lagi berada pada kondisi terbaik, bahkan sering kali harus menyerah pada kasur rumah sakit. Ia sempat menjalani operasi yang membuat langkahnya semakin lambat dan suaranya semakin pelan. Namun setiap kali dokter meminta ia beristirahat, hatinya berkata sebaliknya: pekerjaan ini belum selesai. Dan dengan perlahan, ia kembali membuka buku, merapikan data, memperbaiki rancangan penelitian, dan menyiapkan diri untuk ujian berikutnya.

Di dalam keluarga, ia bukan hanya ayah. Ia adalah teladan hidup. Ia adalah guru pertama, pembimbing setiap langkah, dan penerang ketika kesedihan datang. Imaniar mengenang bagaimana ayahnya selalu memiliki cara sederhana untuk menyampaikan nasihat besar. “Ayah selalu bilang bahwa kita harus terus belajar, terus berbuat baik, dan selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama,” tuturnya dengan mata berair. Kini kata-kata itu terasa seperti pesan terakhir yang tak pernah akan pudar dari ingatannya.

Bandiono bukan hanya berjuang untuk menyelesaikan disertasinya. Ia berjuang untuk menunjukkan pada anak dan cucunya bahwa manusia harus terus menumbuhkan diri, meski usia terus berjalan ke depan. Baginya, meraih gelar doktor bukan tentang status akademik, melainkan tentang kehormatan untuk tidak berhenti belajar hingga akhir hayat. Ia ingin memberikan pelajaran nyata bahwa ilmu adalah bagian dari ibadah — dan ibadah itu wajib dilakukan sepanjang hidup.

Sayangnya, takdir selalu punya cara untuk menguji hati manusia. Ketika semua tahapan studi sudah ia tuntaskan dengan penuh perjuangan, ketika seminar hasil dan ujian tertutup telah ia jalani dengan kesabaran, tubuhnya semakin lemah. Pada tahun 2025, kesehatannya menurun drastis. Nafasnya semakin pendek. Komunikasi dengan para pembimbing semakin terbatas. Namun ia tetap memelihara keinginan untuk hadir di wisuda dan berdiri di podium sebagai seorang doktor.

Imaniar dan kedua kakaknya tidak pernah letih menyemangatinya. “Ayah, sebentar lagi wisuda,” demikian mereka berkata berulang-ulang, berharap harapan itu menjadi energi baru untuk membuat ayah mereka tetap bertahan. Dan setiap kali mendengar kalimat itu, cahaya kecil muncul di mata tua yang mulai meredup. Ia ingin sekali menyaksikan momen itu. Tuhan tahu ia ingin. Namun tak semua harapan dapat sejajar dengan takdir.

Pada 24 Oktober 2025, hanya empat hari sebelum hari yang telah ia nantikan selama bertahun-tahun, Bandiono menghembuskan napas terakhir. Kepergiannya begitu mendadak bagi keluarga, namun ia pergi setelah memastikan semua sudah terselesaikan. Ia menutup mata bukan dalam penyesalan, tetapi dalam kelegaan, karena mimpi yang ia perjuangkan kini terwujud.

Maka, di hari wisuda, bukan langkah kaki Bandiono yang terdengar di panggung. Melainkan langkah anaknya. Bukan tangan Bandiono yang menerima ijazah itu. Melainkan tangan putrinya. Namun semua orang tahu, gelar itu bukan tentang siapa yang berdiri di panggung hari itu. Gelar itu milik seorang ayah yang sudah memberikan seluruh hidupnya untuk ilmu.

Ketika nama Bandiono dipanggil dengan lantang oleh pembawa acara, seluruh ruangan berdiri memberikan penghormatan. Tepuk tangan menggema seperti petir yang tak hanya memekakkan telinga, tetapi menembus hati. Suara tepuk tangan itu seolah berkata pada langit: lihatlah, perjuangan seorang pejuang ilmu telah selesai. Ia telah lulus dari ujian dunia.

Di tengah tepuk tangan itu, Imaniar membawa foto ayahnya menapaki anak tangga panggung. Air mata menetes satu per satu, namun tidak mengalir karena sedih semata. Ada kebanggaan yang bercampur rindu yang tidak akan pernah terbalaskan. Ia tahu ayahnya hadir, meski tak terlihat. Ia tahu ayahnya tersenyum, meski tak lagi bersuara.

Karya disertasi Bandiono yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Iklim Organisasi, dan Motivasi terhadap Kinerja Dosen Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta” kini bukan sekadar syarat akademik. Ia adalah warisan yang akan terus hidup setelah sosoknya tiada. Ia adalah jejak pemikiran yang akan dibaca, ditelaah, dan mungkin menjadi rujukan bagi mereka yang terus belajar. Selama karyanya tetap hidup, Bandiono tidak pernah benar-benar pergi. Ilmunya mengikatnya dengan dunia, bahkan ketika tubuhnya telah menyatu dengan bumi.

Pada tanggal 28 Oktober, bangsa ini juga memperingati Hari Sumpah Pemuda, hari ketika semangat juang pemuda untuk mempersatukan negeri dikenang sepanjang zaman. Namun hari itu di UNJ, perjuangan tidak hanya menggema dalam diri para pemuda. Perjuangan itu hidup dalam diri seorang lelaki tua yang mengajarkan bahwa semangat juang tidak mengenal usia. Bahwa semangat untuk menjadi berguna bagi bangsa tidak hanya lahir dari darah muda, melainkan dari hati yang tidak mau menyerah hingga napas terakhir. Dalam sunyi dan doa, Bandiono menunjukkan satu hal: usia boleh renta, tapi mimpi harus tetap muda.

Bandiono mungkin tidak sempat memakai toga di panggung. Ia mungkin tidak sempat menundukkan kepala saat gelar doktornya disematkan resmi kepadanya. Namun ia telah menyelesaikan semua itu jauh sebelum wisuda berlangsung. Ia sudah lulus. Ia sudah menang. Dan kini, gelar doktor itu tidak hanya tertera pada ijazah. Gelar itu terukir di hati keluarga, sahabat, para dosen pembimbing, serta siapa saja yang mendengar kisah keteguhannya.

Pendidikan sering disebut sebagai jalan menuju masa depan. Namun bagi Bandiono, pendidikan adalah jalan menuju keabadian. Ia telah berjalan di jalan itu hingga ujung nafas terakhirnya, dan di sana ia menemukan bahwa ilmu bukan hanya alat untuk meraih gelar, tetapi cahaya yang tak akan pernah padam. Cahaya yang akan terus menyinari mereka yang ia tinggalkan.

Hari itu, seorang ayah tidak berdiri di panggung wisuda. Namun ia berdiri paling tinggi di hati semua orang yang menyaksikan keberanian dan ketabahannya. Ia mungkin telah pergi, namun kisahnya akan terus diceritakan. Ia mungkin telah berhenti melangkah, namun jejaknya akan terus menjadi panduan. Bandiono telah menyelesaikan perjalanan panjangnya. Kini ia beristirahat dengan tenang, dikelilingi oleh kebanggaan yang tidak lagi perlu ia ucapkan.

Selamat beristirahat, Dr. Bandiono, M.Pd. Perjuanganmu telah selesai. Mimpimu telah abadi. Dan namamu kini akan selalu dikenang sebagai pejuang ilmu yang menuntaskan cita-citanya hingga ke ujung napas terakhir, baik bagi keluarga maupun UNJ.