Jakarta, Humas UNJ – Indonesia–Korea Higher Education Forum (IKHEF) 2025 menghadirkan tiga pembicara kunci yang menyoroti peluang dan strategi penguatan kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Korea Selatan. Forum ini berlangsung pada Rabu, 13 Agustus 2025, di Aula Latief Hendraningrat, Gedung Raden Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Paparan pertama disampaikan oleh Dimas Haris, CEO Beasiswa Korea, dengan tema Menjembatani Indonesia dan Korea: Jalur Strategis dalam Kolaborasi Pendidikan Tinggi. Ia menekankan pentingnya kerja sama di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) sebagai fondasi kemajuan kedua negara.

Dimas menjelaskan berbagai program kolaboratif yang telah berjalan, seperti pertukaran pelajar, riset bersama, dan pemberian beasiswa oleh pemerintah maupun universitas di Korea Selatan. Saat ini, pemerintah Korea Selatan menargetkan kedatangan 300 ribu mahasiswa internasional pada tahun 2027 melalui penyederhanaan proses visa, peningkatan program berbahasa Inggris, dan penyediaan beasiswa. Indonesia menempati peringkat ke-7 sebagai negara pengirim mahasiswa terbanyak ke Korea Selatan, menunjukkan tingginya minat pelajar Indonesia untuk menempuh studi di Negeri Ginseng.
Faktor pendorong minat tersebut antara lain reputasi akademik universitas Korea Selatan di bidang STEM, fasilitas riset yang modern, serta daya tarik budaya populer Korea seperti K-Pop dan drama Korea. Dimas mendorong perluasan program kolaborasi agar jumlah mahasiswa Indonesia di Korea terus meningkat.
Paparan kedua disampaikan oleh Joshua Han dari Sejong University. Ia memperkenalkan profil universitas yang berlokasi di jantung Kota Seoul tersebut. Sejong University menawarkan program studi unggulan di jenjang S1, S2, dan S3, dengan populasi mahasiswa sekitar 21.467 orang, termasuk 5.038 mahasiswa internasional. Lingkungan multikultural ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan global, membangun jejaring internasional, dan mengembangkan keterampilan lintas budaya.
Sejong University secara konsisten masuk dalam jajaran 200 universitas terbaik dunia. Selain reputasi akademik yang kuat, kampus ini juga menyediakan berbagai beasiswa kompetitif bagi mahasiswa berprestasi, menjadikannya pilihan menarik bagi pelajar Indonesia yang ingin menempuh pendidikan bertaraf internasional.

Paparan ketiga disampaikan oleh Susilo, Kepala Kantor Urusan Internasional UNJ. Ia menegaskan bahwa IKHEF 2025 merupakan momen strategis untuk mempererat hubungan akademik antara Indonesia dan Korea Selatan. Susilo memaparkan potensi besar pendidikan tinggi Indonesia yang memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi, keragaman budaya, serta peluang riset di bidang pembangunan berkelanjutan dan kelautan.
Forum ini bertujuan memperkuat kemitraan akademik, mendorong pertukaran pengetahuan, berbagi praktik terbaik, dan membuka peluang kerja sama baru seperti program bersama, riset kolaboratif, dan mobilitas mahasiswa. Meski dihadapkan pada tantangan seperti kesenjangan pendanaan, perbedaan kurikulum, dan hambatan bahasa, solusi yang diusulkan meliputi peningkatan investasi dan pengembangan kurikulum bersama.

Susilo menutup paparannya dengan ajakan untuk membangun strategi masa depan yang mengedepankan pendanaan berkelanjutan, komitmen bersama, dan dukungan dari pemerintah kedua negara. Menurutnya, konsistensi dan keberlanjutan kerja sama akan memberikan dampak jangka panjang bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia dan Korea Selatan.