Jakarta, Humas UNJ – Sekilas, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Kabupaten Mappi di Provinsi Papua Selatan tampak berada pada dua dunia yang berbeda. UNJ tumbuh di tengah hiruk-pikuk metropolitan Jakarta, sedangkan Kabupaten Mappi berkembang di kawasan selatan Papua yang didominasi bentang rawa, sungai, dan hutan tropis. Namun, jika ditelaah lebih mendalam, keduanya memiliki benang merah sejarah yang menarik. Persamaan tersebut setidaknya terlihat pada tiga aspek penting, yaitu sama-sama lahir dan berkembang dari kawasan rawa, sama-sama mengalami transformasi kelembagaan pada era Reformasi Indonesia, serta memiliki semangat yang sama untuk terus maju membangun institusi dan masyarakat.
Berangkat dari Identitas Rawa sebagai Ruang Kehidupan dan Peradaban
Persamaan pertama antara UNJ dan Kabupaten Mappi terletak pada identitas geografis yang sama-sama berakar pada kawasan rawa. Bagi keduanya, rawa bukan sekadar kondisi alam, melainkan fondasi sejarah yang membentuk identitas wilayah.
UNJ berdiri di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Nama “Rawamangun” sendiri berasal dari dua kata, yaitu “rawa” yang berarti lahan basah atau berair dan “mangun” yang berarti membangun atau mengembangkan. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini pada masa kolonial Belanda merupakan hutan lebat yang dipenuhi rawa-rawa. Seiring perkembangan Batavia, kawasan tersebut perlahan direklamasi, ditata, dan berkembang menjadi kawasan permukiman, pendidikan, olahraga, kesehatan, hingga akhirnya menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi melalui berdirinya IKIP Jakarta yang kemudian berkembang menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Makna filosofis Rawamangun sesungguhnya sangat kuat. Kata “mangun” menunjukkan proses pembangunan yang dilakukan di atas lahan yang sebelumnya dianggap sulit dimanfaatkan. Dari kawasan rawa lahirlah pusat ilmu pengetahuan yang kini menjadi salah satu universitas terkemuka di Indonesia.
Hal serupa dapat ditemukan di Kabupaten Mappi. Kabupaten hasil pemekaran dari Merauke ini dikenal sebagai “Negeri Sejuta Rawa Produktif”. Sekitar 70 persen wilayahnya berupa dataran rendah yang didominasi rawa permanen, hutan sagu, nipah, serta jaringan sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Berbeda dengan pandangan yang sering menganggap rawa sebagai daerah tertinggal, masyarakat Mappi justru menjadikan rawa sebagai sumber kehidupan. Sungai menjadi jalur transportasi utama, hutan sagu menjadi sumber pangan, sementara rawa menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat adat.
Baik Rawamangun maupun Mappi menunjukkan bahwa rawa bukanlah simbol keterbelakangan, melainkan ruang kehidupan yang mampu melahirkan peradaban baru. Jika Rawamangun berhasil bertransformasi menjadi pusat pendidikan nasional, maka Mappi memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat pembangunan berkelanjutan di Papua Selatan dengan tetap menjaga kekayaan ekologinya.
Dengan demikian, keduanya sama-sama mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari wilayah yang sempurna. Justru dari kawasan rawa lahir semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sama-sama Mengalami Transformasi Institusi pada Era Reformasi
Persamaan kedua terletak pada perjalanan transformasi kelembagaan yang berlangsung seiring perubahan tata kelola pemerintahan Indonesia, khususnya pada masa Reformasi.
Perjalanan UNJ merupakan contoh nyata bagaimana institusi pendidikan terus menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman. Akar sejarahnya dimulai dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) tahun 1954, kemudian mengalami berbagai integrasi menjadi FKIP Universitas Indonesia, dilanjutkan menjadi IKIP Jakarta pada tahun 1964 melalui kebijakan nasional penyatuan pendidikan guru.
Perubahan paling penting terjadi pada tahun 1999 ketika IKIP Jakarta resmi berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 93 Tahun 1999. Perubahan ini berlangsung pada awal era Reformasi, ketika Indonesia sedang melakukan pembaruan besar dalam sistem pemerintahan, pendidikan, dan demokrasi.
Transformasi tersebut bukan sekadar perubahan nama, tetapi juga perubahan paradigma. UNJ tidak lagi hanya menjadi lembaga pencetak guru, melainkan berkembang menjadi universitas komprehensif yang mengembangkan ilmu kependidikan maupun nonkependidikan, memperluas riset, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Kabupaten Mappi juga lahir dalam semangat reformasi yang sama. Melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002, Mappi resmi dimekarkan dari Kabupaten Merauke sebagai bagian dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah pascareformasi.
Pembentukan Mappi bertujuan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat, mempercepat pembangunan wilayah, serta memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat lokal untuk menentukan arah pembangunan daerahnya sendiri.
Dengan status sebagai kabupaten baru, Mappi memperoleh kesempatan membangun struktur pemerintahan, pelayanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga penguatan ekonomi masyarakat sesuai karakteristik lokalnya.
Jika UNJ melakukan transformasi dari institut menjadi universitas, maka Mappi melakukan transformasi dari wilayah administratif menjadi daerah otonom. Keduanya sama-sama mengalami perubahan kelembagaan yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa reformasi bukan hanya menghasilkan perubahan politik nasional, tetapi juga melahirkan institusi-institusi baru yang lebih adaptif, responsif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Memiliki Semangat Bersama untuk Terus Maju Membangun Institusi dan Masyarakat
Persamaan ketiga merupakan persamaan yang paling substansial, yaitu semangat untuk terus berkembang dan membangun masa depan.
UNJ selama beberapa dekade menunjukkan transformasi yang konsisten. Dari lembaga pendidikan guru, UNJ berkembang menjadi universitas modern dengan berbagai fakultas, pusat riset, kerja sama internasional, inovasi pendidikan, hingga komitmen menjadi universitas bereputasi dunia. Transformasi menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) semakin memperkuat posisi UNJ sebagai institusi yang terus melakukan pembaruan demi meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Semangat yang sama juga tampak pada masyarakat Kabupaten Mappi. Meskipun berada di kawasan yang memiliki tantangan geografis besar, masyarakat Mappi dikenal memiliki keinginan kuat untuk maju. Antusiasme terhadap pendidikan terus meningkat, demikian pula partisipasi masyarakat dalam demokrasi, pembangunan daerah, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Karakter masyarakat Mappi yang adaptif terhadap perubahan menjadi modal sosial yang sangat penting. Berbagai komunitas adat tetap mempertahankan identitas budayanya, namun pada saat yang sama terbuka terhadap pendidikan modern, teknologi, dan pembangunan.
Dalam konteks inilah kerja sama antara UNJ dan Pemerintah Kabupaten Mappi memiliki makna strategis. Program seperti 1.000 Sarjana Mappi bukan sekadar memberikan akses kuliah kepada generasi muda Papua Selatan, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan semangat dua institusi yang sama-sama percaya bahwa pendidikan adalah kunci perubahan.
UNJ menghadirkan pengalaman akademik, keilmuan, dan inovasi, sementara Mappi menghadirkan semangat generasi mudanya untuk belajar dan kembali membangun daerah. Hubungan tersebut mencerminkan kolaborasi yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun Indonesia dari berbagai penjuru.
Pada akhirnya, baik UNJ maupun Kabupaten Mappi sama-sama membuktikan bahwa perjalanan sebuah institusi tidak ditentukan oleh kondisi awalnya, melainkan oleh keberanian untuk terus berubah. Dari kawasan rawa lahir pusat pendidikan nasional dan daerah otonom yang terus bertumbuh. Dari semangat reformasi lahir transformasi kelembagaan. Dan dari tekad untuk membangun manusia, keduanya terus melangkah menuju masa depan yang lebih inklusif, maju, dan berkelanjutan. Melalui nilai-nilai tersebut, UNJ dan Kabupaten Mappi menunjukkan bahwa pembangunan sejati selalu berakar pada kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang serta menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan masyarakat.