
Jakarta, Humas UNJ – Program Studi Sarjana dan Magister Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (Prodi S1 dan S2 Pendidikan Geografi FISH UNJ) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan jejaring akademik global melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional bertajuk “Application of Quantitative Research Method in Urban Environment Using Geospatial Analysis” pada 12 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan pakar geospasial dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Nor Aizam Adnan, yang membagikan pengalaman dan perkembangan terkini terkait pemanfaatan metode penelitian kuantitatif berbasis teknologi geospasial dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan dan pembangunan wilayah.
Kuliah tamu yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti tersebut menjadi ruang akademik strategis untuk memperluas wawasan mengenai penerapan Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) dan penginderaan jauh (remote sensing) dalam berbagai bidang kajian geografi modern. Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Dr. Nor Aizam Adnan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi geospasial telah mendorong lahirnya pendekatan penelitian yang lebih akurat, terukur, dan berbasis data spasial sehingga mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih efektif.
“Teknologi geospasial saat ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi, memantau, hingga memodelkan berbagai fenomena lingkungan secara komprehensif. Dengan dukungan data satelit dan analisis spasial, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih tepat dan berbasis bukti ilmiah,” jelasnya.

Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar penginderaan jauh, pemanfaatan berbagai sumber data satelit seperti Landsat, Sentinel, Terra, Aqua, dan SNPP, hingga penerapannya dalam penelitian lingkungan perkotaan. Narasumber menekankan pentingnya pemilihan data satelit berdasarkan karakteristik resolusi spasial, temporal, dan spektral sesuai kebutuhan penelitian agar menghasilkan analisis yang optimal.
Salah satu topik yang mendapat perhatian besar peserta adalah pemodelan dan pemetaan banjir (flood modelling and mapping). Melalui integrasi GIS, data hidrologi, dan metode statistik, para peneliti dapat menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi terjadinya banjir, mulai dari perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, deforestasi, curah hujan, kapasitas drainase, hingga pengaruh pasang surut laut. Berbagai perangkat lunak seperti ArcGIS, HEC-HMS, HEC-RAS, dan ERDAS Imagine turut diperkenalkan sebagai instrumen penting dalam proses simulasi dan analisis kebencanaan.
Selain isu kebencanaan, peserta juga memperoleh wawasan mengenai pemanfaatan GIS dalam simulasi perubahan penggunaan lahan dan pengembangan wilayah hingga tahun 2080 melalui pendekatan Multi-Criteria Analysis (MCA). Metode tersebut dinilai sangat relevan untuk mendukung perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan responsif terhadap dinamika lingkungan.
Pada sesi berikutnya, pembahasan berfokus pada pengelolaan wilayah pesisir. Narasumber memaparkan bagaimana teknologi geospasial digunakan untuk memetakan garis pantai, menganalisis erosi dan akresi, serta menilai tingkat kerentanan pesisir terhadap dampak perubahan iklim. Pemanfaatan data satelit Sentinel dan SPOT yang dikombinasikan dengan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) memberikan informasi yang sangat penting bagi pengambil kebijakan dalam merancang strategi perlindungan kawasan pesisir.
Kajian mengenai evaluasi kesesuaian lahan pertanian juga menjadi bagian menarik dalam kuliah tamu tersebut. Dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Weighted Overlay Analysis, peneliti dapat mengidentifikasi kawasan yang potensial untuk pengembangan pertanian produktif berdasarkan berbagai parameter seperti topografi, jenis tanah, iklim, aksesibilitas, dan ketersediaan sumber daya air.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Salah satu pertanyaan mahasiswa menyoroti strategi mitigasi banjir di Malaysia melalui pembangunan SMART Tunnel (Stormwater Management and Road Tunnel) di Kuala Lumpur. Menanggapi hal tersebut, Nor Aizam menjelaskan bahwa infrastruktur multifungsi tersebut dirancang untuk mengurangi risiko banjir kilat sekaligus mendukung mobilitas perkotaan, sehingga menjadi contoh implementasi solusi rekayasa yang terintegrasi dalam pengelolaan bencana perkotaan.

Koordinator Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Geografi FISH UNJ, Samadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi akademik sekaligus penguatan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan yang semakin kompleks.
“Kolaborasi dengan akademisi internasional seperti UiTM memberikan nilai tambah yang sangat penting bagi mahasiswa dan dosen kami. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai metode penelitian kuantitatif dan analisis geospasial, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, kebencanaan, tata ruang, hingga pembangunan wilayah. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berkembang menjadi kolaborasi riset, publikasi internasional, serta pertukaran akademik yang semakin memperkuat daya saing Pendidikan Geografi UNJ di tingkat global,” ujar Samadi.
Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, Program Studi S1-S2 Pendidikan Geografi FISH UNJ menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan ini sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Malaysia dalam mendukung pengembangan keilmuan geografi, teknologi geospasial, serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.