JAKARTA, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta memperkuat langkah internasionalisasi dan peningkatan mutu tata kelola perguruan tinggi melalui kemitraan strategis dengan lembaga konsultan pendidikan global, QASPIR Internasional. Penguatan program ini diawali dengan pelaksanaan Persiapan Pelatihan Transformasi Pendidikan (Transformative Educator Program) yang berlangsung di Ruang Rapat Gedung Moh. Syafei Lantai 6, Kampus UNJ Rawamangun, pada Selasa (27/10/26). Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni dari seluruh fakultas, serta para Koordinator Program Studi di lingkungan UNJ.
Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar, menegaskan urgensi pendidikan transformatif di era disrupsi. Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan teknis (teaching paradigm), melainkan harus beralih ke paradigma pembelajar aktif (learning paradigm) yang berorientasi pada perubahan cara pandang secara kritis (transformative learning).

“Transformasi pendidikan adalah kunci untuk membentuk lulusan yang reflektif, mandiri, dan mampu beradaptasi dengan dinamika global. Melalui kolaborasi bersama QASPIR, UNJ berkomitmen membekali para pimpinan prodi dan dosen agar mampu merekonstruksi praktik pembelajaran di kelas sehingga lebih berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujar Prof. Ifan.
Sementara itu, CEO QASPIR, Stuart, hadir untuk memberikan paparan komprehensif mengenai peta jalan Transformative Educator Program (TEP) yang dirancang bersama institusi mitra global, termasuk Universitas Central Oklahoma (UCO). Dalam sesi paparannya, Stuart menjelaskan kerangka kerja program kepemimpinan akademik fase pertama bagi UNJ yang menggabungkan asesmen diagnostik, pembelajaran mandiri terstruktur melalui platform QEDEX, serta sesi refleksi daring yang interaktif.


“Pembelajaran transformatif bermula dari refleksi kritis dosen terhadap cara mengajarnya, evaluasi asumsi, hingga perancangan desain kurikulum terbalik (backward design) dan rubrik evaluasi yang tepat. Kami merancang ekosistem pembelajaran ini agar terhubung secara berkelanjutan, mulai dari penilaian berbasis portofolio hingga pengakuan sertifikasi internasional (Certified Transformative Learning Practitioner),” jelas Stuart dalam presentasinya.
Pelatihan Transformative Educator Program (TEP) untuk kelompok ini akan berlangsung intensif selama delapan pekan mulai akhir Oktober hingga 23 Desember 2026. Program ini mencakup empat modul utama, yakni Introduction to Transformative Learning, Operationalizing TL in the Classroom, Assessing the Impact of Transformative Learning, Becoming Agents of Change for Transformative Learning.

Secara garis besar, kegiatan ini harapannya dapat membangun kapasitas pimpinan dalam menggerakkan budaya Transformative Learning di seluruh lingkungan UNJ. Pendekatan ini menekankan refleksi kritis, sehingga mahasiswa terdorong menguji asumsinya sendiri dan tumbuh menjadi pemikir mandiri.
Rangkaian program ini juga akan didampingi oleh Master Facilitator QASPIR Indonesia, Prof. Eko Indrajit, beserta tim akademik pendamping, guna memastikan implementasi kurikulum transformatif dapat langsung terintegrasi ke dalam mata kuliah di seluruh prodi UNJ. Melalui inisiatif ini, UNJ menegaskan perannya sebagai pelopor transformasi mutu pembelajaran tinggi berstandar internasional di Indonesia.