UNJ Dorong Desa Bulak Indramayu Jadi Desa Wisata Mandiri

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ dan Kedutaan Besar Filipina Gelar…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Gelar Grand Final Pilmapres 2026, Ini Daftar Juaranya!

Pesantren 1000 Cahaya Ramadhan, Wujud Kepedulian Sosial dan Pembinaan Karakter Mahasiswa UNJ

Terima Kunjungan Kedubes Myanmar, UNJ Tawarkan Keunggulan Program Sarjana Terapan Teknik Sipil

Kawal Akreditasi Unggul, UNJ Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Institusi Berbasis Aturan Terbaru

Perkuat Jejaring Akademik Global, Dua Guru Besar UNJ Jadi Keynote Speaker Konferensi Internasional DCEST 2026 di Vietnam

Indramayu, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) gelar FGD melalui kegiatan bertema “FGD Penyamaan Persepsi dan Penegasan Komitmen Pemangku Kebijakan dan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Bulak, Kec. Jatibarang, Kabuapten Indramayu Sebagai Desa Wisata” yang terlaksana di Gardena, Kabupaten Indramayu pada 10-11 Maret 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendorong Desa Bulak Indramayu Jadi Desa Wisata mandiri sekaligus meningkatkan komitmen keterlibatan elemen masyarakat melalui peluang pariwisata berbasis potensi kearifan lokal.

Kegiatan itu juga dihadiri oleh Mardono selaku Camat Jatibarang, Ahmad Syadali selaku Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dispara), Forum Komunikasi RT/RW Kabupaten Indramayu (Fokorgaki), Pokdarwis, Karangtaruna, PKK, Paguyuban UMKM, Bumdes, Koperasi Desa dan perwakilan masyarakat lainnya serta para pimpinan UNJ.

Pada kesempatan itu Rektor UNJ, Prof. Komarudin berkomitmen mendorong pengembangan Desa Bulak menjadi desa wisata yang hidup dan mandiri.

Dalam forum itu Prof. Komarudin juga menekankan pentingnya komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan Desa Bulak sebagai desa wisata.

Prof. Komarudin menambahkan bahwa program pengembangan desa wisata tidak akan berjalan tanpa partisipasi aktif masyarakat.

“Program ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada kerja sama bersama.” ujarnya.

Prof. Komarudin juga menjelaskan bahwa UNJ akan melakukan pendampingan dalam mempersiapkan berbagai kegiatan, termasuk rencana penyelenggaraan festival budaya yang diharapkan menjadi pemicu kebangkitan pariwisata desa.

Selain kegiatan budaya, pengembangan Desa Bulak juga akan menggali beragam potensi termasuk salah satunya pengembangan sejarah yang dimiliki desa tersebut seperti kawasan situs Buyut Banjar yang sejak lama dikenal sebagai pusat destinasi wisata religi.

Rektor UNJ menjelaskan bahwa proses pengembangan Desa Bulak telah dimulai sejak 2024 melalui berbagai riset yang dilakukan oleh tim akademisi UNJ. Pada 2025, kegiatan dilanjutkan dengan tahap penjajakan dan pelaksanaan sejumlah program yang menyentuh pengembangan potensi wisata serta pemberdayaan masyarakat.

Prof. Komarudin menambahkan bahwa untuk tahun 2026 ini fokus kegiatan diarahkan pada penguatan sektor pariwisata melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang secara langsung mendukung pengembangan desa wisata.

“Target capaian yaitu desa Bulak pada tahun 2027 menuju berkembang serta pada 2028 menuju desa wisata maju, dan mencapai status desa wisata mandiri pada 2029 tanpa lagi memerlukan pendampingan dari UNJ.” katanya.

Menurut Prof. Komarudin, kunci utama keberhasilan pengembangan desa wisata terletak pada tata kelola kelembagaan yang baik.

“Tata kelola adalah hal yang paling utama. Di mana pun, agar sebuah program bisa hidup, berkembang, dan memberikan hasil positif, harus didukung tata kelola yang baik,” ujarnya.

Ia berharap berbagai upaya yang dilakukan UNJ bersama masyarakat Desa Bulak dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Pada kesempatan itu Mardono selaku Camat Jatibarang mengatakan dukungannya terhadap upaya transformasi desa Bulak menjadi desa wisata berbasis masyarakat.

Menurutnya, pengembangan desa wisata memerlukan strategi holistik untuk mentransformasi potensi lokal menjadi destinasi wisata berbasis kearifan lokal. Upaya ini diharapkan mampu melestarikan budaya, mengoptimalkan sumber daya desa, serta meningkatkan perekonomian masyarakat secara inklusif.

Dirinya menilai sejumlah potensi dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, salah satunya keberadaan kera di kawasan petilasan Buyut Banjar. Selain itu, posisi strategis jalur Jatibarang–Karangampel juga dinilai mendukung konsep stopover tourism atau wisata singgah yang dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Mardono menegaskan bahwa Kecamatan Jatibarang berkomitmen mendukung terwujudnya Desa Bulak sebagai desa wisata. dirinya juga menyebut terdapat lima tahap penting dalam pengembangannya, yakni perencanaan dan penyamaan persepsi, penataan fisik kawasan wisata Banjar Indah, pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, promosi wisata serta penyelenggaraan event budaya, hingga penetapan Desa Bulak sebagai destinasi unggulan di Indramayu.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Indramayu (Dispara), Ahmad Syadali, mengapresiasi inisiatif pengembangan Desa Bulak sebagai desa wisata serta mengajak seluruh warga untuk menjaga kekompakan. Menurutnya, keberhasilan program desa wisata sangat bergantung pada komitmen bersama masyarakat.

Ahmad Syadali mengaku terharu melihat kebersamaan para ketua RT dan RW yang hadir dan berharap kekompakan tersebut menjadi modal utama keberhasilan pengembangan desa wisata Bulak.

Dirinya menilai Desa Bulak memiliki potensi besar untuk menjadi desa wisata yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, terutama dalam membuka lapangan kerja dan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis warga lokal.

Selain itu, pengembangan desa wisata juga dinilai dapat mendorong diversifikasi ekonomi masyarakat yang selama ini didominasi sektor pertanian. Pemerintah Kabupaten Indramayu sendiri tengah mendorong pengembangan wisata.

Meski demikian, dirinya mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur wisata, serta kondisi fiskal daerah. Karena itu, pemerintah daerah akan berupaya fokus pada penguatan infrastruktur dan berharap pengembangan Desa Bulak dapat berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan perguruan tinggi.

Perwakilan Forum Komunikasi RT/RW Kabupaten Indramayu (Forkobi), Mahmud, menekankan pentingnya legalitas dan kebersamaan dalam pengembangan Desa Bulak sebagai desa wisata. Menurutnya, kejelasan aturan perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

Sementara itu, Ketua BUMDes Desa Bulak, Eko Purnomo, mengapresiasi langkah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang berinisiatif mendukung pembangunan desa. Ia berharap adanya dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk bersama-sama membangun Desa Bulak.

Dukungan juga disampaikan oleh Prof. Iwan Sugihartono dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (LPPM UNJ). Prof. Iwan Sugihartono selaku Ketua LPPM UNJ berharap masyarakat dan pemerintah desa dapat mendukung program-program yang dibawa tim UNJ saat melakukan kegiatan di lapangan.

Selain itu, LPPM UNJ juga menggagas pembangunan monumen ikonik berupa patung monyet memegang mangga sebagai simbol sejarah Desa Bulak. Rencananya, monumen tersebut akan dilengkapi prasasti yang ditandatangani Rektor UNJ. Dalam waktu dekat, UNJ bersama pemerintah desa juga merencanakan penyelenggaraan festival budaya pada Oktober mendatang serta diskusi lanjutan terkait lokasi diorama dan teknis pelaksanaannya.

Melalui kegiatan FGD ini, UNJ menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi proses transformasi Desa Bulak menjadi desa wisata yang berdaya saing dan berbasis kearifan lokal. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta masyarakat diharapkan dapat mempercepat pengembangan potensi wisata sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Dengan langkah kolaboratif tersebut, Desa Bulak diharapkan mampu tumbuh sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Indramayu yang tidak hanya menjaga nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.