
Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) kembali melangkah nyata dalam mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Kali ini, UNJ hadir di Kabupaten Indramayu, menyasar Pesantren Nahdlatul Mubtadi’in Al Islami, sebuah pesantren di tengah pedesaan yang memiliki visi besar mencetak santri yang mandiri, terampil, dan berdaya saing di era ekonomi kreatif.
Kegiatan yang digelar pada 8–9 Agustus 2025 ini mengusung tema “Pengembangan Desain Ekosistem Kewirausahaan sebagai Penggerak Industri Kreatif” dan diikuti oleh guru, pengurus organisasi santri, serta santri senior. Program ini menjadi bukti komitmen UNJ dalam memperkuat peran pesantren sebagai motor penggerak ekonomi lokal, sekaligus memperluas dampak pendidikan ke ranah sosial dan ekonomi.
Acara dibuka dengan sambutan pimpinan tim P2M UNJ, Andy Hadiyanto. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari nota kesepahaman (MoU) antara UNJ dan Pemerintah Kabupaten Indramayu. Lebih dari sekadar pelatihan, program ini dirancang untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
“Kami ingin memastikan pesantren tidak hanya menjadi pusat literasi keagamaan, tetapi juga pusat literasi ekonomi dan sosial yang berkelanjutan,” ujar Andy.
Ia kemudian memberikan analogi yang membekas dengan menyatakan bahwa pesantren harus meneladani “kuburan wali” yang meskipun pemiliknya telah wafat, tetap menghidupi masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, pesantren harus membentuk pribadi yang saleh secara spiritual dan tangguh secara ekonomi.
Andy menambahkan, kemitraan dengan pesantren di Indramayu akan terus dijalin. Dengan visi yang jelas dan dukungan program tepat, pesantren dapat menjadi lumbung ide dan inovasi yang memberdayakan. “Pesantren bukan hanya benteng moral, tetapi juga pusat inovasi yang bisa menggerakkan masyarakat,” tegasnya.
Pimpinan Pesantren Nahdlatul Mubtadi’in Al Islami, KH. Amani Lutfi, menceritakan perjalanan pesantren yang berdiri sejak 2016 dengan tekad tidak menjadi beban negara. Pesantren ini memiliki program life skills seperti peternakan bebek dan kambing, budidaya lele, perkebunan, hingga pelatihan kewirausahaan.
Meski begitu, KH. Amani mengakui masih ada tantangan besar di bidang pemasaran dan hilirisasi produk. “Kami ingin santri kami tidak hanya pandai membaca kitab, tapi juga mampu membaca peluang,” ujarnya. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pendirian Balai Latihan Kerja (BLK) yang terbuka bagi santri dan warga sekitar, sebagai pusat pelatihan keterampilan dan inkubasi usaha.

Program P2M UNJ kali ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu: (1) Memberikan pemahaman mendalam tentang konsep ekosistem kewirausahaan dan relevansinya dalam industri kreatif; (2) Meningkatkan kemampuan peserta dalam merancang rencana pengembangan kewirausahaan yang realistis; dan (3) Membekali keterampilan praktis agar peserta dapat langsung memulai inisiatif bisnis.
Metode yang digunakan memadukan teori, studi kasus, diskusi kelompok, dan simulasi praktik. Peserta diajak memetakan potensi pesantren, mulai dari aset lahan, keterampilan yang ada, hingga jaringan pemasaran. Dari pemetaan ini, mereka menyusun action plan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Selain itu, pelatihan juga membekali peserta dengan kemampuan membuat media bisnis digital untuk promosi dan penjualan. Dengan strategi ini, pesantren diharapkan dapat masuk ke ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas, termasuk memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar.
Salah satu hasil utama dari program ini adalah dokumen action plan pengembangan kewirausahaan berbasis pesantren yang memuat strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Tak hanya itu, tim juga membantu membuat media bisnis digital sebagai sarana promosi dan transaksi. Platform ini akan dikelola bersama oleh guru, pengurus organisasi santri, dan santri senior, untuk memastikan keterlibatan semua pihak. Pendekatan ini dianggap tepat karena menggabungkan penguatan internal pesantren dengan pemanfaatan peluang eksternal. “Kami ingin membangun ekosistem, bukan sekadar usaha kecil yang berjalan sendiri-sendiri,” jelas Andy.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam sesi diskusi dan praktik. Banyak santri senior mengaku mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya pemasaran dan jejaring usaha. “Dulu kami fokus pada produksi, sekarang kami paham pentingnya membangun jaringan dan strategi penjualan,” ungkap salah satu peserta.
Para guru dan pengurus pesantren menilai pelatihan ini relevan dengan tantangan nyata yang mereka hadapi. Harapan besar pun muncul agar kegiatan ini tidak berhenti di tahap pelatihan, melainkan dilanjutkan dengan pendampingan jangka panjang oleh UNJ.
Menutup kegiatan, UNJ dan Pesantren Nahdlatul Mubtadi’in Al Islami sepakat melanjutkan sinergi ini. Keduanya melihat peluang besar menjadikan pesantren sebagai model pengembangan sumber daya manusia yang holistik dengan memadukan kekuatan moral dan spiritual dengan keterampilan ekonomi kreatif.
Jika visi ini berhasil diwujudkan, pesantren tidak hanya menjadi pusat dakwah, tetapi juga pusat penggerak ekonomi dan inovasi sosial. Seperti pesan yang diangkat dalam kegiatan ini, pesantren diharapkan menjadi seperti “kuburan wali” yang manfaatnya tak pernah mati dan selalu memberi kehidupan dan keberkahan bagi masyarakat sekitarnya di masa kini dan masa depan.