UNJ Gelar FGD Strategi Menuju World Class University

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tutup PKKMB 2025, Lebih dari…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Pembekalan Keprotokolan Duta UNJ untuk Meningkatkan Profesionalisme Representasi Universitas

Perkuat Link and Match, FPsi UNJ Gelar Employer Meeting untuk Siapkan Lulusan Psikologi Future Ready

Monitoring Awal Program EQUITY, UNJ Tegaskan Komitmen Akuntabilitas dan Dampak Internasional

Employer Meeting FEB UNJ 2026, Dorong Kolaborasi Kampus, Industri, dan Pemerintah untuk Siapkan Lulusan Tangguh dan Berkualitas

Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UNJ Selenggarakan Konferensi Internasional, Pendidikan Era Digital Jadi Fokus Pembahasan

Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi UNJ Menuju World Class University (WCU) pada Senin, 4 Agustus 2025, di Ruang Pertemuan Gedung Syafei Lantai 8, Kampus A UNJ. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Hermawan Kresno Dipojono, Ketua Tim WCU Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai narasumber utama.

FGD dibuka secara resmi oleh Rektor UNJ, Prof. Komarudin, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya komitmen seluruh sivitas akademika dalam mendukung transformasi UNJ menuju universitas kelas dunia. Ia menegaskan bahwa cita-cita menjadi WCU hanya dapat dicapai melalui keseriusan dan kerja kolektif.

“Kalau ditanya serius atau tidak, jawabannya adalah serius. Rektornya serius. Karena tinggal dua setengah tahun lagi masa jabatan saya, dan saya berharap akan ada penerus yang semangatnya lebih kuat untuk membawa UNJ menjadi universitas kelas dunia,” ujar Prof. Komarudin.

Rektor juga menyoroti pentingnya menjaga identitas UNJ sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sembari mengembangkan keunggulan di berbagai bidang lainnya. Ia berharap forum ini dimanfaatkan secara optimal untuk merumuskan strategi yang relevan dan aplikatif dalam mewujudkan UNJ sebagai bagian dari jajaran universitas top dunia.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UNJ, termasuk para wakil rektor, ketua Senat Akademik, sekretaris Majelis Wali Amanat, direktur pascasarjana, dekan, kepala lembaga, serta dosen dari berbagai fakultas. FGD berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dan menjadi momentum strategis dalam membangun kesadaran kolektif untuk menyiapkan UNJ agar berdaya saing global.

Dalam paparannya, Prof. Hermawan menekankan bahwa transformasi menuju WCU bukan semata-mata soal peringkat, melainkan menyangkut peningkatan kualitas riset, kolaborasi internasional, dan kontribusi nyata terhadap permasalahan lokal maupun global.

“Ranking memang tidak disukai, tapi semua orang mengeceknya. Ia mencerminkan kualitas dan reputasi. Universitas hebat bukan hanya punya gedung megah, tapi menghasilkan karya ilmiah yang berdampak,” ungkap Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB itu.

Ia menilai UNJ memiliki potensi besar, namun perlu keluar dari zona nyaman. Indikator seperti produktivitas riset, jumlah publikasi terindeks, kolaborasi internasional, serta jumlah dosen dengan H-index tinggi perlu ditingkatkan. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang berani mengambil risiko dan mendorong perubahan.

“Pemimpin yang ragu-ragu harus diganti. Kita butuh orang-orang yang berani menyalip di tikungan,” tegasnya.

Selama sesi diskusi, para wakil rektor, sekretaris universitas, dan jajaran pimpinan UNJ aktif berdialog dengan narasumber. Diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan topik-topik strategis seperti tata kelola riset, skema pendanaan berbasis output, peningkatan kualitas mahasiswa, hingga pengembangan sumber daya manusia dosen. Antusiasme peserta mencerminkan keseriusan UNJ dalam mencari solusi konkret untuk akselerasi menuju WCU.

Lebih lanjut, Prof. Hermawan menekankan pentingnya membangun budaya akademik yang menghargai pencapaian ilmiah. Menurutnya, universitas perlu memberikan penghargaan yang layak kepada para peneliti dan dosen berprestasi.

“Kita terlalu memuja jabatan struktural. Sudah saatnya pencapaian akademik juga diberi ruang terhormat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya dedikasi dan semangat pengorbanan dalam mendidik mahasiswa dan membangun institusi. Dosen muda harus dibimbing agar tidak mudah menyerah saat mengalami kegagalan, karena kegagalan merupakan bagian dari proses menuju keunggulan. Ia mencontohkan pengalaman di ITB yang menunjukkan bahwa perjalanan menuju WCU membutuhkan konsistensi lintas kepemimpinan dan investasi jangka panjang.

Terkait strategi pendanaan, Prof. Hermawan menjelaskan bahwa UNJ perlu memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan riset seperti LPDP yang lebih fleksibel dibandingkan anggaran berbasis APBN. Ia juga mendorong optimalisasi program sabbatical leave untuk memperkuat aktivitas riset dan jejaring global dosen.

Dalam konteks globalisasi, ia menyoroti peluang kerja sama dengan negara seperti Jepang yang mengalami kekurangan mahasiswa. Menurutnya, UNJ dapat mengambil peran strategis dengan menyiapkan lulusan berkualitas dan memperluas jejaring internasional.

Prof. Hermawan menutup paparannya dengan penekanan bahwa menjadi World Class University bukanlah mimpi kosong, melainkan sebuah visi yang harus dimulai dengan niat, strategi yang tepat, dan kerja kolektif. “Impian harus dimulai dari sekarang. Kalau tidak ada impian, tidak ada arah,” pungkasnya.