HONG KONG, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat internasional melalui pelatihan bertajuk Pengembangan Kepribadian Sosial Adaptif melalui Pendidikan Kewarganegaraan untuk Penguatan Relasi Antarbudaya dan Martabat Bangsa pada Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Internasional Tahun 2026 yang diselenggarakan bersama 12 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi anggota Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKNI) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong pada 12 Juli 2026.
Program kolaboratif tersebut mempertemukan akademisi, Persatuan Mahasiswa Universitas Terbuka Hong Kong (Perma UTHK), KJRI Hong Kong, serta Pekerja Migran Indonesia (PMI) dalam rangka memperkuat kapasitas diri dan kualitas kehidupan warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Delegasi UNJ dipimpin oleh Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono. Sementara itu, materi mengenai kepribadian sosial adaptif disampaikan oleh Yasnita, Koordinator Pusat Penelitian Pendidikan, Sosial Humaniora, dan Kajian Wanita LPPM UNJ sekaligus Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat.
Dalam paparannya, Yasnita menekankan bahwa kemampuan beradaptasi merupakan salah satu kompetensi penting bagi pekerja migran yang hidup di tengah masyarakat multikultural. Adaptasi, menurutnya, bukan sekadar mengikuti kebiasaan lingkungan baru, tetapi merupakan proses memahami nilai, norma, budaya komunikasi, etos kerja, hingga cara membangun hubungan sosial secara positif tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
“Kepribadian sosial adaptif adalah kemampuan untuk belajar dari lingkungan baru, menghargai perbedaan budaya, serta membangun relasi yang sehat dengan tetap menjaga jati diri, harga diri, dan martabat sebagai warga negara Indonesia,” jelas Yasnita.
Ia menjelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam membentuk warga negara yang mampu hidup berdampingan dalam keberagaman global. Melalui pendekatan tersebut, pekerja migran didorong untuk memiliki kecakapan antarbudaya, komunikasi yang santun, kepatuhan terhadap aturan negara tujuan, serta tanggung jawab dalam menjaga citra positif Indonesia di mata dunia.
Pelatihan berlangsung secara partisipatif melalui diskusi kelompok (Focus Group Discussion/FGD). Dalam sesi ini para peserta berbagi pengalaman mengenai proses penyesuaian diri selama tinggal di Hong Kong, tantangan yang mereka hadapi di lingkungan kerja maupun masyarakat, hingga strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia sambil membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat.
Menurut Yasnita, pengalaman para peserta menunjukkan bahwa keberhasilan adaptasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bahasa atau keterampilan bekerja, tetapi juga oleh kecerdasan sosial, keterbukaan terhadap budaya baru, kemampuan mengelola konflik, serta kesadaran untuk menjadi representasi bangsa Indonesia di luar negeri.
Selain pelatihan mengenai kepribadian sosial adaptif, kegiatan kolaborasi internasional ini juga menghadirkan berbagai materi lain yang mencakup kesehatan, literasi keuangan, perlindungan hukum, pendidikan, serta penguatan kapasitas personal. Pendekatan multidisiplin tersebut diharapkan mampu memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh bagi pekerja migran Indonesia.
Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono, menyampaikan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat internasional merupakan bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang berada di luar negeri.
Menurutnya, kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi melalui ALPTKNI menjadi kekuatan penting dalam memperluas dampak pengabdian sekaligus memperkuat diplomasi pendidikan Indonesia di tingkat global.
“Kehadiran perguruan tinggi harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi program nyata yang meningkatkan kapasitas, kesejahteraan, dan kualitas hidup pekerja migran Indonesia,” ujar Prof. Iwan.
Melalui kegiatan ini, UNJ berharap sinergi antara perguruan tinggi, KJRI Hong Kong, komunitas pekerja migran, dan berbagai mitra strategis terus berkembang menjadi program pemberdayaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pekerja migran Indonesia tidak hanya memperoleh perlindungan selama bekerja di luar negeri, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan, karakter, dan kompetensi kewarganegaraan yang semakin kuat untuk menjadi duta bangsa di tingkat global.