BOGOR, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mulai menyiapkan ekosistem pendidikan transformatif yang akan diterapkan hingga tingkat program studi. Langkah tersebut diarahkan untuk mengubah proses pembelajaran agar tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan menjadi agen perubahan.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ Prof. Ifan Iskandar mengatakan, pengembangan ekosistem pendidikan transformatif perlu melibatkan pimpinan fakultas dan Sekolah Pascasarjana. Karena itu, pihaknya mendorong pembentukan tim yang akan mengawal penerapan konsep tersebut hingga tingkat program studi.
“Kita ingin membentuk satu tim yang menggunakan konsep ekosistem pendidikan transformatif yang nanti diimplementasikan sampai pada level program studi,” ujar Prof. Ifan saat menggelar pertemuan dengan para Dekan dan Direktur Pascasarjana (12/9/26) di Ciawi, Bogor.
Menurut Prof. Ifan, pendidikan transformatif memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan inklusif dan Outcome Based Education (OBE). Ketiganya perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang saling mendukung dalam membangun proses pendidikan di UNJ.
Dalam pendekatan OBE, pembelajaran diarahkan pada capaian yang harus dimiliki mahasiswa. Karena itu, pembaruan tidak hanya dilakukan pada kurikulum, tetapi juga pada proses pembelajaran dan sistem penilaian.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan transformatif membutuhkan perubahan dalam praktik pembelajaran. Dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi dan memberikan tugas, tetapi perlu menciptakan proses belajar yang mendorong mahasiswa aktif berpikir, mengalami proses pembelajaran, serta mampu menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.
Dari OBE Menuju Pendidikan Transformatif
Dalam konsep yang disampaikan kepada para dekan dan Direktur Sekolah Pascasarjana, pendidikan transformatif dan pembelajaran transformatif menjadi bagian dari ekosistem bersama OBE. Ekosistem tersebut kemudian diarahkan pada penyusunan blueprint pendidikan transformatif UNJ.
Pendidikan transformatif, kata Prof. Ifan, berfokus pada perubahan cara pandang dan cara berpikir seseorang. Pendekatan tersebut juga menempatkan penyelesaian masalah dan pembentukan agen perubahan sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Karena itu, pendidikan transformatif tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipelajari mahasiswa, tetapi juga mengenai perubahan yang terjadi pada diri mahasiswa setelah menjalani proses pembelajaran.
“Pendidikan transformatif itu adalah upaya untuk melahirkan agen-agen perubahan,” ujarnya.

Agen perubahan yang dimaksud adalah individu yang mampu memberikan perubahan dalam kehidupan sosial sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dalam konteks tersebut, pendidikan transformatif memiliki keterkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk perhatian terhadap perlindungan ekologi.
Selain OBE, pendidikan inklusif menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan transformatif yang dikembangkan UNJ.
Prof. Ifan menjelaskan, pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan bagi mahasiswa dengan disabilitas, tetapi juga bagaimana proses pembelajaran memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai kapasitasnya.
Konsep tersebut diikat melalui pendekatan learner centered, yaitu pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar.
Pendekatan ini juga mendorong fleksibilitas dalam pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian, proses pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada penyampaian materi oleh dosen, tetapi pada bagaimana mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Transformasi pendidikan UNJ juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran dan layanan akademik. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pengembangan ekosistem layanan akademik dan administrasi berbasis AI.
Namun, teknologi ditempatkan sebagai bagian dari sistem pendukung pendidikan, bukan sebagai pengganti tujuan utama pendidikan.
Prof. Ifan menegaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki kapasitas perkembangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan OBE memberikan ruang untuk melihat perkembangan mahasiswa berdasarkan capaian yang ditetapkan.
Dengan membangun ekosistem pendidikan transformatif yang terintegrasi dengan OBE, pendidikan inklusif, pembelajaran berpusat pada mahasiswa, serta pemanfaatan teknologi, UNJ diarahkan untuk memperkuat proses pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan, tetapi juga individu yang mampu berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengambil peran dalam perubahan.
Bagi UNJ, transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya menerjemahkan amanah pendidikan transformatif ke dalam praktik pembelajaran hingga tingkat program studi.