UNJ Wujudkan Inovasi Berdampak melalui Tiga Produk Alat Kesehatan yang Dikurasi oleh Kemdiktisaintek dan Kemenkes

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Daftar 20 Dosen UNJ dengan H-Indeks…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Siapkan Instrumen Seleksi 500 Calon Guru SMA Unggul Garuda Baru untuk Empat Wilayah Strategis Nasional

Bahas Potensi Kerja Sama Strategis, UNJ Sambut Kunjungan Kerja BPS RI

UNJ Jajaki Kerja Sama dengan Kedubes Mozambik dalam Bidang Akademik

Perkuat Sinergi Alumni dan Almamater, IKA FBS Hadiri MUBES ke-10 IKA UNJ 2026

FT UNJ Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Gliter Jak Gelar Workshop Literasi Digital dan Robotika untuk Murid

Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Tiga produk alat kesehatan hasil riset dosen UNJ berhasil dikurasi langsung oleh dua Direktur Jenderal Republik Indonesia (Dirjen RI) dalam kegiatan bertema “Mendorong Hilirisasi Inovasi Alat Kesehatan Lokal Menuju Kemandirian Nasional”, yang digelar pada 24 Oktober 2025 di Hotel Grand Tjokro, Bandung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Promoting Research and Innovation Through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIME STEP) yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB) dan diselenggarakan oleh Microelectronic Center Institut Teknologi Bandung (ITB).

UNJ hadir sebagai tindak lanjut dari audiensi dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Risbang Kemdiktisaintek) terkait hilirisasi inovasi alat kesehatan yang telah melalui uji kelayakan Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK) Kementerian Kesehatan RI.

Salah satu inovasi unggulan yang dikurasi adalah Smart Antropometri “Nimbang Balita”, alat ukur digital yang mampu memantau pertumbuhan dan status gizi anak secara akurat. Produk ini mendapat apresiasi dari M. Fauzan Adziman selaku Dirjen Risbang Kemdiktisaintek, yang menilai teknologi tersebut berpotensi mendukung program nasional seperti Cek Kesehatan Gratis dan pencegahan stunting di daerah.

“Smart Antropometri karya UNJ adalah contoh nyata bagaimana riset kampus dapat bertransformasi menjadi solusi konkret bagi kesehatan masyarakat. Pemerintah siap mendukung hilirisasi dan pemanfaatan inovasi seperti ini agar segera dirasakan manfaatnya di lapangan,” ujar Fauzan Adziman dalam sesi diskusi.

Menindaklanjuti hal tersebut, M. Fauzan Adziman mempertemukan tim inventor Smart Antropometri yang dipimpin oleh Prof. Umiatin dengan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Dirjen Farmalkes Kemenkes), Lucia Rizka Andalucia, guna memperkuat kolaborasi pemanfaatan invensi tersebut dalam program layanan kesehatan nasional.

Dalam paparannya, Lucia Rizka Andalucia menyampaikan bahwa potensi pasar alat kesehatan Indonesia diproyeksikan mencapai 2,37 miliar dolar AS pada tahun 2025, sehingga inovasi lokal perlu menjadi pemain utama dalam rantai pasok nasional.

“Kita ingin alat kesehatan karya anak bangsa, seperti dari UNJ ini, bisa digunakan di seluruh pelosok Indonesia dengan menyesuaikan karakteristik layanan dan kebutuhan masyarakat,” tegas Lucia.

Sementara itu Prof. Fahrurrozi selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Sistem Informasi UNJ menyampaikan bahwa capaian ini menjadi bukti nyata komitmen UNJ dalam memperkuat ekosistem riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Inovasi bukan hanya tentang menghasilkan prototipe, tetapi tentang menghadirkan kebermanfaatan sosial dan kemandirian bangsa. Kurasi oleh dua Dirjen RI ini menunjukkan bahwa riset dosen UNJ telah memasuki tahap strategis hilirisasi dan siap berkontribusi bagi industri alat kesehatan nasional. Kami ingin UNJ menjadi universitas yang tidak hanya berpikir global, tetapi juga bekerja nyata untuk Indonesia,” ungkapnya.

Senada dengan hal itu, Murti Kusuma Wirasti selaku Direktur Inovasi, Sistem Informasi, dan Pemeringkatan UNJ, menegaskan bahwa keberhasilan riset alat kesehatan tidak hanya diukur dari temuan teknologinya, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Inovasi alat kesehatan memerlukan dukungan dan intervensi pemerintah agar dapat dikomersialisasikan secara luas. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang tanggung jawab negara menjamin hak masyarakat atas kesehatan yang layak,” ujarnya.

Selain Smart Antropometri, UNJ juga menampilkan dua produk inovasi lainnya, yaitu Kit Pendeteksi Bakteri Patogen sebagai alat deteksi cepat yang relevan untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG), dan Smart Bed sebagai ranjang cerdas yang dirancang untuk mencegah luka dekubitus serta risiko jatuh bagi pasien stroke dan lansia.

Kedua Dirjen RI tersebut menyepakati pentingnya mempercepat proses komersialisasi hasil riset perguruan tinggi sebagai langkah strategis menuju kemandirian alat kesehatan nasional.

Dengan tiga inovasi unggulan ini, UNJ menunjukkan kiprahnya sebagai universitas berbasis riset yang tidak hanya menghasilkan ilmu, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi bangsa. Hal ini sejalan dengan visi UNJ sebagai World Civilization University yang mengedepankan inovasi, kolaborasi, dan kebermanfaatan sosial.