Wakili Indonesia di Forum APEC Seoul, Dua Mahasiswa UNJ Raih Juara 1 dan 2 ASSET 2026

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu,…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mengenal Batavia Team UNJ, Wadah Inovasi Kendaraan Hemat Energi dan Mobilitas Berkelanjutan

UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu, Bahas Pengembangan Potensi Daerah

Dit. Mawani UNJ Apresiasi Peran Ormawa dan Opmawa Sukseskan PKKMB 2026

Kembangkan Layanan Kesehatan dan Sport Science, UNJ Resmikan UUK Pusat Rehabilitasi Medik

UNJ dan Royal University of Bhutan Jajaki Kerja Sama di Bidang Pendidikan

JAKARTA, Humas UNJ — Dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) menorehkan prestasi di tingkat internasional setelah meraih Juara 1 dan Juara 2 dalam ajang “Youth-Led Social Enterprise Entrepreneurship Plan for Realizing the Core Values of the APEC Summit: Innovation, Connectivity, and Prosperity”. Kompetisi tersebut merupakan bagian dari program “APEC Sustainable Social Entrepreneurship Training (ASSET) 2026” yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan, 25–27 Agustus 2026.

Dua mahasiswa UNJ yang mewakili Indonesia dalam ajang tersebut adalah Anaztasya Fairuz Avanty, mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Ekonomi FEB UNJ angkatan 2023, dan Muhammad Saddam Jasir, mahasiswa Program Studi S-1 Akuntansi FEB UNJ angkatan 2023.

Anaztasya bersama timnya berhasil meraih Juara 1 kategori Innovative Business Proposals Award, sedangkan Saddam bersama timnya meraih Juara 2 kategori Vision Into Impact Award.

ASSET 2026 merupakan program yang mendorong pengembangan kapasitas generasi muda di kawasan Asia-Pasifik melalui pembelajaran dan praktik kewirausahaan sosial berkelanjutan. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam sustainable social business, analisis pasar kerja, serta inovasi kewirausahaan.

Program yang menjadi bagian dari ekosistem Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) tersebut diikuti 45 delegasi dari 11 member economies. Mereka berasal dari Korea Selatan, Taiwan, China, Malaysia, Indonesia, Chile, Thailand, Papua Nugini, Peru, Filipina, dan Türkiye.

Anaztasya dan Saddam terpilih oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mewakili Indonesia. Selama program berlangsung, keduanya berkolaborasi dengan peserta dari berbagai negara dan tergabung dalam tim dengan latar belakang budaya yang beragam.

Kompetisi tersebut tidak hanya menilai gagasan bisnis, tetapi juga kemampuan peserta menerjemahkan nilai-nilai APEC, yakni innovation, connectivity, dan prosperity, ke dalam rencana kewirausahaan sosial. Peserta dituntut menghasilkan gagasan yang inovatif sekaligus relevan dengan persoalan sosial dan memiliki potensi memberikan dampak berkelanjutan.

Bagi Anaztasya, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai bagaimana sebuah gagasan bisnis dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan sosial.

“Bisa menjadi bagian dari delegasi Indonesia dan berkolaborasi dengan peserta dari berbagai negara merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa sebuah ide tidak hanya harus inovatif, tetapi juga harus mampu menjawab permasalahan sosial dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujar Anaztasya.

Ia mengatakan prestasi tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan gagasan dan memanfaatkan berbagai kesempatan di tingkat internasional.

Sementara itu, Saddam menilai pengalaman bekerja dalam tim lintas negara menjadi salah satu bagian penting dari proses yang dijalaninya. Perbedaan latar belakang dan perspektif membuat peserta harus membangun komunikasi serta pembagian peran yang efektif.

“Kompetisi ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi, kerja sama, dan kemampuan melihat sebuah persoalan dari berbagai perspektif. Berkolaborasi dengan peserta dari negara lain membuat saya mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana kewirausahaan dapat dikembangkan untuk memberikan dampak yang lebih luas,” kata Saddam.

Menurut Saddam, keberhasilan meraih Juara 2 menjadi pengalaman yang berarti sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan.

Prestasi kedua mahasiswa tersebut juga memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa tidak hanya dibutuhkan dalam lingkungan akademik, tetapi juga dalam ruang kolaborasi global. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, membangun komunikasi, dan beradaptasi dengan perbedaan budaya menjadi bagian penting dari pengalaman mereka selama mengikuti ASSET 2026.

Kepala Laboratorium Internasionalisasi FEB UNJ, Putri Haryani, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam program internasional menjadi salah satu cara untuk memperluas pengalaman dan wawasan mahasiswa.

“Prestasi yang diraih Anaztasya dan Saddam menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNJ mampu bersaing dan berkontribusi di panggung internasional. Kami di Bagian Internasionalisasi FEB UNJ terus berupaya membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk terlibat dalam program-program global seperti APEC ASSET ini,” ujar Putri.

Menurut dia, pengalaman lintas budaya penting untuk membentuk mahasiswa yang adaptif dan memiliki daya saing dalam lingkungan kerja yang semakin terhubung secara global.

Bagi UNJ, keberhasilan Anaztasya dan Saddam menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi. Keterlibatan mahasiswa dalam forum dan kompetisi internasional memberikan ruang bagi mereka untuk menguji kompetensi, membangun jejaring, sekaligus memahami berbagai persoalan dan peluang di kawasan Asia-Pasifik.

UNJ mengapresiasi prestasi Anaztasya Fairuz Avanty dan Muhammad Saddam Jasir beserta seluruh anggota tim yang terlibat. Capaian tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNJ lainnya untuk memanfaatkan berbagai peluang internasional dan mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

Melalui berbagai program internasional, UNJ terus mendorong mahasiswa memperoleh pengalaman global, membangun jejaring lintas negara, dan mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam menghadapi tantangan global serta pembangunan berkelanjutan.