Jakarta, Humas UNJ – Di bawah cahaya lembut yang menyinari Aula Latif Hendraningrat pada 3 Juni 2025, langit-langit kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) seolah bergetar dalam harmoni keilmuan. Di hadapan para akademisi, mahasiswa, keluarga, dan sahabat sejawat, sebuah sejarah ditorehkan, Prof. Ifan Iskandar, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pembelajaran Tata Bunyi Bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ.

Hari itu bukan sekadar pengukuhan, tetapi penahbisan perjalanan intelektual yang sarat dengan perenungan, penelitian, dan pengabdian. Prof. Ifan, bukan hanya seorang pengajar bahasa, melainkan seorang pemakna bunyi. Di tangannya, fonem bukan sekadar artikulasi, tetapi gerbang menuju peradaban berpikir dan dunia lintas budaya. Ia telah menapaki jalan sunyi para pembelajar bunyi, mendekap deret suara dari konsonan hingga diftong, dan mengubahnya menjadi jalan terang bagi para pelajar Indonesia yang mendamba kefasihan dalam bahasa global.

Orasi ilmiahnya yang berjudul “Pemelajaran Swakelola Tata Bunyi Bahasa Inggris, Dinamika Makna, dan Kenisbian Kebenaran Ilmiah” bukan sekadar dokumen akademik. Ia adalah suluk ilmiah, dan suatu perenungan tajam terhadap bagaimana manusia belajar bukan hanya untuk benar, tapi untuk mengelola makna secara mandiri. Dalam dunia pembelajaran tata bunyi bahasa Inggris, Prof. Ifan mengajak kita untuk menyelami bahwa kebenaran bukanlah batu karang yang kaku, melainkan aliran sungai yang berubah arah sesuai konteks sosial, budaya, dan strategi pembelajaran.
Ia menawarkan pendekatan swakelola, sebuah metode yang menempatkan pelajar sebagai subjek aktif yang membentuk pemahamannya sendiri, bukan sekadar meniru suara native speaker. Dalam pendekatan ini, Prof. Ifan menantang dogma, menggugat absolutisme fonologis, dan membuka ruang dialog bahwa makna dan pengucapan tidak pernah tunggal. Bahwa dalam kelas-kelas bahasa Inggris, setiap lidah yang terbata-bata mengucap th dan r bukan sedang gagal, tetapi sedang mencipta kebenarannya sendiri.
Lebih dari itu, pengukuhan ini adalah pengakuan atas ketekunan seorang ilmuwan yang tak gentar menghadapi kesunyian laboratorium fonetik, yang sabar mendengarkan gelombang suara demi mengurai struktur kognitif di balik ujaran. Seorang ilmuwan yang percaya bahwa di balik bunyi, tersimpan sejarah, identitas, dan kekuasaan. (Syf)