Jakarta, Humas UNJ — Malam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, berlangsung meriah dan penuh warna. Ribuan cahaya dari drone menghiasi langit ibu kota di atas Bundaran HI, membentuk visual spektakuler bertema Indonesia masa depan. Di balik pertunjukan megah tersebut, terdapat sosok Aldio Yofanda, alumni Program Studi Sarjana Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (Prodi TP FIP UNJ) angkatan tahun 2010, yang menjadi pilot utama dalam pertunjukan drone show pertama di Indonesia dengan 1.400 unit drone.
Aldio, yang akrab disapa Dio, merupakan lulusan Program Studi Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, angkatan 2010. Ia mengaku memilih jurusan tersebut karena melihat prospek keilmuan yang luas dan aplikatif.
“Di Teknologi Pendidikan, saya belajar bagaimana membuat orang yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, merancang pelatihan, hingga menyusun kurikulum. Ilmu itu bisa masuk ke banyak bidang, tidak hanya menjadi guru,” ujarnya mengenang masa kuliah.

Selama kuliah, Dio aktif berolahraga di Kampus B UNJ. Bahkan, skripsinya terinspirasi dari aktivitasnya di pusat kebugaran kampus, dengan membuat video pembelajaran latihan beban untuk pemula.
“Saya ingin orang-orang yang kurus atau kesulitan menaikkan berat badan bisa belajar teknik latihan yang benar. Itu bukti bahwa ilmu Teknologi Pendidikan bisa diterapkan di mana saja,” tambahnya.
Setelah lulus, Dio meniti karier di bidang pendidikan dan pelatihan. Saat ini, ia bekerja di Erajaya Group sebagai trainer produk DJI, merek drone terkemuka dunia. Tugasnya meliputi penyusunan materi pelatihan, pengajaran kepada karyawan di store DJI, Erafone, dan iBox di seluruh Indonesia, serta pendampingan praktik langsung menerbangkan drone.

“Ilmu dari TP UNJ masih saya gunakan sampai sekarang. Saya merancang pelatihan, mengajar, bahkan membuat media pembelajaran. Bedanya, dulu saya membuat video fitness, sekarang membuat materi tentang drone,” jelasnya.
Perjalanan Dio di dunia drone show dimulai pada tahun 2024, saat ia dikirim oleh perusahaannya ke Shenzhen, Tiongkok, untuk mengikuti pelatihan langsung dari Damoda, produsen drone khusus pertunjukan cahaya. Di sana, ia belajar intensif intensif selama dua minggu mengenai mekanisme dan praktik pengoperasian drone.
“Awalnya saya pikir hanya kunjungan ke kantor pusat DJI. Ternyata saya harus ikut training drone show. Pulang ke Indonesia, saya langsung ditugaskan untuk menangani pertunjukan perdana,” katanya.

Pertunjukan perdana Dio berlangsung di PIK 2, pada pembukaan NICE Convention Center, September 2024. Sejak itu, ia dipercaya memimpin delapan pertunjukan besar, termasuk di ajang Piala Presiden, Marvel Fantastic Four di Senayan Park, hingga HUT TNI.
Hingga karnaval HUT RI ke-80, Dio telah menerbangkan lebih dari 8.000 drone. Pada pertunjukan di Bundaran HI, sebanyak 1.400 unit drone terbang secara bersamaan, menjadikannya pertunjukan drone terbesar di Indonesia.
Mengendalikan ribuan drone bukanlah hal mudah. Dio dan timnya membutuhkan waktu persiapan sekitar satu bulan, mulai dari desain visualisasi hingga pelaksanaan pertunjukan. Tantangan terbesar terletak pada aspek teknis dan kestabilan sinyal di lapangan.

“Semua drone harus dicek satu per satu, mulai dari baling-baling, baterai, hingga sistem sinyal. Saat terbang, memang otomatis mengikuti desain, tapi pilot tetap harus waspada. Jika ada satu drone error, bisa berisiko jatuh,” terangnya.
Pada acara kenegaraan, tantangan tambahan datang dari sistem keamanan.
“Kalau ada Presiden, biasanya ada jammer sinyal. Itu bisa membuat drone jatuh. Jadi kami harus berkoordinasi dengan Paspampres agar jammer dimatikan saat pertunjukan berlangsung,” tambahnya.

Dalam pertunjukan HUT RI ke-80, drone membentuk 15 visualisasi, mulai dari program makanan bergizi gratis, koperasi merah putih, hingga transformasi rakyat. Menurut Dio, drone show bukan sekadar hiburan, melainkan media komunikasi visual yang efektif.
“Ini seperti iklan di langit. Bedanya, lebih spektakuler dan bisa langsung menyampaikan pesan besar kepada masyarakat,” ujarnya.
Meski kini berkarier di industri kreatif berbasis teknologi, Dio tetap menjunjung tinggi almamaternya. Ia berharap mahasiswa UNJ, khususnya dari Program Studi Teknologi Pendidikan, lebih terbuka terhadap perkembangan zaman.

“Harus melek teknologi. Jangan hanya menikmati, tapi manfaatkan untuk pengembangan diri dan kontribusi bagi bangsa. Saya ingin teman-teman percaya bahwa lulusan TP bisa bekerja di banyak bidang, termasuk teknologi tinggi seperti ini,” pesannya.
Dio juga menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan UNJ. “Saya sangat senang jika bisa kembali ke kampus, berbagi tentang dunia drone dan pengalaman saya. Kalau waktunya cocok, saya siap,” pungkasnya.