UNJ dan Jeonbuk University Korea Bangun Kerja Sama Akademik, Budaya, dan Masa Depan Global

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Rayhan dan Adelio Raih Gelar Mawapres…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Kawal Karier Dosen Menuju Kampus Unggul, UNJ Selenggarakan Bimtek Layanan Profesi Berbasis Regulasi Terbaru

Kunjungi UNJ, BNN Ajak Kolaborasi Perkuat Pencegahan Narkotika di Lingkungan Pendidikan

Konsistensi Inovasi dan Publikasi Angkat UNJ ke Peringkat 2.148 Dunia dan 32 Nasional Versi Webometrics 2026

Perkuat Jejaring Global Calon Guru, FBS UNJ Sambut Delegasi Internasional SEA Teacher Batch 11 Tahun 2026

Teguhkan Kebersamaan dalam Semangat Idulfitri, UNJ Gelar Halalbihalal

Jakarta, Humas UNJ – Pada Kamis, 18 September 2025, ruang VIP Rektorat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi saksi perjumpaan penuh makna. Wakil Rektor UNJ Bidang Kerja Sama dan Bisnis, Andy Hadiyanto, didampingi Ketua Kantor Urusan Internasional, Susilo, serta staf ahli kerja sama, Muthia Delina dan Rudi Barnansyah, menyambut dengan hangat kehadiran Dr. Ali An Sun Geun, tokoh muslim asal Korea yang telah berkiprah di Indonesia selama 41 tahun. Pertemuan ini tidak sekadar temu sapa formal, melainkan sebuah jembatan harapan yang menautkan persahabatan dan masa depan generasi muda dari dua bangsa.

Dr. Ali datang membawa semangat persaudaraan dan undangan terbuka bagi mahasiswa serta dosen UNJ untuk menapaki jejak baru di Negeri Ginseng. Ia menawarkan peluang beasiswa S2 dan S3 di Jeonbuk University, serta program pertukaran mahasiswa yang memungkinkan mereka merasakan denyut kehidupan akademik di Korea. Ajakan itu disambut dengan antusias, seolah memberi angin segar bagi upaya UNJ membangun kampus yang kian berwawasan global.

Dalam suasana penuh kehangatan, Andy Hadiyanto memandang kerja sama ini bukan hanya sebagai hubungan antar-lembaga, melainkan sebagai jalan untuk mempertemukan gagasan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mengemukakan pentingnya melahirkan program-program bersama, seperti joint degree dan pertukaran dosen serta mahasiswa, yang akan mempertemukan pikiran-pikiran terbaik dari dua bangsa.

Lebih dari sekadar program akademik, Andy menekankan pentingnya pengalaman yang memanusiakan, seperti magang dan praktik lapangan di kedua negara. Baginya, kerja sama ini harus menjadi ruang pembelajaran hidup, tempat mahasiswa belajar memahami dunia dari perspektif yang berbeda, menumbuhkan toleransi, dan mengasah kepekaan sosial.

Susilo menambahkan warna pada percakapan dengan gagasan membuka kelas bahasa dan budaya, sehingga mahasiswa Indonesia dapat mengenal Korea lebih dalam, sementara mahasiswa Korea bisa merasakan denyut budaya Indonesia. Fenomena K-Pop yang begitu populer di kalangan generasi muda disebutnya sebagai jembatan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterhubungan yang lebih mendalam.

Mendengar itu, Dr. Ali mengungkapkan bahwa Jeonbuk University memiliki cabang di Namwon dengan Departemen K-Entertainment, yang siap menjadi rumah bagi program-program kreatif seperti kursus singkat atau mobilitas selama sebulan. Bayangan tentang mahasiswa UNJ yang belajar langsung di jantung budaya populer Korea, dan mahasiswa Korea yang menyelami budaya Nusantara di UNJ, seakan menjadi cermin dari pertemuan dua dunia yang saling memperkaya.

Muthia Delina melihat peluang ini sebagai momentum untuk menyiapkan generasi sejak dini. Ia membayangkan hadirnya “Korean Track” di Labschool UNJ yang akan menyiapkan para siswa untuk melanjutkan studi ke Korea. Gagasan ini mengandung keyakinan bahwa keterhubungan dua bangsa dapat dimulai dari bangku sekolah, sejak para pelajar mulai membangun mimpi mereka.

Rudi Barnansyah pun menegaskan bahwa kerja sama ini akan lebih bermakna bila mampu menjembatani dunia kampus dengan dunia kerja. Ia berharap kehadiran Dr. Ali menjadi pintu bagi UNJ untuk membangun kemitraan dengan industri dan bisnis Korea, sehingga para lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga harapan, keterampilan, dan peluang nyata.

Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan menyelenggarakan “Korea Day” di UNJ, sebuah perayaan yang menggabungkan studium generale, pameran pendidikan, dan job fair. Acara ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang hidup antara mahasiswa, dosen, dan para pelaku industri, sekaligus simbol keterbukaan UNJ terhadap dunia.

Lebih dari sekadar agenda kerja sama, pertemuan ini mencerminkan tekad UNJ untuk terus melintasi batas geografis dan kultural demi membentuk insan-insan yang siap berkiprah di panggung global. Ada semangat yang mengalir bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun jembatan kemanusiaan.

Dengan jiwa yang lebih terbuka, UNJ memandang kolaborasi ini sebagai langkah menuju masa depan yang lebih inklusif dan berdaya. Seperti benang-benang yang disulam menjadi kain, kerja sama UNJ dan Jeonbuk University diharapkan akan menenun sebuah cerita baru tentang persahabatan, pembelajaran, dan kemajuan yang akan dikenang oleh generasi mendatang.