Jakarta, Humas UNJ — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) melalui Program Studi (Prodi) Pendidikan Sosiologi dan Prodi Sosiologi menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pendidikan Inklusif di Italia: Pelajaran dari Temuan Riset untuk Indonesia” pada 16 Oktober 2025, bertempat di Ruang Rapat FISH UNJ lantai 2. Kegiatan ini menghadirkan narasumber, Umberto Pagano, Associate Professor of Sociology, Department of Law, Economics, and Sociology, University of Catanzaro, Italia.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi yang didampingi oleh Koordinator Prodi Pendidikan Sosiologi FISH UNJ, Suyuti, dan Koordinator Prodi Sosiologi, Rusfadia Saktiyanti Jahja. Turut hadir dosen, mahasiswa, serta peneliti dari berbagai bidang ilmu sosial yang antusias mengikuti diskusi ini. FGD tersebut menjadi bagian dari upaya internasionalisasi akademik FISH UNJ yang terus memperluas jejaring riset global, khususnya dalam tema pendidikan, sosiologi, dan kebijakan sosial.
Dalam kunjungan ketiganya ke UNJ, Umberto Pagano memaparkan hasil penelitian terbarunya mengenai pendidikan inklusif di Italia. Studi tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan 30 sekolah negeri di bawah pemerintah Italia. Ia menjelaskan bahwa isu pendidikan inklusif di Italia mencakup dimensi ras, budaya, dan ketimpangan sosial, terutama di tengah meningkatnya isu imigrasi di kawasan Eropa. Fokus utama penelitiannya adalah pengembangan Index of Inclusivity, yaitu instrumen untuk mengukur tingkat inklusivitas sekolah yang diharapkan mampu menekan praktik diskriminasi serta membangun iklim belajar yang aman dan menyenangkan bagi semua kalangan siswa tanpa terkecuali.

Umberto Pagano juga menyatakan apresiasinya terhadap pemikiran kritis para dosen dan mahasiswa FISH UNJ. Ia mengajak Prodi Pendidikan Sosiologi dan Sosiologi FISH UNJ untuk menjalin kolaborasi riset internasional dalam bidang pendidikan inklusif yang akan dipresentasikan bersama di Italia pada Januari 2026 mendatang. Inisiatif ini menjadi langkah penting dalam memperkuat jejaring akademik antara UNJ dan University of Catanzaro, sekaligus membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa UNJ untuk berkontribusi dalam dialog ilmiah global tentang keadilan sosial dan pendidikan setara.
Dalam sesi diskusi, Firdaus Wajdi, menyoroti bahwa konsep pendidikan inklusif di Indonesia masih sering dipersempit hanya pada akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Padahal, menurutnya, inklusivitas harus dimaknai secara lebih luas, meliputi kesetaraan kesempatan belajar bagi seluruh warga tanpa memandang latar sosial, ekonomi, atau budaya. Ia menegaskan, “Pendidikan inklusif harus menyentuh akar ketimpangan sosial agar tidak sekadar menjadi wacana kebijakan, tetapi benar-benar menjadi praktik keadilan dalam dunia pendidikan.”
Kegiatan FGD ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara, tetapi juga menegaskan komitmen UNJ melalui FISH untuk menjadi pusat kajian dan pengembangan pendidikan inklusif yang berpihak pada kemanusiaan, kesetaraan, dan keberlanjutan sosial.