Jakarta, Humas UNJ – Berapa kali seorang mahasiswa harus menelan realitas pahit ketika isi dompet tak sejalan dengan besarnya mimpi? Bagi Risalah Qalbu Zein, pertanyaan itu bukan sekadar refleksi, melainkan denyut kehidupan sehari-hari. Di tengah himpitan ekonomi dan keterbatasan fasilitas, ia tidak pernah memiliki kemewahan untuk beristirahat dari perjuangan. Namun justru dari ruang-ruang sempit itulah, ia menenun jalan menuju puncak.
Risal—sapaan akrabnya—memilih menjawab keraguan dan cibiran dalam diam yang penuh daya juang. Saat banyak yang meragukan bahwa mahasiswa bidang IT sulit lulus cepat, apalagi bersaing dengan kampus-kampus besar, ia justru membuktikan sebaliknya. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer angkatan 2022 ini kini berdiri sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta (FMIPA UNJ).
Dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,80, Risal menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 7 semester atau 3,5 tahun pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 sesi ketiga. Sebuah pencapaian yang tidak hanya impresif secara akademik, tetapi juga simbol keberhasilan mematahkan stigma lama tentang studi di bidang teknologi.
Namun, jalan menuju titik ini jauh dari kata mudah. Sejak awal perkuliahan, Risal harus berhadapan dengan tekanan ekonomi yang memaksanya hidup dalam disiplin tinggi. Ia menekan pengeluaran, memangkas aktivitas non-esensial, dan memfokuskan energi pada hal-hal yang benar-benar berdampak bagi masa depannya.
“Tantangan terbesar saya adalah ekonomi. Saya harus melakukan efisiensi dalam banyak hal, termasuk mengurangi aktivitas yang tidak penting,” ungkapnya.
Tak hanya soal finansial, keterbatasan sumber daya pembelajaran di program studi yang relatif baru juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, Risal tidak menjadikan kondisi itu sebagai alasan untuk berhenti. Ia justru membangun ekosistem belajarnya sendiri dengan membentuk kelompok studi independen bersama rekan-rekannya, sekaligus aktif mencari komunitas di luar kampus.
Baginya, kesuksesan bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kolaborasi. Ia menyebut peran sahabat-sahabatnya sebagai bagian penting dalam perjalanan akademiknya.
“Bergerak sendiri tidak akan membawa kita jauh. Kita butuh sistem dukungan,” ujarnya.
Semangat kolaboratif itu kemudian membentuk mentalitasnya sebagai “pemecah mitos”. Risal tak gentar menghadapi mahasiswa dari universitas-universitas papan atas dalam berbagai kompetisi. Ia justru menjadikan ajang tersebut sebagai ruang pembuktian bahwa mahasiswa UNJ mampu bersaing secara setara, bahkan melampaui ekspektasi.
Puncak dari perjalanan intelektualnya tercermin dalam tugas akhir yang ia pilih—sebuah topik yang tidak hanya kompleks, tetapi juga berdampak nyata. Risal mengembangkan aplikasi deteksi kebocoran data siber tingkat provinsi, yang mampu mengidentifikasi data pribadi yang tersebar secara ilegal hanya dengan memasukkan nama instansi.
Melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, sistem tersebut berhasil mengungkap belasan ribu data pribadi masyarakat yang bocor, mulai dari KTP hingga Kartu Keluarga. Temuan tersebut kemudian dilaporkan dan ditindaklanjuti, sehingga celah keamanan dapat segera ditutup.
Kontribusi ini tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga bentuk nyata pengabdian ilmu bagi masyarakat. Atas karyanya, Risal mendapatkan apresiasi langsung dari pemerintah daerah terkait.
Di balik pencapaian besar itu, tersimpan kedisiplinan yang nyaris tanpa kompromi. Risal menerapkan manajemen waktu yang ketat—mengalokasikan sebagian besar akhir pekannya untuk belajar dan mengembangkan diri, sembari tetap menjaga ruang jeda untuk relasi sosial.
Kerja keras tersebut berbuah manis. Bahkan sebelum resmi diwisuda, Risal telah lebih dulu menapaki dunia profesional dengan diterima di sebuah perusahaan di bidang teknologi.
Saat namanya diumumkan sebagai Wisudawan Terbaik FMIPA, ia mengaku diliputi rasa tidak percaya sekaligus syukur mendalam.
“Saya tahu saya ambisius, tapi saya pikir pasti banyak yang lebih hebat. Gelar ini milik satu fakultas, dan saya bersyukur dipercaya menerimanya,” tuturnya.
Di akhir, Risal meninggalkan pesan sederhana namun bermakna bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studinya:
“Perjalanan tinggal sedikit lagi. Skripsi tidak sesulit itu jika dicicil. Sesibuk apa pun, pasti ada waktu. Lebih baik memilih tuntas dan bahagia, daripada menunda dan terus dibayangi tanggung jawab.”
Kisah Risal bukan sekadar tentang prestasi akademik, melainkan tentang keberanian melampaui keterbatasan. Dari upaya “mengamankan data”, ia pada akhirnya berhasil “mengamankan masa depan”—membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian bermimpi adalah kombinasi paling kuat untuk menaklukkan takdir.