Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan riset dan inovasi nasional melalui pengembangan nanopartikel emas berbasis nanoteknologi untuk kebutuhan kesehatan dan kosmetika masa depan. Inovasi tersebut dikembangkan oleh inventor UNJ, Prof. Setia Budi, dan telah memperoleh pelindungan paten sebagai langkah strategis menuju hilirisasi teknologi berbasis riset.
Di balik material emas yang selama ini identik dengan perhiasan dan investasi, penelitian ini menghadirkan perspektif baru mengenai pemanfaatan emas dalam ukuran nanometer sebagai material fungsional yang memiliki aktivitas antioksidan, antiaging, antibakteri, dan antiinflamasi. Melalui pendekatan nanoteknologi, nanopartikel emas mampu bekerja lebih efektif karena memiliki rasio luas permukaan terhadap volume yang sangat besar.
Prof. Setia Budi menjelaskan bahwa ketertarikannya pada nanopartikel emas berawal dari fenomena nanoscale effect yang menyebabkan perubahan sifat material pada dimensi nanometer. Pada ukuran tersebut, material dapat menunjukkan karakteristik optik, reaktivitas, hingga aktivitas biologis yang berbeda dibandingkan material konvensional.
“Material pada level nanometer memiliki karakteristik unik yang tidak ditemukan pada bulk material, sehingga membuka peluang luas untuk pengembangan berbagai aplikasi fungsional,” ujar Prof. Setia Budi yang merupakan Guru Besar Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UNJ.
Selama ini nanopartikel emas lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan pendukung antioksidan alami. Namun melalui riset yang dikembangkannya, Prof. Setia Budi menemukan bahwa nanopartikel emas justru mampu bekerja secara mandiri sebagai antioksidan dan antiaging yang potensial untuk pengembangan produk kosmetika modern.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa nanopartikel emas mampu menstimulasi pembentukan kolagen serta memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Temuan tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi kesehatan dan kecantikan berbasis material maju di Indonesia.
Meski demikian, pengembangan teknologi ini masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya terkait sifat aglomerasi nanopartikel emas yang mudah bergabung menjadi partikel lebih besar sehingga kehilangan karakter nanoskalanya. Karena itu, tim peneliti terus menyempurnakan teknik fabrikasi nanopartikel emas dalam bentuk lapis tipis (thin film) agar dapat diaplikasikan langsung pada permukaan kulit secara lebih efektif.
Selain fokus pada pengembangan inovasi, Prof. Setia Budi juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem riset nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan nanoteknologi, namun masih memerlukan dukungan regulasi, keterlibatan industri, dan keberpihakan terhadap pemanfaatan hasil riset dalam negeri.
Dukungan terhadap inovasi tersebut juga datang dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menegaskan bahwa inovasi berbasis riset seperti nanopartikel emas menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.
Sementara itu, Wakil Rektor UNJ Bidang Riset, Inovasi, dan Sistem Informasi, Prof. Fahrurrozi, menegaskan bahwa UNJ terus berkomitmen membangun budaya riset unggul dan inovatif melalui penguatan kolaborasi, hilirisasi riset, serta perlindungan kekayaan intelektual guna menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.