JAKARTA, Humas UNJ — Keluhan soal sinyal Wi-Fi yang lemah di sejumlah titik kampus selama ini kerap muncul dari mahasiswa maupun tenaga pendidik, terutama saat jam-jam sibuk perkuliahan. Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Negeri Jakarta (PUSTIKOM UNJ) melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kualitas jaringan Wi-Fi di lingkungan kampus menggunakan metode site survey pada Mei hingga Juli 2026.
Penelitian bertajuk “Evaluasi dan Pemetaan Kualitas Jaringan Wi-Fi Kampus Universitas Negeri Jakarta Menggunakan Metode Site Survey” ini merupakan bagian dari skema Penelitian Karya Inovasi Tenaga Kependidikan yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNJ, dan direncanakan berlangsung selama tiga tahun.
Pada tahun pertama, tim yang diketuai oleh Arya Adipurwa, bersama empat anggota peneliti dari lingkungan Pustikom ini menyasar delapan gedung bertingkat di kampus. Hingga laporan ini disusun, pengukuran telah diselesaikan pada lima gedung, yaitu Gedung Hasyim Ashari, SFD Tower A, SFD Tower B, Gedung Bung Hatta, dan Gedung Perpustakaan, dengan total 304 titik ukur.


“Kami mengukur kekuatan sinyal, atau yang dikenal dengan istilah RSSI, pada lima posisi di setiap ruangan—tengah ruangan dan empat sudutnya—menggunakan aplikasi WiFiman dalam mode heatmap berjalan dan pengukuran 5 titik tetap per ruang. Pengukuran sengaja kami lakukan pada jam sibuk, supaya hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi jaringan saat beban penggunaan paling tinggi,” ujar Arya.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa secara umum kualitas sinyal Wi-Fi di kelima gedung tersebut cukup baik, dengan rata-rata kekuatan sinyal –63,2 dBm. Sekitar 67,4 persen dari seluruh titik ukur berada pada kategori “sangat baik”. Namun begitu, tim juga menemukan empat titik yang termasuk kategori “blankspot” atau area dengan sinyal sangat lemah, antara lain di ruang mushola Gedung Perpustakaan, laboratorium fisika elektronik dasar di Gedung Hasyim Ashari, serta dua ruang di Gedung Bung Hatta.
“Temuan menarik lainnya, SFD Tower B justru menjadi gedung dengan kualitas sinyal paling stabil dari seluruh yang sudah kami survei. Sementara itu, Gedung Hasyim Ashari dan Gedung Bung Hatta membutuhkan perhatian lebih, karena teridentifikasi paling banyak memerlukan penambahan access point,” lanjutnya.
Berdasarkan hasil tersebut, tim menyusun rekomendasi teknis penambahan beberapa unit access point yang tersebar di kelima gedung tersebut, yang rencananya akan ditindaklanjuti melalui penambahan access point secara bertahap.
Seluruh proses penelitian, mulai dari studi awal, penentuan titik ukur, pengukuran lapangan, hingga analisis data, didokumentasikan oleh tim dalam bentuk dokumen, foto dan video singkat agar dapat dipahami khalayak yang lebih luas.
Tim peneliti menyatakan bahwa pengukuran akan dilanjutkan ke tiga gedung tersisa pada periode berikutnya, sebelum seluruh data dianalisis secara menyeluruh untuk menyusun peta kualitas sinyal (heatmap) dan standar perencanaan jaringan Wi-Fi kampus untuk lima tahun ke depan.
“Tujuan akhir kami bukan cuma laporan di atas kertas. Harapannya, hasil pemetaan ini benar-benar dipakai PUSTIKOM untuk menentukan di mana access point baru perlu dipasang, untuk mendorong Penguatan Jaringan Internet Kampus, supaya seluruh sivitas akademika UNJ bisa merasakan langsung manfaatnya saat mengakses internet kampus,” pungkas Ketua Tim Peneliti.
Penelitian ini turut melibatkan Bambang Prasetya Adhi, Sigit Pandu Wirawan, Yanuar Dwi Pramana, Aditya Nugroho, Septian Ricki Permana, Dwi Ramadhian, dan Krisandi Agusto, serta dua mahasiswa, Ahmad Taufik dan Nabila Aristi, sebagai bagian dari tim pelaksana di lapangan.