BALI, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Bali, Jumat (2/10/26). Kehadiran UNJ dalam forum nasional tersebut ditandai dengan keterlibatan 205 delegasi yang terdiri atas Rektor dan Wakil Rektor, Senat Akademik Universitas (SAU), Majelis Wali Amanat (MWA), pimpinan universitas, dekan dan wakil dekan, koordinator program studi, serta dosen.
KONASPI XII yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai tuan rumah mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan.” Forum ini menjadi ruang pertemuan bagi perguruan tinggi dan pemangku kepentingan pendidikan untuk membahas arah transformasi pendidikan Indonesia di tengah perubahan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan pembangunan nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto dalam forum tersebut menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi, dan pendidikan berkelanjutan. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memainkan peran masing-masing secara optimal sekaligus membangun kerja sama agar kontribusi terhadap pendidikan dan pembangunan nasional semakin besar.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan program studi bidang pendidikan yang memiliki jumlah mahasiswa cukup besar. Kemajuan bidang pendidikan dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Selain itu, penguatan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi salah satu perhatian. Perguruan tinggi didorong meningkatkan kapasitas lulusan di bidang sains dan teknologi untuk menjawab kebutuhan industri serta perkembangan teknologi.
Prof. Brian juga menekankan perubahan orientasi pendidikan dari sekadar menghasilkan output menuju outcome. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, penelitian, dan karya akademik, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), penguasaan ilmu dasar seperti matematika, fisika, dan kimia juga dinilai semakin penting. Perguruan tinggi dan sekolah perlu membangun ketertarikan peserta didik terhadap bidang sains sekaligus memperkuat keterhubungan pendidikan dengan dunia industri.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang saling terhubung antara perguruan tinggi, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Menurut Prof. Abdul Mu’ti, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas guru, antara lain melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan berbagai program peningkatan kompetensi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar peningkatan kualitas pendidikan berlangsung secara berkesinambungan dari sekolah hingga perguruan tinggi.
“Ekosistem inilah yang harus kita kembangkan bersama-sama. Tidak ada ruang untuk kita saling menyalahkan, tetapi berbagai permasalahan yang kita hadapi adalah peluang untuk kita saling memperkuat dan bekerja sama,” ujarnya.
Sejumlah agenda penguatan pendidikan juga menjadi perhatian, antara lain pembelajaran mendalam atau deep learning, pendidikan karakter, bimbingan konseling, STEM, penguatan bahasa Inggris, coding dan AI, serta pengembangan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Bagi UNJ, berbagai isu tersebut memiliki relevansi kuat dengan mandat sebagai perguruan tinggi yang memiliki tradisi dan kompetensi di bidang kependidikan.
Rektor UNJ, Prof. Komarudin mengatakan KONASPI merupakan forum strategis untuk mempertemukan berbagai pemikiran dan pengalaman dalam membahas masa depan pendidikan Indonesia. Menurutnya, transformasi pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan peran dan kontribusi masing-masing.
“Transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau satu pihak saja. Perubahan membutuhkan kolaborasi,” ujar Prof. Komarudin.
Ia menambahkan, guru memiliki posisi penting dalam proses transformasi pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter, kompetensi, dan masa depan generasi Indonesia.
Perkembangan teknologi dan AI, lanjutnya, juga perlu direspons melalui inovasi pendidikan yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat proses pembelajaran. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengalaman belajar, sementara peran guru dalam mendidik, membimbing, dan membangun karakter peserta didik tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan.
“Pemanfaatan teknologi harus tetap ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat proses pendidikan, bukan menggantikan peran manusia dalam mendidik, membimbing, dan membangun karakter peserta didik,” jelasnya.
Keterlibatan 205 delegasi UNJ dalam KONASPI XII menjadi bagian dari komitmen universitas untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan, gagasan, dan praktik pendidikan nasional. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi UNJ untuk memperluas jejaring kolaborasi dan memberikan kontribusi dalam pembahasan masa depan pendidikan Indonesia.
Prof. Komarudin menegaskan UNJ siap terus berkolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha dan dunia industri, serta berbagai mitra strategis untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.