Delegasi Misi Perdamaian Dunia dari UEA Sambangi UNJ, Dorong Kolaborasi Global Berbasis Nilai Damai

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. FMIPA UNJ Jalin Kerja Sama dengan…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Gelar Studium Generale untuk Dukung Perdamaian Dunia, UNJ Gandeng International Peace Mission Foundation

UNJ Perkuat Kolaborasi Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Kampus di U25 Leaders Forum Rektor PTN-BH

Tingkatkan Kualitas Skema Sertifikasi, LSPP1-UNJ Adakan Coaching Clinic

FT UNJ Berkolaborasi dengan UKRIDA dalam Penguatan Program PSPPI

Didukung LPDP, Dosen Pendidikan Sejarah FISH melalui Comdev EQUITY UNJ Dorong Penguatan Kompetensi Guru Sejarah

Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi panggung pertemuan strategis lintas negara ketika delegasi lembaga misi perdamaian dunia dari Uni Emirat Arab yang dipimpin Syekh Ali Muhammad Asyurafa Al Hammadi melakukan kunjungan resmi pada Rabu, 29 April 2026 ke UNJ, Rawamangun, Jakarta timur.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penegasan komitmen bersama untuk mengarusutamakan nilai-nilai perdamaian dalam lanskap global yang kian kompleks.

Delegasi yang menyertai kunjungan tersebut terdiri dari tujuh akademisi dan jurnalis asal Mesir yang memiliki pengaruh di bidang keilmuan dan media. Mereka adalah Reza Abdussalam Ibrahim Ali, Abdul Radhi Muhammad Abdul Muhsin Ridwan, Abu Al-Fadl Kamil Muhammad Muhammad, Majdi Ahmad Hamid Tantawi, Tamer Saad Ibrahim Khidr, Muhammad Hanafi Muhammad Ahmad Al-Shantanawi, serta Khalid Abdul Qawi Muhammad Al-Awami. Komposisi ini mencerminkan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan kekuatan akademik dan peran strategis media dalam membentuk opini publik global tentang perdamaian.

Kunjungan diawali dengan studium general yang menghadirkan dua tema kunci: peran pendidikan, media, dan diplomasi dalam meneguhkan perdamaian dunia, serta pembacaan isu-isu kemanusiaan dan persoalan umat dalam perspektif lembaga misi perdamaian. Paparan yang disampaikan menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor dan lintas peradaban.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor bidang kerja sama dan bisnis, Andy Hadiyanto, menegaskan bahwa dunia hari ini menghadapi paradoks: kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan pesat, namun ketegangan sosial dan krisis kemanusiaan tetap mengemuka. Karena itu, menurutnya, perdamaian harus ditempatkan sebagai kebutuhan fundamental, bukan sekadar wacana normatif.

Ia menekankan pentingnya pergeseran paradigma keilmuan menuju pendekatan yang lebih komprehensif dan integratif, yang mampu merespons kompleksitas zaman sekaligus berakar pada nilai-nilai toleransi, keadilan, dan hidup berdampingan.

“Transformasi ini tidak cukup berhenti pada gagasan, tetapi harus diwujudkan dalam sistem pendidikan, narasi budaya, dan praktik kelembagaan,” tegasnya.

Andy juga menempatkan pertemuan ini sebagai momentum strategis untuk membangun kerja sama konkret yang berdampak global, sejalan dengan visi UNJ sebagai universitas yang mendunia dan berkontribusi nyata bagi kemanusiaan.

Sementara itu, Majdi Ahmad Hamid Tantawi menegaskan bahwa lembaga misi perdamaian internasional yang diwakilinya bergerak dengan visi besar: menanamkan budaya damai dan toleransi sebagai amanah nilai-nilai Al-Qur’an yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Berangkat dari semangat rahmatan lil ‘alamin, lembaga ini telah memperluas jejaringnya ke 26 negara di Amerika, Eropa, dan Afrika.

Ia juga menekankan bahwa membangun perdamaian bukan sekadar idealisme, tetapi agenda strategis yang harus dikerjakan secara sistematis melalui pendidikan, media, dan penguatan kesadaran lintas generasi.

Tidak berhenti pada forum akademik, kunjungan ini berlanjut pada dialog strategis yang menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak. Dalam dialog tersebut, Majdi mengungkapkan rencana pembukaan cabang lembaga di Indonesia, sekaligus mengajak UNJ untuk terlibat aktif dengan mengirimkan kader-kader terbaiknya dalam program-program perdamaian global.

Sejumlah inisiatif konkret ditawarkan, mulai dari penguatan riset lintas disiplin, kampanye toleransi bagi generasi muda, pengembangan kurikulum berbasis budaya damai sejak usia dini, hingga penyelenggaraan forum akademik dan budaya bertaraf internasional.

Dari pihak UNJ, Prof. Muktiningsih menyuarakan harapan agar kampus ini dapat mengambil peran lebih luas di panggung global dalam mengembangkan budaya damai dan koeksistensi. Harapan tersebut menemukan resonansi kuat dalam penegasan penutup dari Andy Hadiyanto yang menyatakan kesiapan UNJ untuk mendirikan pusat kajian perdamaian sebagai langkah konkret tindak lanjut kerja sama. Ia juga memastikan bahwa UNJ akan segera menyusun peta jalan kolaborasi jangka pendek, menengah, dan panjang agar kesepakatan yang terbangun tidak berhenti pada dokumen, tetapi bertransformasi menjadi aksi nyata.

Kunjungan ini menandai babak baru kolaborasi antara Universitas Negeri Jakarta dan lembaga misi perdamaian dunia—sebuah langkah yang tidak hanya memperluas jejaring internasional, tetapi juga mempertegas posisi perguruan tinggi sebagai aktor penting dalam membangun peradaban global yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.