Didukung LPDP, Dosen Pendidikan Sejarah FISH melalui Comdev EQUITY UNJ Dorong Penguatan Kompetensi Guru Sejarah

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Terima Kunjungan USBR dalam Penjajakan…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Tingkatkan Kualitas Skema Sertifikasi, LSPP1-UNJ Adakan Coaching Clinic

FT UNJ Berkolaborasi dengan UKRIDA dalam Penguatan Program PSPPI

Unhan RI Gandeng UNJ Laksanakan Pekerti Dalam Rangka Penguatan Kapasitas Dosen

Dosen dan Mahasiswa FT UNJ Tampil dalam Dies Natalis ke-30 SLB Kyriakon, Dorong Inovasi Busana Inklusif

Peserta Disabilitas Nyaman Ikuti UTBK di UNJ, Relawan Beri Pendampingan Penuh

Jakarta, Humas UNJ — Sebagai upaya memperkuat kompetensi profesional guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, tim Community Development Universitas Negeri Jakarta (Comdev UNJ) yang terdiri dari dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ, menyelenggarakan workshop bagi para guru sejarah di Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Jakarta dan dilaksanakan pada Jumat, 24 April di SMAN 68 Jakarta.

Workshop bertajuk “Penguatan Materi Sejarah Indonesia” ini merupakan bagian dari program EQUITY UNJ yang didukung oleh pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia. Program ini menjadi wujud nyata penguatan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik.

Ketua Tim Comdev UNJ yang juga Wakil Dekan I FISH UNJ, Kurniawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara UNJ dan MGMP Sejarah Jakarta yang diketuai oleh Zia Ul Haq. Menurutnya, penguatan kompetensi profesional guru sejarah menjadi langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan, terutama dalam memperkaya perspektif pembelajaran sejarah di Indonesia.

“Kajian tentang Migrasi Austronesia dipilih untuk memperkuat wawasan guru sejarah mengenai sejarah awal Indonesia yang pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat persatuan nasional,” ujar Kurniawati.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman akademik, tetapi juga memberikan kontribusi dalam membangun kesadaran akan keberagaman budaya di Indonesia. Dengan demikian, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual sekaligus responsif terhadap isu-isu sosial, khususnya yang berkaitan dengan keberagaman etnis.

Kepala SMAN 68 Jakarta, Tjahyani, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai workshop ini penting untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan guru sejarah agar proses pembelajaran tidak lagi monoton dan tidak hanya bergantung pada buku teks, melainkan lebih inovatif dan interaktif.

Kegiatan inti workshop menghadirkan narasumber Teddy Y.H. Sim, seorang peneliti sejarah Asia Tenggara dari National Chung Cheng University, Taiwan, yang dimoderatori oleh Nur Fajar Absor. Dalam pemaparannya yang bertajuk “The Role of Multiculturalism and Island/Regional History in an Increasingly Changing World”, Teddy menekankan pentingnya peran ilmu sejarah dan multikulturalisme dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.

Ia menguraikan bahwa tantangan global saat ini, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga risiko kesenjangan dalam tata kelola pemerintahan, justru memperkuat urgensi peran pendidikan sejarah. Oleh karena itu, guru sejarah dituntut untuk lebih adaptif dan memiliki perspektif global dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Lebih lanjut, Teddy menjelaskan bahwa migrasi Austronesia tidak berlangsung secara linear, melainkan bersifat multiarah dan berlapis, yang kemudian membentuk jaringan maritim serta interaksi regional yang kompleks di kawasan Asia-Pasifik. Perspektif ini dinilai penting untuk memperkaya pemahaman sejarah Indonesia dalam konteks global.

Workshop yang diikuti oleh sekitar 30 guru sejarah dari berbagai SMA di Jakarta ini berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berkembang, terutama dalam sesi tanya jawab yang membahas perbandingan peradaban Mesir dan Austronesia serta peluang studi di Taiwan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pengisian kuesioner untuk menggali pemahaman dan persepsi peserta terkait materi yang disampaikan, sekaligus refleksi atas pengalaman mereka dalam mengajarkan sejarah Indonesia awal dan multikulturalisme di kelas.

Pada penutupan kegiatan, Kurniawati berharap workshop ini dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran sejarah di sekolah.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para guru memiliki tambahan wawasan dan kompetensi, khususnya dalam kajian migrasi Austronesia, yang dapat diimplementasikan secara efektif dalam proses pembelajaran di kelas,” pungkasnya.