Dirjen Saintek Kemdiktisaintek Dorong Pendidikan Guru Adaptif terhadap Transformasi AI di Semiloka UNJ

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Dirjen Saintek Kemdiktisaintek Dorong Pendidikan Guru…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Seminar Perencanaan Keuangan dan Investasi Cerdas Tandai Kerja Sama UNJ dan PT Pegadaian

FT UNJ Bersama PT Brexa Raya Indonesia Buka Peluang Magang Internasional Mahasiswa di Daihatsu Jepang

FT UNJ Bersama Satpol PP DKI Jakarta Gelar FGD untuk Bahas Penyempurnaan SOTK

FBS UNJ Bahas Peluang Mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Australia

Soroti Inklusivitas dan Ketertinggalan Substantif Wujudkan SDGs 2030, Prodi Penmas FIP UNJ Gelar Studium Generale

JAKARTA, Humas UNJ – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong pendidikan guru di Indonesia untuk melakukan penyesuaian, baik dalam desain pembelajaran, penguatan kompetensi, maupun pola interaksi antara guru dan peserta didik. Adaptasi terhadap transformasi digital dinilai menjadi bagian penting dalam menyiapkan guru yang relevan dengan perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Dirjen Saintek Kemdiktisaintek RI), Prof. Ahmad Najib dalam Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Guru dan Pendidikan Guru Indonesia bertema “Menata Ulang Pendidikan Guru di Indonesia” di Ballroom Lantai 8 Hotel Naraya UTC UNJ, Sabtu (15/8/26).

Prof. Ahmad Najib mengatakan, perkembangan AI telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Teknologi tersebut tidak lagi sebatas digunakan melalui komputer atau telepon seluler, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi momentum untuk meninjau kembali desain pendidikan guru di Indonesia. Pendidikan guru tidak cukup hanya membekali calon pendidik dengan penguasaan materi dan metode pembelajaran, tetapi juga harus membangun kemampuan untuk beradaptasi secara kritis terhadap perkembangan teknologi.

“Konsep-konsep pendidikan, interaksi guru-murid, makna berpikir kritis, kreatif, karya tulis perlu untuk kemudian kita konseptualisasikan secara ulang,” ujar Prof. Najib.

Ia menjelaskan, Kemendiktisaintek memiliki kepentingan dalam penguatan pendidikan guru, baik melalui program revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) maupun sebagai pengguna lulusan. Salah satunya berkaitan dengan kebutuhan guru untuk sekolah Garuda yang melibatkan perguruan tinggi serta Kementerian Agama untuk kebutuhan guru agama.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan guru, Kemendiktisaintek sebelumnya memberikan pendanaan revitalisasi LPTK kepada 17 perguruan tinggi penyelenggara program studi pendidikan guru. Selain itu, kementerian juga tengah menyiapkan kajian pembelajaran transformatif dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

AI Ubah Cara Pandang Pendidikan

Prof. Najib menilai kehadiran AI perlu dipahami sebagai bagian dari perubahan besar yang berpotensi memengaruhi cara manusia memandang pendidikan. Karena itu, respons terhadap teknologi tidak cukup berupa penerimaan atau penolakan, melainkan perlu diarahkan pada pemanfaatan yang kritis dan bertanggung jawab.

Ia menggambarkan sejumlah kecenderungan masyarakat dalam merespons AI, mulai dari kelompok yang khawatir teknologi akan menggantikan peran manusia, kelompok skeptis, pengguna pragmatis yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, hingga kelompok yang melihat AI sebagai pendorong kemajuan dan inovasi.

Dalam konteks pendidikan, kata dia, perkembangan AI dapat dikaitkan dengan konsep transformative learning atau pembelajaran transformatif. Pendekatan tersebut menekankan perubahan cara pandang peserta didik melalui refleksi kritis, pembelajaran holistik, serta hubungan yang bermakna antara guru dan peserta didik.

Menurut Prof. Najib, AI bahkan dapat menjadi “disorienting dilemma”, yakni kondisi yang mendorong seseorang mempertanyakan kembali asumsi dan pandangan yang selama ini diyakini. Dalam pendidikan, perkembangan teknologi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai makna menjadi guru, penulis, dan peserta didik ketika sebagian fungsi manusia dapat dilakukan oleh teknologi.

Perubahan itu juga membawa konsekuensi terhadap cara pendidikan memahami plagiarisme, kecurangan akademik, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Prof. Najib menilai konsep kreativitas juga perlu diperluas. Di era AI, kreativitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gagasan baru, tetapi juga kemampuan merumuskan perintah atau prompt, menilai informasi, mengolah hasil, dan menghasilkan karya secara bertanggung jawab.

AI, lanjut dia, juga berpotensi mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan personal. Karena itu, guru perlu memahami AI bukan sekadar sebagai alat bantu, melainkan sebagai bagian dari lingkungan belajar yang terus berkembang.

Kemendiktisaintek melalui Direktorat Sistem dan Strategi Pembelajaran Transformatif terus mendorong pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam pembelajaran. Berbagai panduan pembelajaran transformatif disiapkan untuk membantu perguruan tinggi dan pendidik merespons perubahan teknologi.

Prof. Najib menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, LPTK, pemerintah, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam merumuskan pendidikan guru yang sesuai dengan tantangan masa depan.

“Kami sebetulnya akan banyak membutuhkan bantuan dari Bapak Ibu semuanya dalam kaitannya upaya beradaptasi mengadopsi teknologi digital dan AI ini dalam pembelajaran,” katanya.

Ia berharap pendidikan guru ke depan mampu memadukan penguasaan kompetensi profesional dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian, guru tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi mampu memanfaatkannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.