Jakarta, Humas UNJ — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) kembali menyelenggarakan The Eurasia International Course 2026 Session 4 pada 2 Maret 2026 dengan mengangkat tema “The Impact of AI Technology on the Development of Culture: Comparison of Indonesia and Japan.” Kegiatan ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memengaruhi dinamika budaya di dua negara dengan latar sosial dan teknologi yang berbeda, yakni Indonesia dan Jepang.
Bertempat di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, kegiatan ini menghadirkan Dianni Risda dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa kemajuan AI tidak hanya berdampak pada sektor industri dan ekonomi, tetapi juga turut membentuk cara masyarakat memaknai budaya, membangun interaksi sosial, serta menjaga tradisi di tengah transformasi digital yang terus berkembang.
Peserta yang terdiri atas mahasiswa dan sivitas akademika mengikuti kegiatan dengan antusias. Forum ini dirancang untuk memperluas cara pandang mahasiswa terhadap relasi antara teknologi dan budaya, terutama dalam membandingkan kondisi Indonesia sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dengan Jepang yang dikenal sebagai negara maju dengan kapasitas teknologi yang tinggi.
Rangkaian acara diawali oleh perwakilan mahasiswa berprestasi dari Program Diploma Usaha Perjalanan Wisata (UPW) yang membuka kegiatan sebelum memasuki sesi utama. Suasana akademik yang hangat dan terbuka kemudian berlanjut dalam pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber.
Dalam presentasinya, Dianni mengajak peserta menelaah citra Jepang yang selama ini dikenal dunia. Jepang sering dipandang sebagai negara yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan kekuatan budaya. Berbagai simbol seperti Gunung Fuji, kimono, geisha, Tokyo, anime, hingga perayaan budaya seperti Hina Matsuri dan Kodomo no hi menjadi contoh bagaimana Jepang mempertahankan identitas budayanya sekaligus tampil sebagai bangsa modern. Di sisi lain, kemunculan inovasi seperti HAL (Hybrid Assistive Limb) atau robot pendukung aktivitas manusia menunjukkan bahwa teknologi di Jepang berkembang seiring dengan kebutuhan sosial masyarakatnya.
Tak hanya menyoroti keunggulan Jepang, Dianni juga mengulas sejumlah tantangan yang dihadapi negara tersebut, mulai dari kondisi geografis yang rawan bencana, persoalan populasi menua, keterbatasan sumber daya alam, hingga tekanan sosial-ekonomi akibat modernisasi. Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut turut mendorong lahirnya inovasi teknologi, termasuk AI, yang dimanfaatkan untuk mendukung kualitas hidup masyarakat dan menjaga keberlanjutan budaya.

Pada bagian pembahasan inti, Dianni menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, menganalisis, dan mengambil keputusan. Dalam konteks budaya, kehadiran AI memengaruhi cara manusia mencipta, mendokumentasikan, hingga melestarikan warisan tradisi. Jepang dinilai relatif lebih siap dalam mengintegrasikan AI ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk untuk penguatan pelestarian budaya melalui digitalisasi dan inovasi berbasis teknologi.
Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan beragam, namun masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan pemanfaatan AI untuk mendukung pengembangan serta pelestarian budaya. Karena itu, menurut Dianni, Indonesia memiliki peluang besar untuk belajar dari pengalaman negara lain tanpa kehilangan karakter budaya lokal yang menjadi kekuatannya.
Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung hidup. Para peserta mengangkat beragam pertanyaan, mulai dari pengaruh AI terhadap identitas budaya, kemungkinan kolaborasi teknologi antarnegara, hingga persoalan etika dalam penggunaan AI di ruang sosial dan budaya. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa tema ini relevan dengan kebutuhan mahasiswa untuk memahami perubahan global secara lebih kritis dan kontekstual.
Melalui forum ini, FISH UNJ menegaskan komitmennya dalam mendorong internasionalisasi akademik sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa untuk memahami isu-isu global yang berkembang di era digital.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ, Firdaus Wajdi menyampaikan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan membawa dampak signifikan terhadap dinamika budaya di berbagai negara.
“Tema The Impact of AI Technology on the Development of Culture: Comparison of Indonesia and Japan menjadi sangat penting untuk dikaji, karena AI tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi, tetapi juga memengaruhi nilai, ekspresi, dan praktik budaya di masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan harapan besar agar forum ini dapat memperkaya perspektif terkait AI.
“Melalui forum Eurasia ini, kami berharap dapat memperkuat kolaborasi akademik lintas negara serta menghasilkan pemikiran kritis yang mampu menjaga identitas budaya sekaligus memanfaatkan teknologi secara bijak,” tambahnya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam upaya menghadirkan pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada tantangan masa depan. Dengan membuka ruang dialog tentang AI, budaya, dan dinamika global, FISH UNJ turut berkontribusi dalam membentuk generasi pembelajar yang adaptif, kritis, dan memiliki wawasan internasional.