JAKARTA, Humas UNJ — Sebanyak 25 dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ) mengikuti pelatihan untuk merancang pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada mahasiswa. Selama tiga hari, dari Kamis (10/09/26) hingga Sabtu (12/09/26), para dosen tidak hanya membahas konsep pembelajaran transformatif, tetapi juga menyusun rancangan kuliah, mengembangkan asesmen, hingga menguji praktik mengajar.
Pelatihan Pembelajaran Transformatif itu digelar di Ruang Sidang FIP UNJ lantai 3 dan secara daring melalui Zoom. Peserta berasal dari seluruh program studi di lingkungan FIP UNJ dan mendapat pendampingan dari fasilitator selama proses pelatihan.
Kegiatan dibuka dengan laporan panitia yang disampaikan Karta Sasmita, dilanjutkan sambutan Dekan FIP UNJ Aip Badrujaman. Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Prof. Ardi Findyartini kemudian memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan. Turut hadir Neneng Khafidho, Ketua Kelompok Kerja Model Pembelajaran Transformatif pada Direktorat SSPT.
Ardi mengatakan pembelajaran transformatif menuntut dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi. Dosen perlu membangun ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa berdialog, berdiskusi, berefleksi, dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
“Peran Bapak dan Ibu sebagai dosen menjadi penting dan menjadi kunci dalam penerapan pembelajaran transformatif. Dosen tidak hanya memfasilitasi proses pembelajaran, tetapi juga perlu siap belajar bersama mahasiswa melalui proses dialog, diskusi, dan co-learning,” ujar Ardi.

Menurut Dekan FIP UNJ, Aip Badrujaman, perubahan kebutuhan mahasiswa dan perkembangan zaman menuntut perguruan tinggi terus memperbarui cara mengelola pembelajaran. Karena itu, peningkatan kapasitas dosen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas proses pendidikan.
“Pelatihan Pembelajaran Transformatif ini merupakan langkah strategis FIP UNJ untuk memperkuat kompetensi dosen dalam merancang pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penyusunan RPS, tetapi berlanjut pada penerapan pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk aktif berdialog, berpikir kritis, berefleksi, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata,” kata Aip.
Pada hari pertama, peserta mempelajari kebijakan dan arah strategis pembelajaran transformatif serta kerangka kerjanya. Materi kemudian diterapkan dalam penyusunan desain perkuliahan. Peserta menelaah Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan Sub-CPMK sebelum menyusun skenario pembelajaran serta aktivitas mahasiswa.

Rancangan tersebut dikerjakan secara berkelompok dan dipresentasikan untuk mendapatkan masukan dari fasilitator. Proses ini membuat peserta dapat melihat kembali hubungan antara capaian pembelajaran, aktivitas mahasiswa, dan metode yang akan digunakan di kelas.
Pada hari kedua, peserta mulai mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran dan menyusun draf Rencana Pembelajaran Semester (RPS) transformatif. Proses tersebut didampingi Uwes A. Chaeruman, Meyta Dwi K., Nur Latifa, dan Khaerudin.
Setelah draf RPS selesai, peserta saling memberikan masukan melalui peer review. Draf kemudian diperbaiki dalam sesi klinik penyempurnaan. Peserta juga mempelajari asesmen pembelajaran transformatif, termasuk penyusunan rubrik reflektif dan instrumen asesmen.
Perangkat pembelajaran tersebut kemudian disatukan dalam RPS untuk memastikan rancangan perkuliahan, aktivitas belajar, dan asesmen berjalan dalam satu alur yang saling berkaitan.
Pada hari terakhir, rancangan pembelajaran yang telah dibuat diuji melalui peer teaching. Peserta bergantian memainkan peran sebagai dosen, mahasiswa, dan observer. Dari simulasi itu, mereka memperoleh gambaran mengenai bagian pembelajaran yang sudah berjalan baik maupun yang masih perlu diperbaiki sebelum diterapkan di kelas. Rangkaian Pelatihan ditutup secara resmi oleh Cecep Kustandi selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Sumber Daya FIP.
Melalui pelatihan ini, FIP UNJ menempatkan pembelajaran transformatif bukan sekadar sebagai konsep, melainkan sebagai pendekatan yang perlu diterjemahkan ke dalam praktik perkuliahan. Dosen didorong menciptakan ruang belajar yang membuat mahasiswa aktif berdialog, berpikir kritis, berefleksi, mengembangkan keterampilan, serta menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang mereka hadapi.
Penguatan kapasitas dosen dan kualitas pembelajaran tersebut juga menjadi bagian dari upaya FIP UNJ mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yakni Pendidikan Bermutu (Quality Education).