Jakarta, Humas UNJ – Meninggalkan kampung halaman demi menuntut ilmu di negeri orang bukanlah perkara sederhana. Perbedaan bahasa, budaya, hingga rasa rindu yang kerap datang menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, bagi Siti Syarah binti Saifudin—yang akrab disapa Syara—perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Jakarta, Indonesia justru menjadi pintu menuju pengalaman yang lebih dari sekadar pendidikan, yakni menemukan “rumah” baru.
Syara merupakan mahasiswa internasional yang baru saja menuntaskan studi magister (S-2) pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ). Momen kelulusannya terasa semakin istimewa saat ia mengikuti Wisuda UNJ Tahun Akademik 2025/2026 Sesi 1 yang digelar pada 13 April 2026 di GOR UNJ. Di tengah suasana haru dan bahagia, Syara membagikan kisah perjalanannya yang penuh makna selama menempuh studi di Indonesia.
Kecintaannya terhadap dunia pendidikan anak usia dini telah tumbuh sejak lama. Di Malaysia, Syara telah menyelesaikan pendidikan Diploma hingga Sarjana (S-1) di bidang yang sama. Keputusannya melanjutkan studi ke Indonesia pun bukan tanpa alasan. Inspirasi itu datang dari seorang dosen yang merupakan alumni UNJ.

“Dari cara beliau mengajar dan wawasannya, saya melihat kualitas UNJ yang sangat unik. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak saya datang langsung untuk merasakannya sendiri?” kenang Syara.
Keputusan berani tersebut berbuah manis. Selama menempuh pendidikan di FIP UNJ, Syara merasakan langsung kualitas akademik yang melampaui ekspektasinya. Ia mengaku terkesan dengan kompetensi para dosen yang mampu menjawab setiap pertanyaan dengan kedalaman perspektif dan pengalaman yang mumpuni.
“Pengalaman belajar di sini luar biasa. Kita benar-benar bisa melihat jam terbang dan kepakaran dosen-dosen. Itu yang membuat saya yakin bahwa keputusan ini sangat tepat,” ujarnya.
Lingkungan akademik yang inklusif juga menjadi faktor penting dalam kenyamanan belajar Syara. Meski perkuliahan berlangsung dalam bahasa Indonesia, ia tidak mengalami kendala berarti. Para dosen bahkan memberikan fleksibilitas dengan menerima tugas-tugas akademik dalam bahasa Inggris, sehingga proses belajar tetap optimal.

Pengalaman belajar Syara tidak hanya terbatas di ruang kelas. Sebagai mahasiswa PAUD, ia juga terjun langsung ke lapangan dengan mengunjungi berbagai Taman Kanak-Kanak di Jakarta. Di sinilah proses adaptasi budaya dan bahasa menjadi lebih terasa—sekaligus menghadirkan pengalaman yang mengesankan.
“Tantangan terbesar tentu bahasa. Walaupun saya bisa berbahasa Indonesia, logat Malaysia saya masih kental,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, justru dari perbedaan itu tercipta kedekatan yang tak terduga. Logat khas Melayu yang ia miliki membuat anak-anak merasa akrab, bahkan kerap memanggilnya dengan sebutan “Kak Ros”, karakter dari serial animasi populer asal Malaysia.
“Setiap mereka memanggil ‘Kak Ros’, saya merasa sangat diterima. I win dekat situ,” tambahnya penuh kebahagiaan.
Sebagai mahasiswa internasional, Syara tidak pernah merasa sendiri. Sejak awal kedatangannya, ia merasakan dukungan penuh dari lingkungan kampus, khususnya dari Kantor Urusan Internasional (KUI) UNJ yang aktif mendampinginya dalam proses adaptasi.
“Saya tidak pernah merasa asing. Semua sangat suportif sejak hari pertama,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar tempat menimba ilmu, UNJ bagi Syara telah menjelma menjadi rumah kedua—ruang di mana ia tumbuh, belajar, dan menemukan keluarga baru di tengah perbedaan.
“Teman-teman, dosen, dan seluruh civitas akademika membuat saya merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri,” pungkasnya dengan senyum hangat.

Kisah Syara menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi juga tentang perjalanan menemukan makna, membangun relasi lintas budaya, dan merasakan bahwa di mana pun kita berada, “rumah” bisa hadir dalam bentuk kehangatan manusia.