Jakarta, Humas UNJ – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Laysa Latifah, atlet catur yang berhasil meraih medali emas pada ajang SEA Games 2025 di Thailand. Kejuaraan ini menjadi momen bersejarah bagi Laysa karena merupakan debut pertamanya di pesta olahraga terbesar Asia Tenggara.
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNJ ini mengaku sangat bersyukur atas pencapaian tersebut. “Saya senang sekali dan sangat bersyukur diberi kesempatan tampil di SEA Games, apalagi ini pertama kalinya saya turun di ajang tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh tim Humas pada 31/12/2025.
Salah satu momen paling berkesan terjadi pada babak semifinal kategori beregu saat tim Indonesia berhadapan dengan Filipina. Saat itu, Indonesia tertinggal satu poin dan hanya menyisakan satu papan terakhir yang harus dimenangkan. Ketegangan memuncak, seluruh anggota tim catur Indonesia pun berdoa bersama.

“Alhamdulillah papan terakhir berhasil menang. Dari situ semangat tim meningkat dan kami melaju hingga final dengan kemenangan telak,” kenangnya.
Meski demikian, Laysa tidak memungkiri pernah merasakan putus asa. Menurutnya, dunia olahraga, termasuk catur, memiliki dinamika naik turun yang dipengaruhi banyak faktor, baik fisik maupun psikologis. Namun, ia selalu mengingat hasil dari perjuangannya, salah satunya kesempatan menempuh pendidikan di UNJ melalui jalur prestasi olahraga. Keyakinan ini terus menjadi motivasi hingga akhirnya meraih juara.
Laysa juga mengaku membagi waktu antara kuliah dan latihan intensif menjadi tantangan tersendiri. Ia selalu memprioritaskan kehadiran di kelas sebelum menyusul latihan di pusat pelatihan nasional. Dukungan teman-teman kuliah turut membantu, terutama dalam memberikan informasi tugas dan perkuliahan saat ia fokus mempersiapkan SEA Games.
Tantangan terbesar dalam persiapan SEA Games 2025 adalah mempelajari varian catur baru dalam waktu singkat, terlebih karena pemusatan latihan nasional sempat terhenti akibat efisiensi anggaran pemerintah. Meski demikian, ia tetap berusaha maksimal dengan jadwal latihan rutin mulai pukul 13.00 hingga 18.00, bahkan meningkat menjadi pagi hingga malam dua minggu menjelang pertandingan.
Menurut Laysa, mental dan kepercayaan diri menjadi strategi utama saat bertanding, mengingat mayoritas peserta SEA Games telah berpengalaman. Kehadiran rekan satu tim yang lebih senior juga membantunya menjaga ketenangan dan keyakinan selama kompetisi berlangsung.
Dalam perjalanan kariernya, keluarga menjadi sumber inspirasi dan motivasi utama, khususnya orang tua dan sang kakak yang juga pernah menjadi atlet SEA Games. Ke depan, ia menargetkan pencapaian sebagai Woman Grandmaster (WGM) ke-4 Indonesia. Saat ini, ia telah memenuhi syarat rating minimal dan mengantongi dua norma WGM, sehingga hanya membutuhkan satu norma lagi untuk meraih gelar tersebut.
Terkait peran kampus, Laysa mengakui dukungan UNJ lebih banyak dirasakan dalam bentuk pemahaman dosen terhadap jadwal latihan dan pertandingan, serta fasilitas beasiswa dan jalur prestasi olahraga saat masuk perguruan tinggi. Ia menilai UNJ memiliki potensi besar untuk mencetak lebih banyak atlet berprestasi di masa depan, mengingat banyaknya mahasiswa atlet, khususnya di bidang keolahragaan.
Sebagai pesan, Laysa mengajak mahasiswa lain yang ingin berprestasi di bidang olahraga untuk tidak mudah menyerah dan rajin berlatih, serta tidak memberikan tekanan berlebihan pada diri sendiri. Dari SEA Games 2025, ia belajar bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi mental kuat, kepercayaan diri, dan kerja sama tim untuk meraih hasil terbaik.