JAKARTA, Humas UNJ – Berawal dari unggahan video mukbang yang dibuat secara iseng, Walid Ismail kini berkembang menjadi salah satu konten kreator yang dikenal melalui akun TikTok @walidismailll.
Dalam keterangannya saat diwawancarai pada Kamis (30/07/26), Walid mengaku aktivitasnya di dunia digital tidak hanya menjadi ruang untuk menyalurkan minat, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan memperoleh penghasilan selama menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ).
Walid mengatakan, ketertarikannya membuat konten bermula dari keinginan sederhana untuk membagikan video mukbang di media sosial. Respons positif dari warganet terhadap konten tersebut kemudian mendorongnya untuk terus berkarya dan mengembangkan akun yang dikelolanya.
“Awalnya hanya iseng mengunggah video mukbang di TikTok. Ternyata responsnya ramai, sehingga saya melanjutkan membuat konten,” ujar Walid.
Seiring perjalanan waktu, aktivitas membuat konten tidak lagi sekadar dilakukan untuk mengisi waktu luang. Dunia kreatif digital menjadi wadah bagi Walid untuk menyalurkan passion sekaligus memperoleh tambahan penghasilan di tengah aktivitasnya sebagai mahasiswa.

“Setelah terjun ke dunia media sosial, motivasinya lebih menjadi platform untuk menyalurkan passion. Kebetulan media sosial juga bisa menghasilkan pendapatan sehingga dapat menjadi tambahan selama berkuliah,” katanya.
Dalam menekuni dunia kreatif digital, Walid mengaku mendapat inspirasi dari sang kakak yang lebih dahulu aktif di media sosial. Kehadiran sosok tersebut menjadi salah satu dorongan baginya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan sebagai konten kreator.
Sebagai mahasiswa Psikologi UNJ, pengalaman akademik yang diperolehnya turut memengaruhi cara ia merancang dan menyampaikan konten. Menurut Walid, pemahaman mengenai perilaku manusia membantunya mengenali kebutuhan audiens serta menentukan cara komunikasi yang lebih efektif.
“Pengalaman saya di UNJ, khususnya sebagai mahasiswa Psikologi, membuat saya lebih memperhatikan siapa audiens saya dan bagaimana cara menyampaikan pesan yang mudah dipahami,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses membuat konten tidak hanya berorientasi pada tampilan visual. Bagi Walid, informasi yang disampaikan juga perlu memiliki nilai manfaat, disajikan secara jujur, serta mampu membangun kepercayaan audiens.
“Ketika membuat konten, saya tidak hanya fokus agar menarik secara visual, tetapi juga berusaha memberikan informasi yang jujur, bermanfaat, dan bisa membangun kepercayaan dengan audiens,” katanya.
Pembelajaran di bidang psikologi juga mendorongnya untuk menerapkan empati dalam proses kreatif. Ia berupaya melihat suatu gagasan dari sudut pandang audiens agar konten yang dihasilkan relevan, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Saya belajar memahami perilaku dan kebutuhan orang lain. Itu saya terapkan saat membuat konten dengan mencoba melihat dari sudut pandang audiens, konten seperti apa yang menarik, mudah dipahami, dan benar-benar bermanfaat,” tutur Walid.
Menurut Walid, media sosial memiliki peran penting sebagai sarana komunikasi dan penguatan citra perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui media sosial, informasi dapat disampaikan secara cepat dan mudah diakses oleh mahasiswa maupun masyarakat.
Selain berfungsi sebagai saluran informasi, media sosial juga dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memperkenalkan berbagai capaian dan aktivitas kampus.
“Melalui konten yang kreatif, konsisten, dan relevan, perguruan tinggi dapat menunjukkan prestasi akademik, kegiatan kemahasiswaan, hasil penelitian, hingga budaya kampus,” ujarnya.
Pemanfaatan media sosial yang tepat, lanjut Walid, dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memperluas daya tarik perguruan tinggi bagi calon mahasiswa.
Pengalaman sebagai kreator konten juga memberikan manfaat dalam menjalankan aktivitasnya di lingkungan kampus. Kemampuan berpikir kreatif, mengemas informasi, serta menyesuaikan gaya komunikasi dengan sasaran audiens menjadi keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan.
“Pengalaman sebagai content creator melatih saya untuk berpikir kreatif, mengemas informasi agar lebih menarik, dan menyesuaikan cara komunikasi dengan target audiens,” katanya.
Kemampuan tersebut, menurut dia, dapat dimanfaatkan dalam pembuatan materi publikasi, dokumentasi kegiatan, maupun penyampaian informasi agar lebih mudah dipahami dan mampu menarik perhatian mahasiswa.
Walid menilai mahasiswa UNJ memiliki potensi besar untuk berkembang dalam industri kreatif dan ekonomi digital. Namun, ia melihat masih ada mahasiswa yang belum berani menunjukkan kemampuan dan gagasan yang dimiliki.
Menurutnya, rasa khawatir terhadap penilaian orang lain maupun lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung dapat menjadi salah satu hambatan bagi mahasiswa untuk mulai berkarya.
“Banyak mahasiswa UNJ yang memiliki potensi dalam industri kreatif, tetapi mungkin masih ada yang malu untuk memulai, baik karena lingkungan yang kurang mendukung maupun karena masih ragu terhadap diri sendiri,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong teman-teman mahasiswa untuk lebih mengenali dan mengeksplorasi potensi diri. Walid juga mengingatkan pentingnya membangun personal branding secara positif melalui karya, pengalaman, maupun pencapaian yang dibagikan secara bertanggung jawab.
“Mulailah lebih mengeksplorasi diri sendiri dan jangan terlalu takut terhadap apa yang dikatakan orang lain,” katanya.
Menurut Walid, media sosial dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mendukung perkembangan akademik maupun karier. Platform digital dapat menjadi ruang untuk membagikan karya, menunjukkan kemampuan, memperluas jaringan, serta memperoleh informasi mengenai peluang profesional.
“Mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial dengan membangun personal branding yang positif, membagikan karya, prestasi, dan pengalaman akademik. Media sosial juga bisa menjadi tempat untuk memperluas jaringan dan mencari peluang karier,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya minat generasi muda untuk menjadi kreator konten, Walid menilai keterampilan komunikasi dan kemampuan memahami audiens menjadi dua aspek penting yang perlu dikembangkan.
Menurut dia, menjadi kreator konten tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan visual yang menarik, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan yang relevan, kreatif, dan memberikan manfaat.
“Content creator bukan hanya soal membuat konten yang menarik, tetapi juga bagaimana menyampaikan pesan yang relevan, kreatif, dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sikap kritis dalam menggunakan media sosial. Kreator maupun pengguna media sosial perlu memeriksa kembali informasi sebelum membagikannya kepada publik untuk mengurangi penyebaran informasi keliru atau hoaks.
“Informasi yang akan disampaikan perlu disaring dan diperiksa kembali untuk memastikan apakah informasi tersebut benar atau hanya hoaks,” ujarnya.
Walid menilai kreator konten dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi masyarakat dengan mengemas informasi edukatif dalam bentuk yang menarik dan mudah dipahami. Kreativitas serta jangkauan media sosial dapat membantu informasi bermanfaat menjangkau lebih banyak orang.
Ia juga melihat peluang kolaborasi yang besar antara dunia pendidikan dan industri konten digital. Perguruan tinggi dapat menyediakan informasi yang kredibel, sementara kreator konten dapat membantu menyajikannya dalam format yang lebih komunikatif dan mudah diterima masyarakat.
“Dunia pendidikan dapat menyediakan ilmu dan informasi yang kredibel, sedangkan industri konten digital membantu mengemasnya menjadi konten yang menarik dan mudah dipahami,” katanya.
Kolaborasi tersebut, menurut Walid, dapat menghasilkan berbagai program edukatif, memperkuat branding kampus, serta mendorong peningkatan literasi digital masyarakat.
Apabila mendapat kesempatan mengembangkan kampanye digital untuk UNJ, Walid ingin menghadirkan program bertajuk “Explore Kuliner UNJ”. Program tersebut dapat mengenalkan berbagai makanan favorit mahasiswa, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kampus, serta cerita di balik para penjualnya.
“Mungkin karena fokus saya pada konten kuliner, programnya bisa berupa ‘Explore Kuliner UNJ’ yang mengenalkan makanan favorit mahasiswa, UMKM sekitar kampus, serta cerita di balik para penjualnya,” ujarnya.
Ia menilai kampanye tersebut tidak hanya dapat menghasilkan konten yang menarik, tetapi juga memperkuat hubungan antara kampus, mahasiswa, dan masyarakat di lingkungan sekitar.
Ke depan, Walid berharap ekosistem kreatif digital di UNJ terus berkembang dan menyediakan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide serta kreativitas.
“Semoga kampus dapat mendukung mahasiswa dalam membuat konten positif, berkolaborasi, dan menghasilkan karya digital yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Walid juga berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda agar tidak ragu memulai karya di ruang digital. Menurut dia, passion dapat menjadi dorongan untuk terus berkembang, tetapi karya yang dihasilkan juga perlu memberikan nilai dan dampak positif bagi orang lain.
“Jangan takut untuk mulai berkarya dan gunakan media digital sebagai ruang untuk menunjukkan potensi diri. Jadikan passion sebagai motivasi, tetapi tetap berikan nilai dan manfaat bagi orang lain,” ujar Walid.