Melangkah dari Nganjuk, Gading Pambudi Raih Wisudawan Terbaik FT UNJ 2025 dengan Semangat KIP-K

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Perkuat Sistem Pendidikan Nasional yang Lebih…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Lantik Kepala Bagian dan Kepala Subbagian Labschool Periode 2026–2030

Fragmen Suara Abadi, Resital Mahasiswa Pendidikan Musik FBS UNJ

UNJ Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Royal Thai Army untuk Pengembangan SDM

Dua Mahasiswi UNJ Berhasil Taklukkan Puncak Gokyo Ri Nepal

UNJ Umumkan Lapor Diri PPG Guru Tahun Akademik 2025/2026

Jakarta, Humas UNJ — Di balik toga yang dikenakan Moch. Ismail Gading Pambudi, tersimpan kisah perjuangan luar biasa seorang anak daerah yang berhasil meraih gelar Wisudawan Terbaik Program Sarjana Terapan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Tahun Akademik 2024/2025 Semester 122. Mahasiswa Program Studi Desain Mode, Fakultas Teknik ini berasal dari Nganjuk, Jawa Timur, dan merupakan penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

“Saya sangat bangga. Apa yang saya perjuangkan selama empat tahun akhirnya terbayar dengan predikat ini. Gelar ini saya persembahkan untuk almarhum ayah saya yang berpulang tepat setahun lalu, dan untuk ibu saya yang tak kenal lelah bekerja demi saya bisa kuliah,” ujar Gading dengan mata berkaca-kaca.

Gading adalah potret keteguhan seorang anak rantau yang menempuh pendidikan di Ibu Kota dengan berbagai keterbatasan. Sebagai penerima beasiswa KIP-K, ia harus pandai mengatur waktu, mandiri secara finansial, dan tetap berprestasi di tengah tantangan.

“Selama empat tahun kuliah, saya bisa bertahan dan menyelesaikan semuanya berkat beasiswa KIP-K. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi juga jembatan kehidupan,” tuturnya.

Perjalanan akademiknya tidak selalu mudah. Gading memilih jurusan Desain Mode, bidang yang kerap dianggap identik dengan perempuan. Namun, pandangan tersebut justru menjadi pemicu semangatnya.

“Banyak yang bilang, ‘Kok laki-laki masuk jurusan busana?’ Saya jawab, ‘Kenapa tidak? Saya juga bisa.’ Dari situ saya makin bertekad membuktikan bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh gender. Alhamdulillah, hari ini saya bisa berdiri sebagai wisudawan terbaik,” tegasnya.

Semangat pantang menyerah membawa Gading aktif dalam berbagai organisasi di tingkat fakultas dan universitas. Ia terus memperluas wawasan, menjalin relasi lintas bidang, dan menantang diri untuk keluar dari zona nyaman.

Dalam karya akademiknya, Gading menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan isu lingkungan. Skripsinya berjudul “Eksplorasi Motif Wadasan dengan Penerapan Teknik Slashing pada Produk Jaket Eco Fashion” menggabungkan seni tradisional Jawa Barat dengan konsep busana berkelanjutan (sustainable fashion).

“Motif wadasan sering disalahartikan dan mulai pudar di kalangan pengrajin. Saya ingin menghidupkannya kembali melalui inovasi busana yang ramah lingkungan. Dari limbah kain perca bisa lahir karya bernilai tinggi,” jelasnya.

Saat ditanya tentang kunci keberhasilannya, Gading menjawab dengan sederhana namun penuh makna, “Coba saja dulu. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya. Tuhan yang menentukan, tetapi tugas kita adalah berproses sekuat mungkin. Hasil bukan segalanya, tetapi proseslah yang membuat kita tumbuh.”

Ke depan, Gading berencana untuk terus mengembangkan diri di dunia mode dan industri kreatif. Ia ingin magang lintas bidang untuk memperluas wawasan serta membangun usaha busana berkonsep keberlanjutan.

“Dunia mode bukan hanya soal tren, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Menutup kisahnya, Gading menyampaikan pesan menyentuh bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studi. “Skripsi terbaik bukan yang sempurna, tetapi yang selesai. Jangan menyerah. Jalani prosesnya dengan sabar. Karena setiap tetes keringat dan air mata kalian akan berbuah manis pada waktunya,” pungkasnya.