Jakarta, Humas UNJ – Ryan Galih Wicaksono, wisudawan Program Studi Pendidikan Teknik Kejuruan (PTK) jenjang magister Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), berhasil meraih predikat wisudawan terbaik pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi II pada 14 April 2026 di GOR UNJ dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,88. Pencapaian ini diraih di tengah berbagai tantangan yang ia hadapi selama menempuh studi.
Pria yang akrab disapa Galih ini bukan merupakan alumni UNJ pada jenjang sarjana, sehingga ia harus beradaptasi lebih keras saat pertama kali menginjak kampus. Mulai dari ketidakpahaman dengan gedung-gedung di lingkungan UNJ, hingga keharusan membagi waktu antara perkuliahan dan pekerjaannya sebagai guru di salah satu SMK Negeri di Jakarta.
“Tantangan terbesar saya adalah waktu yang terbatas dan rasa frustrasi dalam proses pengerjaan tesis,” ujar Galih. Ia bahkan sempat diminta mengganti judul tesisnya oleh dosen penguji saat seminar proposal, yang mengharuskannya beralih ke penelitian pengembangan.

Dalam tesisnya, Galih mengembangkan buku panduan kelas industri untuk jurusan Pengelasan di SMK Negeri. Ia berharap produk tersebut dapat membantu guru dan siswa memahami lebih dalam peran industri dalam pendidikan kejuruan. Momen paling berkesan, menurutnya, adalah ketika salah satu guru di lokasi penelitian langsung menggunakan produk buku panduan tersebut dalam kegiatan pembelajaran.
Galih mengaku memilih UNJ karena reputasinya sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di Indonesia, khususnya karena Program Studi PTK Pascasarjana UNJ telah meraih akreditasi berpredikat unggul.
Di balik perjalanan studinya, Galih menyebut sang istri sebagai sosok yang paling banyak memberikan dukungan. “Istri saya yang paling banyak berperan, dari awal kuliah hingga wisuda saat ini. Selalu mendukung apapun keputusan saya,” tuturnya. Ia juga mengapresiasi peran operator Program S-2 PTK UNJ serta para dosen yang dinilainya selalu peduli terhadap perkembangan mahasiswa.
Kunci menjalani tiga peran sekaligus kuliah, bekerja, dan kehidupan pribadi menurut Galih adalah ketenangan. “Mulai dari tenang, maka tidak terlalu banyak beban pikiran dan perasaan lelah,” ungkapnya.

Kini, setelah memutuskan mengundurkan diri dari posisinya sebagai guru PPPK, Galih berencana melanjutkan karier di bidang pendidikan, baik sebagai guru maupun dosen. Gelar magister yang ia sandang menjadi bekal untuk memperluas peluang tersebut.
Kepada mahasiswa dan calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang magister, Galih menitipkan pesan: “Gapailah ilmu setinggi-tingginya. Jika mendapatkan ujian atau hambatan saat perkuliahan, dimohon untuk tidak berhenti di jalan. Istirahatlah sejenak, lalu hadapi ujian itu kembali hingga garis finish.”
