Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menyelenggarakan Ujian Keterampilan sebagai bagian dari seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) Mandiri tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025, tes yang dilakukan FBS UNJ hari ini diikuti oleh calon mahasiswa baru dari tiga program studi, yaitu Pendidikan Seni Musik, Pendidikan Seni Rupa, dan Pendidikan Seni Tari.
Ujian keterampilan ini bertujuan untuk menilai kemampuan praktis dan kesiapan peserta dalam bidang seni yang mereka pilih. Setiap program studi memiliki metode seleksi yang berbeda, mencakup praktik langsung dan wawancara.
Pada program studi Pendidikan Seni Musik, peserta diuji dalam aspek ritmik, melodi, lagu wajib, keterampilan bermain alat musik, serta olah vokal. Ketua Program Studi Pendidikan Seni Musik, Gandung Joko Srimoko, menyampaikan bahwa peserta dari Sekolah Menengah Musik cenderung lebih siap dibandingkan peserta dari SMA umum yang latar belakangnya lebih beragam, termasuk yang belajar secara otodidak.
Tahun ini, jumlah peserta ujian keterampilan seni musik tercatat sebanyak 75 orang, menurun dari 140 peserta pada tahun sebelumnya. Menurut Gandung, penurunan tersebut kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan fasilitas ruang ujian.
Salah satu peserta, Fathiy Atta dari SMAN 26 Jakarta, mengaku belajar musik secara mandiri di rumah. “Saya suka musik, walaupun tidak pernah ikut kursus formal. Belajar baca not balok dan mengganti ritme sangat membantu,” ujarnya. Sementara itu, Cabi dari Bogor menyampaikan motivasinya, “Awalnya tidak terlalu suka, tapi setelah mengajar marching band dan membantu ibu yang juga guru musik, saya jadi tertarik.”
Ujian keterampilan pada program studi Pendidikan Seni Rupa menilai teknik menggambar, komposisi, ekspresi visual, dan daya imajinasi peserta. Salah satu penguji, Saut Mangihut Marpaung, menjelaskan bahwa ujian kali ini tidak menggunakan warna, sehingga penekanan berada pada garis dan komposisi. “Yang paling esensial adalah bagaimana peserta menyesuaikan konsep dengan komposisi secara keseluruhan,” ujarnya.

Dosen Pendidikan Seni Rupa UNJ, Leni, menambahkan, “Kami mencari mahasiswa yang memiliki hati untuk seni rupa, serta kompetensi yang sesuai dengan program studi.” Kaisya Gina dari SMA 30 Jakarta mempersiapkan diri dengan belajar anatomi manusia, narasi gambar, dan teknik arsiran melalui YouTube. “Tantangan terbesar adalah waktu. Saat sedang asyik menggambar, tiba-tiba waktu sudah hampir habis,” katanya.
Tirif Dalifah dari SMK Negeri 51 Jakarta, yang sebelumnya dua kali gagal dalam seleksi nasional, memilih jalur ini karena dianggap paling sesuai. “Motivasi saya datang dari dukungan guru-guru yang percaya saya cocok di bidang ini,” tuturnya.
Ujian keterampilan seni tari terdiri atas tiga tahap utama: presentasi tari bentuk, imitasi gerakan, dan eksplorasi gerak sesuai irama. Penilaian mencakup aspek wiraga (gerak), wirasa (rasa), dan wirahma (irama). “Kreativitas peserta juga menjadi faktor penting,” ujar panitia, Indra Parmedhi Mayada.
Caca dari SMA Negeri 76 Jakarta mengungkapkan bahwa ia menjaga pola makan untuk mendukung stamina saat ujian. “Latihan saya intensif, dan wawancara langsung cukup membuat tegang,” katanya. Sementara itu, Raffi dari Jakarta Timur, yang sebelumnya sempat kuliah di ISI Yogyakarta, bertekad melanjutkan studi di bidang tari. “Saya pikirkan apa yang ingin saya sampaikan agar penguji melihat bahwa saya layak masuk jurusan ini,” ujarnya.
Penguji dari Program Studi Pendidikan Tari, Romi Nursyam, menyampaikan bahwa improvisasi dan imitasi menjadi aspek penting dalam penilaian. “Kami bisa menilai kemampuan peserta menyerap gerakan hanya dari tiga kali pengulangan,” jelasnya.

Seleksi dimulai pukul 08.00 WIB, dengan sejumlah peserta sudah hadir sejak pukul 06.30 WIB. Panitia memberikan nomor urut dan formulir biodata sebagai bahan akreditasi program studi. Diharapkan sekitar 70% peserta dapat memenuhi standar kelulusan, dengan nilai praktik berkontribusi sebesar 40% terhadap total penilaian.
Melalui ujian keterampilan ini, UNJ tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga semangat, konsistensi, dan kesiapan peserta dalam menjalani pendidikan tinggi di bidang seni. Dosen Pendidikan Seni Rupa UNJ, Leni, menyampaikan harapannya, “Semoga mereka yang diterima dapat mengharumkan nama UNJ, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional melalui karya seni mereka.”
ditulis oleh: Hilda, Dia, Alma