
Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mempertegas komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang Good Health and Well-Being, melalui penyelenggaraan kegiatan “Sosialisasi Pusat Layanan Psikologi Bimbingan dan Konseling (PLPBK) dan Pembekalan Keterampilan Psychological First Aid (PFA)” pada Senin, 20 April 2026, di Aula Latief Hendraningrat UNJ.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Yasep Setiakarnawijaya selaku Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNJ. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesiapan dalam merespons isu kesehatan mental di lingkungan kampus.
Acara ini dihadiri oleh para purnawirawan pendiri PLPBK—yang sebelumnya dikenal sebagai UPT-LBK—serta konselor dan psikolog PLPBK, sahabat sebaya, dan perwakilan mahasiswa dari organisasi pemerintahan mahasiswa (opmawa) maupun organisasi kemahasiswaan (ormawa) di lingkungan UNJ.
Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi langkah awal kolaboratif dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan mental di kalangan civitas akademika. Di tengah kompleksitas kehidupan mahasiswa, mulai dari tuntutan akademik, dinamika organisasi, hingga persoalan sosial dan personal, kesehatan mental menjadi isu krusial yang membutuhkan perhatian serius.
PLPBK menghadirkan praktisi psikolog klinis Irma Gustiana Andriani, M.Psi., Psikolog, yang memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak stres terhadap tubuh. Ia menjelaskan bahwa stres bekerja layaknya sistem alarm yang dapat aktif secara terus-menerus, memengaruhi berbagai aspek, mulai dari otak, jantung, hingga sistem imun. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengenali tanda-tanda ketika stres mulai berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dukungan awal dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti teman sebaya, melalui ruang aman untuk berbagi cerita sebelum diarahkan pada layanan profesional.
Melalui pelatihan Psychological First Aid (PFA), peserta dibekali pemahaman bahwa pertolongan pertama pada luka psikologis tidak bertujuan menyelesaikan masalah secara instan, melainkan menghadirkan dukungan awal berupa empati, rasa aman, serta pemenuhan kebutuhan dasar individu. Pendekatan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, selama memahami batas peran—tidak memaksa, tidak menghakimi, dan tidak terburu-buru memberikan solusi.
Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan menghadirkan berbagai studi kasus yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti kelelahan akademik, trauma, hingga kesepian. Peserta diajak mengaplikasikan pendekatan look, listen, and link, yaitu mengenali tanda-tanda distress, mendengarkan secara empatik, serta menghubungkan individu dengan dukungan atau layanan yang tepat.
Sementara itu, Iriani Indri Hapsari selaku Kepala PLPBK UNJ menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi nyata UNJ dalam mendukung SDGs ke-3, yakni memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua. Ia menambahkan bahwa PLPBK terus berperan sebagai pusat layanan psikologis, pengembangan karier, serta asesmen dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Lebih lanjut Iriani Indri Hapsari mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun budaya kampus yang peduli terhadap kesehatan mental. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diperkuat kapasitasnya sebagai peer support system yang tanggap, empatik, dan responsif dalam memberikan dukungan psikologis awal, sehingga tercipta lingkungan akademik yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan, ungkap Iriani yang juga dosen Fakultas Psikologi UNJ.